Pengamat Energi dari Energy Watch Mamit Setiawan pesimis target
lifting tersebut akan terÂcapai. “Sumur-sumur yang seÂlama ini menjadi andalan sudah uzur, rasanya sulit migas yang dihasilkan akan maksimal,†kata Mamit kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Selain itu, banyak blok yang memiliki cadangan migas sampai kini belum dieksplorasi. Belum lagi, banyak perusahaan migas terkendala teknologi.
Mamit mengatakan, saat ini memang pengeboran di Blok MaÂdura menemukan banyak sumur migas baru. Tapi diprediksinya haÂsil pengembangan sumur terÂsebut tidak akan mendongkrak banyak hasil produksi.
“Saya perkirakan lifting tahun ini mentok diangka 780- 800 ribu barel per hari. Sampai seÂgitu saja saya kira sudah lumaÂyan,†katanya.
Menurutnya, untuk meningÂkatÂÂkan hasil produksi minyak saat ini tidak cukup hanya deÂngan menÂdapatkan sumur baru. Tetapi juga harus ditunjang tekÂnologi yang canggih. MasalahÂnya, untuk meÂnerapkan teknoÂlogi canggih diÂperÂlukan biaya investasi yang besar.
Dia menyarankan pemerintah membuat kebijakan untuk meÂmaÂcing datangnya investor luar neÂgeri agar sektor migas bisa diÂgenjot.
Mamit menantang Pertamina yang selama ini mengklaim seÂbaÂgai perusahaan yang sudah proÂfessional untuk menunjukkan kiÂnerjanya. “Untuk meningkatÂkan produksi minyak bila perlu PertaÂmina eksplorasi ke luar negeri,†pintanya.
Berbeda dengan Mamit, AngÂgoÂÂta Komisi VII DPR Dito GaÂnindito optimistis target bisa terÂcapai. “Targetkan sudah direvisi, seÂbelumnya ditargetkan 900 ribu barel per hari,†katanya.
Dito mengatakan, target 827 ribu barel harus tercapai. Karena target tersebut untuk memenuhi perÂmintaan dan pemenuhan keÂbuÂtuhan dalam negeri.
Deputi Pengendalian PerencaÂnaan SKK Migas Aussie B GauÂtama belum lama ini mengungÂkapÂkan pihaknya memiliki seÂjumlah rencana untuk mencapai target. Di antaranya, tujuh renÂcana survei seismic, 258 sumur eksplorasi, 1.178 sumur pengemÂbangan baru, dan 1.094 sumur yang diperbaiki kembali.
Gautama mengatakan proses perawatan sumur migas meÂmang harus terus dilaksanakan. Bila tiÂdak, dia khawatir jumlah miÂnyak yang dipompa keluar dari perut bumi hanya bisa menÂcapai 650 ribu barel per hari daÂlam tahun ini.
Dengan jumlah target produksi tersebut, pemerintah mempÂerÂhitungkan mendapat 27,9 miliar dolar AS sampai 29,5 miliar dolar AS pada tahun ini. Di sisi lain, pada proÂyeksi APBN 2013, cost recovery atau penggantian biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk para kontraktor kerja sama (KKS) diperhitungkan 15,5 miliar dolar AS.
Pendapatan untuk negara semula diharapkan 31,75 miliar dolar AS atau 85 persen dan KKS mendapat 9,79 miliar dolar AS atau 15 persen. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: