.Kementerian Pertanian (Kementan) mengaku masih terjadi defisit ketersediaan pangan tahun depan. Untuk itu, impor pangan akan dilanjutkan.
“Defisit masih terjadi pada sekÂtor tanaman pangan, hortiÂkulÂtura dan peternakan. SemenÂtara terjadi surplus di sektor perÂkeÂbunan dan pertanian,†kata MenÂteri Pertanian (Mentan) SusÂwono di Jakarta, Jumat (28/12).
Menteri asal Partai Keadilan SejahÂtera (PKS) itu menyatakan, sektor pertanian memberikan konÂtribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2012 sebesar 15,14 persen. KonÂtribusi itu berasal dari sektor perÂtanian, peternakan dan perikanan.
Data Kementan menunjukkan, padi tetap menjadi tanaman faÂvorit petani Indonesia. Tahun ini, produksi padi mencapai 40,105 juta ton sementara konÂsumsi haÂnya 34,371 juta ton. TerÂkait impor beras, KemenÂtan beralasan impor dipengaruhi stok pangan yang ada di Perum Bulog.
Pada 2012, penyerapan pangan oleh Bulog lebih baik dari tahun sebelumnya. Saat ini Bulog meÂmiÂliki stok beras 1,3 juta ton dan akan mengimpor 700 ribu ton beras unÂtuk mencukupi kuota 2 juta ton.
Mengenai kedelai, saat ini InÂdonesia memiliki 700 ribu hektar lahan kedelai. Namun, produksi kedelai mengalami penurunan kaÂrena harga jual kedelai rendah. Di 2012, total produksi kedelai haÂnya 783 ribu ton, sedangkan konsumsi kedelai 2,283 juta ton. Defisit 1,499 juta ton kedelai diÂpenuhi lewat impor.
Penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian juga mengalami penurunan dari 39,330 juta orang pada 2011 menjadi 38,88 juta orang pada 2012. Hal ini berÂkaitÂan dengan adanya konÂvenÂsi lahan dan rendahnya minat maÂsyarakat untuk bertani.
Di sektor peternakan, pada DeÂsember 2012 terdapat pasokan daging sapi 50.874 ton, semenÂtara angka konsumsi hanya 39.045 ton. Dengan surplus daÂging sapi 11.834 ton ini, ke depan besaran impor daging sapi makÂsimal 10 persen dari total kebutuhan.
Suswono mengatakan, target proÂduksi padi pada 2013 sebesar 72,6 juta ton. Itupun sangat terÂgantung pada konvensi lahan dan perubahan iklim. Dibanding 2012, ditargetkan ada peningkaÂtan produksi padi 4,5 persen.
“Saat ini harga padi di IndoÂnesia tertinggi di ASEAN, petani bisa mendapatkan 24 juta rupiah dari 1 hektar lahan padi,†papar Suswono.
Menurut dia, produksi kedelai ditargetkan berkisar 1,5 juta ton pada tahun 2013. Padahal proÂdukÂÂsi kedelai tahun ini hanya 783 ribu ton. Selain itu, luas area laÂhan kedelai akan ditambah dan diberi subsidi benih dari KeÂmentan.
Untuk itu, Kementan menarÂgetÂkan terjadi peningkatan inÂvestasi sektor pertanian. TargetÂnya, peningkatan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) 20 persen dan Penanaman Modal Asing (PMA) 10 persen.
Sementara untuk menunjang investasi tersebut, Suswono meÂngaku pihaknya sudah membeÂrikan usulan moratium kepada Presiden mengenai alih fungsi lahan. Pada 2013, akan ada perÂbaikan irigasi untuk pertanian dengan anggaran Rp 21 triliun. Anggaran tersebut berasal dari Kementan Rp 3 triliun dan seleÂbihnya berasal dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Pada 2013, akan dilakukan imÂpor daging sapi 80 ribu ton, yang terdiri 60 persen daging sapi baÂkalan dan 40 persen daging beku. Impor daging sapi dilakuÂkan unÂtuk menjaga stabilitas harga.
Ketua Hubungan Antar LemÂbaga Dewan Kedelai Nasional Muchlisin menyayangkan langÂkah pemerintah yang masih membuka keran impor pangan deÂngan alasan produksi nasional masih belum bisa memenuhi permintaan dalam negeri.
“Kebijakan impor akan memÂbuat petani malas meningkatkan produksinya. Karena itu, target peningkatan produksi sulit diÂcapai dan kita akan terus impor,†kata Muchlisin kepada Rakyat MerdeÂka, kemarin.
Menurut Muchlisin, yang haÂrus dilaÂkukan pemerintah adalah memÂberikan subsidi dan adanya keberÂpihakan untuk meningÂkatÂkan proÂduksi pangan dalam neÂgeri. Saat ini Indonesia sudah keÂtergantungan terhadap pangan impor dan itu sangat mengÂkhaÂwatirkan.
Untuk diketahui, defisit pangan Indonesia tahun lalu mencapai 9,24 miliar dolar AS atau menÂdekati Rp 90 triliun. Pada 2011, voÂlume impor beras, jagung, ganÂdum, kedelai, gula, susu dan daÂging mencapai 17,6 juta ton seÂnilai 9,4 miliar dolar AS. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: