Mendag Kaji Penurunan Bea Keluar Untuk CPO

Jumat, 11 Januari 2013, 07:57 WIB
Mendag Kaji Penurunan Bea Keluar Untuk CPO
ilustrasi, sawit
Kecil Besar
rmol news logo .Menteri Perdagangan (Men­dag) Gita Wirjawan berjanji akan mempertimbangkan penu­runan bea keluar CPO (Crude Palm Oil/minyak sawit mentah).

“Akan kita pertimbangkan, memang Malaysia sudah me­nurunkan sampai nol persen, kita akan coba. Sekarang sudah 7,5 persen, nanti akan kita coba dulu,” ujar Gita kepada war­ta­wan di Jakarta, kemarin.

Menurut Gita, penurunan bea keluar CPO tersebut bertujuan untuk menjaga pasar-pasar uta­ma CPO Indonesia yang tengah terancam direbut Malaysia

Sebelumnya, Pengusaha sa­wit Indonesia mengaku tahun 2012 iklim bisnis tidak terlalu cerah. Secara rata-rata, harga minyak sawit mentah CPO dan produk turunannya anjlok 12 persen.

“2012 memang tidak terlalu cerah bagi industri sawit, ter­utama harga. Persoalan harga adalah penyebab lesunya in­dustri sawit. Sepanjang tahun lalu harga CPO menurun sejak Juni dengan rata-rata 999 dolar AS,” kata Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Joko Supriyono di Jakarta, kemarin.

Dia juga mengingatkan agar pemerintah mewaspadai lang­kah Malaysia yang memang­kas pa­jak ekspor produk mi­nyak sawit mentah yang resmi diber­lakukan Januari 2013. Pa­salnya, pemang­kasan itu berpo­tensi memba­hayakan kemajuan in­dustri sawit Indo­nesia.

Perlu diketahui, saat ini pajak ekspor baru CPO di Malaysia hanya 4,5-8 persen, jauh di ba­wah ketentuan pajak atau bea keluar sawit Indonesia.

“Ini mesti dicermati. Indone­sia pajak ekspor masih 7-22,5 persen. Kita bisa kalah dan ke­hi­la­ngan pasar,” ungkap Joko.

Jika kebijakan Negeri Jiran tersebut tidak segera dianti­si­pasi, menurut dia, Indonesia bi­­sa saja kehilangan pasar pro­duk CPO. Sebut saja India dan Pa­kistan yang merupakan dua ne­gara yang saat ini ada­lah im­portir terbesar produk CPO asal Indonesia.

“Pasar kita paling besar India dan Pakistan untuk CPO. Kita khawatir dimakan Malaysia. Selain itu kita harus antisipasi un­tuk mendorong pemakaian di dalam negeri. Biodiesel adalah peluang terbaik dan potensial di dalam negeri. Ini bisa menyerap konsumsi do­mes­tik,” ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA