Audit Impor Beras Rampung BPK Diminta Beberin Ke Publik

DPR Bingung, Setiap Data Impor Komoditas Selalu Dibuat Grey Area

Kamis, 03 Januari 2013, 08:17 WIB
Audit Impor Beras Rampung BPK Diminta Beberin Ke Publik
ilustrasi, beras
Kecil Besar
rmol news logo .Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sudah menyelesaikan audit impor beras. Sayangnya, lembaga auditor negara itu masih menutup rapat hasil audit tersebut. Ada apa ya?

Anggota BPK Ali Masykur Mu­sa mengaku audit impor beras sudah selesai. Saat ini pihaknya tinggal menyusun laporan. “Ting­gal rumuskan LPH (Laporan Ha­sil Pemeriksaan),” ujar Ali me­lalui account twitter-nya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Namun, bekas anggota DPR ini belum mau mem­be­ri­tahukan ka­pan hasil laporan audit impor be­ras akan diumum­kan. Padahal, sebelumnya dia me­­negaskan akan mengu­mum­kan hasil audit impor beras akhir tahun 2012. Na­mun, hingga kini laporannya belum juga selesai.

Dalam beberapa kesempatan, Ali menjelaskan, alasan pihaknya melakukan audit impor beras. Se­lama ini, kebijakan yang diambil pemerintah itu sering menim­bul­kan polemik. Karena itu, pihak­nya melakukan audit untuk me­ngetahui ada penyim­pangan atau tidak dalam kebijakan impor. Fo­kus audit tersebut men­cakup pe­nerapan kebijakan impor beras oleh pe­merintah sepanjang 2012.

Ali men­jelaskan, audit dimak­sud­kan un­tuk menganalisa be­berapa kom­ponen dalam kebi­ja­k­­an im­por beras. Terutama da­lam pe­ngadaan, kesesuaian im­por de­ngan kebijakan ketahanan pangan serta peran importir di balik im­por beras.

“Apalagi kran impor dibuka lebar-lebar justru saat petani me­masuki musim panen. Aki­bat­nya, stok beras melimpah se­hingga harga anjlok,” kata Ali.

Wakil Ketua Komisi IV DPR Firman Soebagyo menyambut baik langkah BPK yang sudah menyelesaikan audit impor be­ras. Dia, berharap hasil audit ter­sebut bisa menemukan fakta riil di lapangan yang selama ini dila­porkan petani.

“BPK harus transparan dalam hasil auditnya itu karena akan men­jadi dasar perbaikan da­lam ke­gia­tan impor beras. Jangan me­nutupi hasilnya, apalagi ba­nyak keluh­an-keluhan dari pe­tani soal ke­bijakan impor beras itu,” kata Firman ke­pada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut dia, saat ini banyak ma­syarakat yang melaporkan be­ras impor yang digunakan untuk beras rakyat miskin (raskin) kua­litasnya sangat jelek. Padahal, ang­­garan untuk memenuhi kebu­tuhan raskin itu mencapai Rp 16-Rp 17 tri­liun untuk 2011 dan se­telah di­hitung ter­nyata melonjak menjadi Rp 21 triliun. Sedang­kan untuk ang­garan raskin 2012 di­tetapkan Rp 15 triliun.

“Angkanya memang menga­lami penurunan, tapi itu belum perhitungan semuanya. Diper­ki­rakan bisa melonjak lagi seperti tahun 2011,” papar Firman

Politisi Partai Golkar ini me­ngaku bingung dengan kebijak­an impor beras yang selama ini di­lakukan pemerintah. Setiap rapat dengan DPR, pemerintah selalu mengaku produksi beras nasional mengalami surplus dan penye­rapannya tinggi. Tapi, ke­nyata­annya hampir setiap  tahun me­reka terus impor de­ngan alasan menjaga stok.

“Setiap sesuatu yang terkait dengan impor komoditas pasti da­tanya dibuat grey area. Apa­lagi bis­nis impor beras meng­gi­ur­kan karena anggaran­nya be­sar,”  tegas Firman.

Menurut dia, untuk menjaga stok pemerintah tidak perlu im­por. Yang harus dilakukan ada­lah memerintah Bulog me­nyerap be­ras petani saat musim panen. Saat ini terjadi kegelisahan di ka­la­ngan petani karena kabarnya gu­dang-gudang Bulog penuh se­hingga tidak akan banyak me­nyerap beras panen petani.

Perum Bulog selaku pihak yang ditugasi oleh pemerintah belum berkomentar. Direktur Utama Bulog Sutarto Alimoeso belum bisa dihubungi. Sebe­lumnya, Sutarto pernah menya­takan menyambut baik audit impor beras dan diharapkan bisa men­jadi perbaikan dan masukan ba­gi pemerintah dan Bulog.

“Kebijakan impor beras ada­lah kebijakan pemerintah. Kepu­tusan BPK mengaudit kebijakan im­por beras adalah keinginan BPK untuk melihat seberapa jauh ke­bijakan itu berjalan, jadi kami sambut baik,” katanya.

Menurut Sutarto, inisiatif BPK mengaudit kegiatan impor be­ras merupakan langkah po­sitif dan Bulog akan kooperatif menang­gapinya. “Hasilnya akan menjadi ba­han penting untuk kebijakan im­por beras ataupun swasem­bada pangan ke de­pan,” ujar Sutarto. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA