.Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sudah menyelesaikan audit impor beras. Sayangnya, lembaga auditor negara itu masih menutup rapat hasil audit tersebut. Ada apa ya?
Anggota BPK Ali Masykur MuÂsa mengaku audit impor beras sudah selesai. Saat ini pihaknya tinggal menyusun laporan. “TingÂgal rumuskan LPH (Laporan HaÂsil Pemeriksaan),†ujar Ali meÂlalui account twitter-nya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Namun, bekas anggota DPR ini belum mau memÂbeÂriÂtahukan kaÂpan hasil laporan audit impor beÂras akan diumumÂkan. Padahal, sebelumnya dia meÂÂnegaskan akan menguÂmumÂkan hasil audit impor beras akhir tahun 2012. NaÂmun, hingga kini laporannya belum juga selesai.
Dalam beberapa kesempatan, Ali menjelaskan, alasan pihaknya melakukan audit impor beras. SeÂlama ini, kebijakan yang diambil pemerintah itu sering menimÂbulÂkan polemik. Karena itu, pihakÂnya melakukan audit untuk meÂngetahui ada penyimÂpangan atau tidak dalam kebijakan impor. FoÂkus audit tersebut menÂcakup peÂnerapan kebijakan impor beras oleh peÂmerintah sepanjang 2012.
Ali menÂjelaskan, audit dimakÂsudÂkan unÂtuk menganalisa beÂberapa komÂponen dalam kebiÂjaÂkÂÂan imÂpor beras. Terutama daÂlam peÂngadaan, kesesuaian imÂpor deÂngan kebijakan ketahanan pangan serta peran importir di balik imÂpor beras.
“Apalagi kran impor dibuka lebar-lebar justru saat petani meÂmasuki musim panen. AkiÂbatÂnya, stok beras melimpah seÂhingga harga anjlok,†kata Ali.
Wakil Ketua Komisi IV DPR Firman Soebagyo menyambut baik langkah BPK yang sudah menyelesaikan audit impor beÂras. Dia, berharap hasil audit terÂsebut bisa menemukan fakta riil di lapangan yang selama ini dilaÂporkan petani.
“BPK harus transparan dalam hasil auditnya itu karena akan menÂjadi dasar perbaikan daÂlam keÂgiaÂtan impor beras. Jangan meÂnutupi hasilnya, apalagi baÂnyak keluhÂan-keluhan dari peÂtani soal keÂbijakan impor beras itu,†kata Firman keÂpada Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut dia, saat ini banyak maÂsyarakat yang melaporkan beÂras impor yang digunakan untuk beras rakyat miskin (raskin) kuaÂlitasnya sangat jelek. Padahal, angÂÂgaran untuk memenuhi kebuÂtuhan raskin itu mencapai Rp 16-Rp 17 triÂliun untuk 2011 dan seÂtelah diÂhitung terÂnyata melonjak menjadi Rp 21 triliun. SedangÂkan untuk angÂgaran raskin 2012 diÂtetapkan Rp 15 triliun.
“Angkanya memang mengaÂlami penurunan, tapi itu belum perhitungan semuanya. DiperÂkiÂrakan bisa melonjak lagi seperti tahun 2011,†papar Firman
Politisi Partai Golkar ini meÂngaku bingung dengan kebijakÂan impor beras yang selama ini diÂlakukan pemerintah. Setiap rapat dengan DPR, pemerintah selalu mengaku produksi beras nasional mengalami surplus dan penyeÂrapannya tinggi. Tapi, keÂnyataÂannya hampir setiap tahun meÂreka terus impor deÂngan alasan menjaga stok.
“Setiap sesuatu yang terkait dengan impor komoditas pasti daÂtanya dibuat grey area. ApaÂlagi bisÂnis impor beras mengÂgiÂurÂkan karena anggaranÂnya beÂsar,†tegas Firman.
Menurut dia, untuk menjaga stok pemerintah tidak perlu imÂpor. Yang harus dilakukan adaÂlah memerintah Bulog meÂnyerap beÂras petani saat musim panen. Saat ini terjadi kegelisahan di kaÂlaÂngan petani karena kabarnya guÂdang-gudang Bulog penuh seÂhingga tidak akan banyak meÂnyerap beras panen petani.
Perum Bulog selaku pihak yang ditugasi oleh pemerintah belum berkomentar. Direktur Utama Bulog Sutarto Alimoeso belum bisa dihubungi. SebeÂlumnya, Sutarto pernah menyaÂtakan menyambut baik audit impor beras dan diharapkan bisa menÂjadi perbaikan dan masukan baÂgi pemerintah dan Bulog.
“Kebijakan impor beras adaÂlah kebijakan pemerintah. KepuÂtusan BPK mengaudit kebijakan imÂpor beras adalah keinginan BPK untuk melihat seberapa jauh keÂbijakan itu berjalan, jadi kami sambut baik,†katanya.
Menurut Sutarto, inisiatif BPK mengaudit kegiatan impor beÂras merupakan langkah poÂsitif dan Bulog akan kooperatif menangÂgapinya. “Hasilnya akan menjadi baÂhan penting untuk kebijakan imÂpor beras ataupun swasemÂbada pangan ke deÂpan,†ujar Sutarto. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: