.Indonesia belum bisa lepas dari bayang-bayang impor. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor pangan per November 2012 mencapai 1,8 juta ton atau senilai 921 juta dolar AS.
Ketua Dewan Hortikultura Nasional Benny Kusbini mengaÂtakan, tingginya impor pangan menunjukkan ketergantungan nasional terhadap luar negeri di bidang pangan terlalu tinggi.
Menurutnya, turunnya proÂdukÂsi kedelai AS akibat kekeringan tahun lalu berimbas besar kepada IndoÂnesia. Kondisi ini sungguh meÂmiÂlukan sekaligus memalukan InÂdoÂnesia yang selama ini memÂbangÂgakan diri sebagai negara berÂtanah subur dan luas.
“Ini menjadi keprihatinan kita. Indonesia selalu menjadi market luar negeri,†sesal Benny kepada Rakyat Merdeka, Jumat (4/1).
Dia menilai, pemerintah harus meningkatkan upaya mewujudÂkan ketahanan pangan berbasis proÂduksi dalam negeri dan tidak lagi mengandalkan impor serta berÂgantung kepada produk paÂngan luar negeri. Indonesia harus memÂbenahi pembangunan pertanian.
Dikatakan, meningÂkatnya imÂpor pangan memunÂculÂkan tanda tanya di negeri yang kaÂya ini. Seolah ada yang dengan sengaja menghambat Indonesia untuk mandiri dalam urusan pangan.
“Ada intrik-intrik politik daÂlam penganggaran di DPR. KepenÂtingan politik ikut bermain. Ada mafia pangan yang masih jaÂdi raÂja dalam menentukan keÂbijakan pangan kita,†tegasnya.
Ketua Komisi IV DPR RomaÂhurÂmuziy juga geram dengan perÂmasalahan produksi pangan nasional.
“Bagi Indonesia, pangan harus dipenuhi dalam negeri meski biaya pengadaannya lebih mahal daripada impor. Sebab, sektor perÂÂtanian menghidupi 33 persen angkatan kerja nasional. Karena itu, kenaikan impor pangan perlu diwaspadai, jenis, jumlah dan waktu impornya,†katanya.
Dia mengatakan, membangun swaÂsembada pangan memang perÂlu kerja keras dan waktu lama. ApaÂlagi Indonesia didukung sumber daya melimpah, iklim tropis, penÂduduk agraris dan pasar besar.
Anggota Komisi IV DPR Ma’mur Hasanuddin menambahÂkan, pemerintah harus cermat meÂÂlihat seluruh angka importasi beÂras terhadap kemampuan proÂduksi dalam negeri, karena pada daÂsarnya akan mempengaruhi strukÂtur stok perberasan nasional.
Menurut Ma’mur, Bulog mengÂklaim serapannya melamÂpaui tarÂget 3,6 juta ton, begitupun dengan Kementerian Pertanian yang meÂnyatakan surplus beras mencapai 5,73 juta ton, namun mengapa angka impor beras tetap tinggi.
“Seharusnya kenaikan proÂdukÂÂsi dan serapan beras berÂbanding luÂrus dengan penurunan secara drasÂtis terhadap importasi beras. KaÂrena itu, perlu sistem yang terÂintegrasi antara proÂdukÂsi, disÂtribusi dan konsumsi beras secara nasional, sehingga seluÂruh proses dari hulu sampai hilir dapat diÂmonitor dengan baik,†ucap Ma’mur. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: