Volume BBM Subsidi Jebol Terus Kementerian ESDM Siap Dihujat

Pemerintah Mestinya Perketat Pengawasan Pengendalian Bensin

Jumat, 11 Januari 2013, 08:07 WIB
Volume BBM Subsidi Jebol Terus Kementerian ESDM Siap Dihujat
Kementerian ESDM
Kecil Besar
rmol news logo .Program pengendalian bahan bakar minyak (BBM) subsidi belum menunjukkan hasil maksimal. Volume konsumsi tahun lalu malah terus-terusan jebol dan anggaran yang dikeluarkan makin membengkak.

Wakil Menteri Energi Sumber Da­ya Mineral (ESDM) Rudi Ru­biandini menegaskan, pihaknya siap disalahkan terkait program tersebut. Namun, pengendalian BBM subsidi akan tetap dila­ku­kan terhadap kendaraan dinas pe­­merintah yang mulai diber­la­kukan awal tahun ini.

“Kami sih terima saja disa­lah­kan,” kata Rudi, kemarin.

Menurut dia, jika tidak ingin di­salahkan, lebih baik kemen­te­rian tidak membuat program apa­­pun. “Jika ada pihak yang meng­hujat, cukup diterima dengan hati terbuka,” imbuhnya.

Kesiapan Kementerian ESDM siap dihujat itu menanggapi per­nyataan Kepala Badan Ke­bijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Bambang Brodjone­goro yang menyebut kebijakan pembatasan BBM subsidi yang digembar-gemborkan Kemen­terian ESDM tahun lalu tidak maksimal dampaknya.

Jika menengok tahun lalu, su­dah ada beberapa skema pe­ngen­dalian yang dijalankan Ke­men­terian ESDM. Seperti pe­lara­ngan mobil dinas peme­rintah ‘mi­num’ bensin subsidi, BUMN dan BUMD meng­kon­sumsi BBM bersubsidi lewat sistem stiker.

Kemudian mela­rang kendara­an operasional di wilayah tam­bang dan perkebunan mengkon­sumsi BBM subsidi. Namun, kebijakan ini tidak mem­bawa dampak ke­pada penghe­matan konsumsi BBM subsidi.

“Jangan cuma sekadar janji, mau mengendalikan ini-itu, tapi ti­dak ada efeknya,” cetus Bambang.

Tahun lalu, pemerintah harus melakukan dua kali penambahan kuota BBM bersubsidi. Awalnya disediakan kuota BBM subsidi 40 juta kiloliter (KL), kemudian di­lakukan penambahan 4,04 juta KL dan ditambah lagi 1,2 juta KL sehingga realisasi tahun lalu 45 juta KL.

Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo juga memin­ta Kementerian ESDM serius me­ningkatkan pengendalian peng­gu­naan BBM subsidi. “Pengen­dalian BBM harus dapat dilakukan lebih baik dan konkret. Pembatasan ha­rus ditingkatkan, inisiatifnya ini ada di ESDM,” kata Agus.

Agus juga menegaskan, tahun ini tidak ada rencana menaikkan harga BBM subisidi.

Menteri ESDM Jero Wacik te­tap optimis dengan terus ber­upa­ya menjaga besaran volume peng­gunaan BBM subsidi seba­gai­­mana ditetapkan APBN dengan menge­luarkan Peraturan Menteri ESDM No.1 Tahun 2013 Ten­tang Pengendalian Penggunaan Bahan Bakar Minyak yang ber­laku sejak 2 Januari 2013.

Anggota Komisi VII DPR Teuku Riefky Harsya meminta peme­rin­­tah memperketat penga­wasan penggunaan BBM bersub­sidi. Ia menyayangkan kinerja Ke­men­te­rian ESDM yang masih sangat buruk. “Kuota BBM ber­subsidi tahun 2012 lebih rendah diban­ding proyeksi dalam APBN Peru­bahan 2011 sebesar 40,4 juta KL. Tapi kok bisa berkali-kali je­bol, peme­rintah dua kali meng­ajukan pe­nambahan kuota BBM bersub­sidi,” kata Riefky. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA