19 SPBG Yang Mau Dibangun Masih Terkatung-katung Tuh...

Sejak Perencanaan, Konversi BBM Ke BBG Nggak Jelas

Senin, 31 Desember 2012, 08:04 WIB
19 SPBG Yang Mau Dibangun Masih Terkatung-katung Tuh...
ilustrasi, SPBG
Kecil Besar
rmol news logo .Pelaksanaan program Konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) dinilai tidak jelas.

Wakil Direktur Reforminer Ins­titute Komaidi Notonegoro me­ngungkapkan, program kon­versi BBM ke BBG sudah gagal sejak perencanaan lantaran tidak ada keseriusan pemerintah. Pa­salnya, hingga kini program ber­jalan, pemerintah belum me­nyiapkan blue print.

“Blue print dari program ini be­lum ada. Idealnya kebijakan dan roadmap program itu ditu­runkan dari blue print. Karena belum siapnya ini, menjadi sulit me­nentukan aspek pengang­gar­an, kemudian menjadi bi­ngung apa yang harus diker­jakan,” jelas Komaidi di Jakarta, kemarin.

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik me­ngaku pelaksanaan konversi itu masih sulit direalisasikan akibat dihambat berbagai per­soalan. Padahal, program tersebut meru­pakan salah satu program utama­nya di tahun 2012.

“Pelaksanaan program kon­versi BBM ke BBG masih sulit direalisasikan. Apalagi bengkel dan sumber daya manusia yang dapat menerapkan converter kit di kendaraan bermotor masih terbatas,” ucap Wacik.

Menurut dia, minimnya keter­se­diaan bengkel dan sumber da­ya manusia (SDM) juga meng­akibat­kan im­por converter kit belum bisa di­lakukan meski tender su­dah di­lakukan.

Selain itu, pe­ngang­garan impor barang itu yang tidak bisa multi years juga menye­babkan pihak­nya harus mengu­lang proses im­por di 2013. Ter­masuk, dalam hal pemba­ngunan Stasiun Peng­isian Bahan Bakar Gas (SPBG) masih men­jadi kendala.

Sekedar informasi, dalam APBN-P 2012 telah dialokasikan dana program konversi BBM ke BBG Rp 1,8 triliun. Dana itu un­tuk pembangunan 33 SPBG dan pengadaan 14 ribu converter kit yang saat ini masih proses tender.

“Soal perizinan lahan tidak bi­sa dilakukan dengan cepat. Ka­rena ini menyangkut tanah, pa­ling tidak proses perizinannya memakan waktu satu tahun. Itu juga hambatannya,” ujar Wacik.

Mestinya, kata dia, program yang bertujuan untuk menghemat BBM bersubsdi itu terlak­sana Sep­tember dan Oktober lalu. Ke de­pannya, Kementerian ESDM akan mendorong pihak swasta lebih aktif berpartisipasi melak­sanakan prog­ram konversi itu.

Vice President Corporate Com­munication Pertamina Ali Mun­dakir meminta pemerintah serius menjalankan program pengalihan BBM ke BBG menggunakan converter kit. “Kita tunggu saja ke­pu­tusanya bagaimana dari pe­me­rin­tah. Seharusnya ada ke­seriusan dan roadmap yang jelas,” ujar Ali.

Dia mengatakan, 19 SPBG yang rencananya akan dibangun untuk memenuhi kebutuhan BBG kendaraan warga Jakarta masih terkatung-katung. Bahkan dana yang mencapai Rp 1,8 triliun yang telah dianggarkan pada 2012 tidak jelas nasibnya.

“Dana anggaran tahun 2012 se­besar Rp 1,8 triliun masih be­lum jelas apa bisa di-carry over atau tidak. Tapi di tahun 2013 ini pe­merintah juga telah mengang­gar­kan Rp 470 miliar untuk pem­bangunan infrastruk­tur pipa,” terang Ali.

Kendati begitu, Pertamina ti­dak putus asa dan tetap mem­ba­ngun satu SPBG yang didanai kantong sendiri. Ke depan, Per­tamina juga akan membangun tiga SPBG lainnya di wilayah DKI Jakarta. “Kita akan terus mem­bangun infrastruktur walau­pun pasarnya belum terbentuk,” ujar Ali. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA