.Pelaksanaan program Konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) dinilai tidak jelas.
Wakil Direktur Reforminer InsÂtitute Komaidi Notonegoro meÂngungkapkan, program konÂversi BBM ke BBG sudah gagal sejak perencanaan lantaran tidak ada keseriusan pemerintah. PaÂsalnya, hingga kini program berÂjalan, pemerintah belum meÂnyiapkan blue print.
“Blue print dari program ini beÂlum ada. Idealnya kebijakan dan roadmap program itu dituÂrunkan dari blue print. Karena belum siapnya ini, menjadi sulit meÂnentukan aspek pengangÂgarÂan, kemudian menjadi biÂngung apa yang harus dikerÂjakan,†jelas Komaidi di Jakarta, kemarin.
Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik meÂngaku pelaksanaan konversi itu masih sulit direalisasikan akibat dihambat berbagai perÂsoalan. Padahal, program tersebut meruÂpakan salah satu program utamaÂnya di tahun 2012.
“Pelaksanaan program konÂversi BBM ke BBG masih sulit direalisasikan. Apalagi bengkel dan sumber daya manusia yang dapat menerapkan converter kit di kendaraan bermotor masih terbatas,†ucap Wacik.
Menurut dia, minimnya keterÂseÂdiaan bengkel dan sumber daÂya manusia (SDM) juga mengÂakibatÂkan imÂpor converter kit belum bisa diÂlakukan meski tender suÂdah diÂlakukan.
Selain itu, peÂngangÂgaran impor barang itu yang tidak bisa multi years juga menyeÂbabkan pihakÂnya harus menguÂlang proses imÂpor di 2013. TerÂmasuk, dalam hal pembaÂngunan Stasiun PengÂisian Bahan Bakar Gas (SPBG) masih menÂjadi kendala.
Sekedar informasi, dalam APBN-P 2012 telah dialokasikan dana program konversi BBM ke BBG Rp 1,8 triliun. Dana itu unÂtuk pembangunan 33 SPBG dan pengadaan 14 ribu converter kit yang saat ini masih proses tender.
“Soal perizinan lahan tidak biÂsa dilakukan dengan cepat. KaÂrena ini menyangkut tanah, paÂling tidak proses perizinannya memakan waktu satu tahun. Itu juga hambatannya,†ujar Wacik.
Mestinya, kata dia, program yang bertujuan untuk menghemat BBM bersubsdi itu terlakÂsana SepÂtember dan Oktober lalu. Ke deÂpannya, Kementerian ESDM akan mendorong pihak swasta lebih aktif berpartisipasi melakÂsanakan progÂram konversi itu.
Vice President Corporate ComÂmunication Pertamina Ali MunÂdakir meminta pemerintah serius menjalankan program pengalihan BBM ke BBG menggunakan converter kit. “Kita tunggu saja keÂpuÂtusanya bagaimana dari peÂmeÂrinÂtah. Seharusnya ada keÂseriusan dan roadmap yang jelas,†ujar Ali.
Dia mengatakan, 19 SPBG yang rencananya akan dibangun untuk memenuhi kebutuhan BBG kendaraan warga Jakarta masih terkatung-katung. Bahkan dana yang mencapai Rp 1,8 triliun yang telah dianggarkan pada 2012 tidak jelas nasibnya.
“Dana anggaran tahun 2012 seÂbesar Rp 1,8 triliun masih beÂlum jelas apa bisa di-carry over atau tidak. Tapi di tahun 2013 ini peÂmerintah juga telah mengangÂgarÂkan Rp 470 miliar untuk pemÂbangunan infrastrukÂtur pipa,†terang Ali.
Kendati begitu, Pertamina tiÂdak putus asa dan tetap memÂbaÂngun satu SPBG yang didanai kantong sendiri. Ke depan, PerÂtamina juga akan membangun tiga SPBG lainnya di wilayah DKI Jakarta. “Kita akan terus memÂbangun infrastruktur walauÂpun pasarnya belum terbentuk,†ujar Ali. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: