"Saya kecewa dengan ada konferensi pers seperti kemarin, entah siapa yang menggagas dengan terbuka mempertemukan itu," kata Taufik saat ditemui wartawan di sela-sela acara car free day di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (3/3).
Walau pertemuan tersebut diadakan di SMA 22, namun Taufik yakin bukan pihak sekolah yang menjadi penggagas. Menurutnya, ada pihak lain yang memaksa kepala sekolah untuk mengumpulkan media massa dan meminta Taufan untuk menjelaskan kasus tersebut.
"Bisa dibayangkan kalau anda jadi kepala sekolah, diminta melakukan konpers dan kalau tidak melakukan dianggap menutup-nutupi. Ya terpaksa sekolah mengadakan. Ya tapi kan inisiator ini sangat saya sayangkan," ujarnya.
Ia pun mengaku keterangan pers yang diberikan Taufan dengan didampingi oleh Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA), Arist Merdeka Sirait tersebut tidak diketahui olehnya.
Menurut Taufik dengan mengadakan konferensi pers di lingkungan sekolah maka kegiatan belajar mengajar dan konsentrasi pelajar akan terganggu. Apalagi para siswaa-siswi SMAN 22 akan menghadapi Ujian Nasional sekitar satu setengah bulan lagi.
"Kalau ada orang yang lagi kena masalah, kumpul ramai-ramai disekolah, ini memberikan dampak pada situasi belajar di kelas," katanya.
Ia pun berjanji akan memanggil kepala sekolah SMA 22 untuk dimintai keterangannya terkait dengan pertemuan tersebut. Kalau perlu kata Taufik, jika bersalah kepala sekolah SMA 22 pun akan diberi sanksi tegas. [wid]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BACA JUGA: