Menteri Keuangan (Menkeu) Agus MarÂtoÂwardojo mengungÂkapkan, jika dilihat secara umum pergeÂraÂkan ekonomi dunia 2013 terliÂhat seÂdikit lebih baik. NaÂmun kaÂlau diÂlihat lebih detail, sebenarÂnya belum lebih baik.
“Kalau dilihat dari sumber-sumÂber yang menjadi rujukan, kita lihat prediksi kinerja tahun 2013 terus direvisi dari Januari 2012 sampai Januari 2013. TerÂnyata revisi yang dijalankan teÂrus mengalami penurun. Padahal buÂlan Januari sempat tinggi, teÂtapi dikoreksi dan tuÂrun,†kata Agus saat melantik peÂjabat eseÂlon I Kementerian Keuangan di kantornya, kemarin.
Agus yang baru terpilih menÂjadi Gubernur Bank Indonesia (BI) itu menyatakan, hanya ada dua neÂgara yang diproyeksi berÂpotensi mengalami pertumbuhan baik tahun ini, yaitu China dan India. Sedangkan sebagian besar negara ASEAN, termasuk IndoÂnesia, mengalami penuÂrunan. MeskiÂpun pemerintah memÂproÂyeksi ekonomi 2013 tumbuh seÂkitar 6,8 persen.
Dia menilai, memburukÂnya ekoÂnomi dunia akan memÂpengaÂruhi keuangan negara.
“Harga komoditi banyak yang rendah karena pembelian sangat lemah. Hal ini tentu akan berÂdamÂÂÂÂpak pada penerimaan IndoÂnesia. Kita harus waspada, teruÂtama fisÂkal, ada kekhawatiran daÂÂÂlam pemÂÂÂbelian dan peneriÂmaan beÂlanja terÂutama subsidi,â€
warning-nya.
Agus mengajak semua pihak bekerja lebih baik dan cerÂdas kaÂrena tantangan saat ini jauh lebih besar. Menurutnya, keÂbijakan dan peraturan yang baik harus diperÂsiapkan untuk memÂperÂtahankan pertumbuhan. ApaÂlagi, Indonesia ingin reputasi perÂtumbuhan ekoÂnomi selama semÂbilan kuartal di atas 6 persen ingin dipertahankan.
Direktur Institute for DevelopÂment of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai, pengaruh memburuknya ekoÂnomi dunia sudah terlihat.
“Ekspor Indonesia stagnan kaÂrena negara tujuan ekspor ekonoÂminya belum pulih. Pertumbuhan ekonomi semakin rentan tergangÂgu karena disisi lain, impor paÂngan dan BBM saÂngat deras maÂsuk ke IndoÂnesia,†jelas Enny kepada
Rakyat Merdeka. Enny mengatakan, tidak muÂdah mensiasati tekanan ekonomi tersebut. Mengurangi impor paÂngan tidak mungkin karena meÂnyangkut kebutuhan masyarakat. Mendorong peningkatan ekspor produk dalam negeri juga tidak mudah, karena sebagian produk belum mampu bersaing. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: