.Pengusaha sawit Indonesia mengaku tahun 2012 iklim bisnis tidak terlalu cerah. Secara rata-rata, harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan produk turunannya anjlok 12 persen.
“2012 memang tidak terlalu cerah bagi industri sawit, terutama harga. Persoalan harga adalah penyebab lesunya industri sawit. Sepanjang tahun lalu harga CPO menurun sejak Juni dengan rata-rata 999 dolar AS,†kata Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Joko SuÂpriyono di Jakarta, kemarin.
Dia menjelaskan, pada 2011 sampai Mei 2012 industri sawit masih menikmati rata-rata harga 1.126 dolar AS.
Dari pantauan Gapki, penyeÂbab turunnya harga ini lantaran rendahnya permintaan dari negara tujuan ekspor China, Eropa dan Amerika Utara. AkiÂbatnya, nilai ekspor sawit turut meÂlemah. Pada 2011, CPO meÂnyumbang 21 miliar dolar AS. NaÂmun tahun lalu sampai DesemÂber diperkirakan penÂdapatan ekspor sawit mencapai 20 miliar dolar AS.
“Kita masih belum mendapat data resmi pemerintah, tapi dari data yang kita kumpulkan kemungkinan tahun lalu nilai ekspor kita turun 4,2 persen dibanding 2011,†ungkap Joko.
Meski cenderung lesu, dia mengaku yang positif dari kinerja industri sawit tanah air sepanjang 2012 adalah volume produksi tertinggi sepanjang sejarah mencapai 26 juta ton. Dari jumlah itu, yang diekspor 18 juta ton. “Jumlah itu sudah termasuk produk turunan CPO, yaitu biodiesel dan olein,†ujarnya.
Dia juga mengingatkan agar pemerintah mewaspadai langkah Malaysia yang memangkas pajak ekspor produk minyak sawit mentah yang resmi diberlakukan Januari 2013. Pasalnya, peÂmangkasan tersebut berpotensi membahayakan kemajuan inÂdustri sawit Indonesia.
Perlu diketahui, saat ini pajak ekspor baru CPO di Malaysia hanya 4,5-8 persen, jauh di bawah ketentuan pajak atau bea keluar sawit Indonesia.
“Ini mesti dicermati. Indonesia pajak ekspor masih 7-22,5 persen. Kita bisa kalah dan kehilangan pasar,†ungkap Joko.
Jika kebijakan Negeri Jiran tersebut tidak segera diantisipasi, menurut dia, Indonesia bisa saja kehilangan pasar produk CPO. Sebut saja India dan Pakistan yang merupakan dua negara yang saat ini adalah importir terbesar produk CPO asal Indonesia.
Indonesia biasanya ekspor 5,5-7 juta ton per tahun dalam bentuk CPO ke India sedangkan untuk Pakistan 600.000 ton. Joko meÂnilai, harus ada upaya signiÂfikan yang harus dilakukan pemeÂrintah mencermati kejadian ini.
“Pasar kita paling besar India dan Pakistan untuk CPO. Kita khawatir dimakan Malaysia. Selain itu kita harus antisipasi untuk mendorong pemakaian di dalam negeri. Biodiesel adalah peluang terbaik dan potensial di dalam negeri. Ini bisa menyerap konsumsi doÂmestik,†ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: