Pertumbuhan Ekonomi ASEAN Diproyeksi Melorot

Tahun Ini Dunia Belum Sembuh Dari Krisis

Kamis, 28 Maret 2013, 08:00 WIB
Pertumbuhan Ekonomi ASEAN Diproyeksi Melorot
ilustrasi/ist
rmol news logo .Pergerakan ekonomi dunia ta­hun 2013 belum lebih baik di­ban­dingkan tahun lalu. Per­tum­buhan ekonomi negara-negara ASEAN dipro­yeksi mengalami penurunan, termasuk Indonesia.

Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Mar­to­wardojo mengung­kapkan, jika dilihat secara umum  perge­ra­kan ekonomi dunia 2013 terli­hat se­dikit lebih baik. Na­mun ka­lau di­lihat lebih detail, sebenar­nya belum lebih baik.

“Kalau dilihat dari sumber-sum­ber yang menjadi rujukan,  kita lihat prediksi kinerja tahun 2013 terus direvisi dari Januari 2012 sampai Januari 2013. Ter­nyata revisi yang dijalankan te­rus mengalami penurun. Padahal  bu­lan Januari sempat tinggi,  te­tapi dikoreksi dan tu­run,” kata Agus saat melantik pe­jabat ese­lon I Kementerian Keuangan di kantornya, kemarin.

Agus yang baru terpilih men­jadi Gubernur Bank Indonesia (BI) itu menyatakan, hanya ada dua ne­gara yang diproyeksi ber­potensi mengalami pertumbuhan baik tahun ini, yaitu China dan India. Sedangkan sebagian besar negara ASEAN, termasuk Indo­nesia, mengalami penu­runan. Meski­pun pemerintah mem­pro­yeksi ekonomi 2013 tumbuh se­kitar  6,8 persen.

Dia menilai, memburuk­nya eko­nomi dunia akan mem­penga­ruhi keuangan negara.  
“Harga komoditi banyak yang rendah karena pembelian sangat lemah. Hal ini tentu akan ber­dam­­­­pak pada penerimaan Indo­nesia. Kita harus waspada, teru­tama fis­kal, ada kekhawatiran da­­­lam pem­­­belian dan peneri­maan be­lanja ter­utama subsidi,” warning-nya.

Agus mengajak semua pihak bekerja lebih baik dan cer­das ka­rena tantangan saat ini jauh lebih besar. Menurutnya, ke­bijakan dan peraturan yang baik harus diper­siapkan untuk mem­per­tahankan pertumbuhan. Apa­lagi, Indonesia ingin reputasi per­tumbuhan eko­nomi selama sem­bilan kuartal di atas 6 persen ingin dipertahankan.

Direktur Institute for Develop­ment of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai, pengaruh memburuknya eko­nomi dunia sudah terlihat.

“Ekspor Indonesia stagnan ka­rena negara tujuan ekspor ekono­minya belum pulih. Pertumbuhan ekonomi semakin rentan tergang­gu karena disisi lain, impor pa­ngan dan BBM sa­ngat deras ma­suk ke Indo­nesia,” jelas Enny kepada Rakyat Merdeka.

Enny mengatakan, tidak mu­dah mensiasati tekanan ekonomi tersebut. Mengurangi impor pa­ngan tidak mungkin karena me­nyangkut kebutuhan masyarakat. Mendorong peningkatan ekspor produk dalam negeri juga tidak mudah, karena sebagian  produk belum mampu bersaing. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA