.Untuk menjamin pasokan BBM subsidi jelang libur Tahun Baru, PT Pertamina (Persero) menambah impor BBM subsidi hingga 730.000 kiloliter (KL).
Vice President Corporate ComÂmunication Pertamina Ali MunÂdakir mengatakan, tambahan impor BBM tersebut untuk meÂngantisipasi meningkatnya konÂsumsi BBM di H-3 dan H+7 menjelang akhir tahun.
“Impornya untuk premium 430.000 KL dan 300.000 KL unÂtuk solar,†ujar Ali di Jakarta, kemarin.
Pemerintah melalui KemenÂteÂrian Energi Sumber Daya MiÂneral (ESDM) menetapkan kuoÂta BBM bersubsidi pada 2013 sebanyak 46 juta KL. Pada 2012 kuota BBM bersubsidi 45,2 juta KL. PerÂsentase kenaikan kuota yang di bawah 2 persen ini diperÂkiÂrakan terlalu kecil bila dibanÂdingkan konÂsumsi BBM bersubÂsidi yang selalu meningkat setiap tahunnya.
Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri PurnomoÂhadi menyambut baik penambaÂhan kuota BBM bersubsidi unÂtuk 2013.
“Kebutuhan masyarakat kan meÂningkat dan masih terjadi keÂkurangan pasokan di beberapa wilayah. Sebetulnya itu masih belum cukup karena ada daerah-daerah di luar Jawa, seperti SuÂmatera dan Kalimantan yang keÂkurangan BBM. Tapi kita meÂmaÂhami kemampuan pemeÂrintah untuk menyediakan BBM berÂsubsidi,†jelas Eri kepada Rakyat Merdeka.
Menurut dia, saat ini masih terÂjadi penyimpangan pada BBM berÂsubsidi. Penyimpangan itu di antaranya masih ada pihak yang tidak berhak tapi masih mengÂguÂnakan BBM bersubsidi, conÂtohÂnya industri. Terjadinya penyimÂpangan merupakan akibat dari tiÂdak intensifnya pengawaÂsan disÂtribusi dan tidak ada audit.
Anggota Komisi VII DPR SatÂya W Yudha mengatakan, konÂsumsi BBM sudah didata peÂmeÂrintah dan kuota BBM berÂsubsidi tersebut berasal dari perkiraan peÂmerintah. Disamping itu, kenaikÂan kuota BBM harus diiringi deÂngan evaluasi apakah subsidi BBM sudah tepat sasaran.
“Esensi subsidi BBM adalah membantu masyarakat yang memÂbutuhkan. Yang punya moÂbil pribadi itu orang mampu maÂkanya subsidi BBM tidak tepat sasaran†kata Satya.
Dia menilai, seharusnya belanÂja subsidi BBM dialihkan ke program lain, misalnya berupa bantuan langsung kepada masÂyarakat yang berhak atau bisa juga dalam bentuk insentif.
Pengamat ekonomi IchsanudÂdin Noorsy memprediksi, konÂsumsi BBM bersubsidi pada 2013 akan mencapai 48,73 juta KL. Angka tersebut berasal dari perÂhitungan kenaikan 8 persen dari kuota BBM bersubsi tahun 2012 sebanyak 45,123 juta KL.
Menurutnya, kenaikan 8 persen tersebut berasal dari asumsi perÂtumbuhan kendaraan tidak berÂubah, transportasi publik gagal, konversi gas tidak berjalan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia bergerak antara 5,8-6,3 persen.
“Tahun ini semua asumsi makÂro pemerintah boleh dibilang gaÂgal kecuali tingkat inflasi dan suku bunga,†ujarnya.
Asumsi pemerintah yang gagal antara lain nilai tukar rupiah, produksi minyak mentah dan harga minyak.
Terkait adanya permintaan BBM subsidi naik tahun depan, Noorsy malah mempertanyakan apakah pemerintah berani meÂnaikÂkan harga BBM bersubsidi.
“Pemerintah sedang menghaÂdapi dilema, di satu sisi pemeÂrinÂtah ditekan kekuatan asing untuk mendekatkan harga BBM agar sesuai dengan mekanisme pasar, di sisi lain APBN mendapat teÂkanan dari belanja subsidi,†jelas bekas anggota DPR ini.
Noorsy mengatakan, kenaikan harga BBM bersubsidi juga diÂpengaruhi kondisi politik. KonÂdisi partai berkuasa, Partai DeÂmokrat, yang sedang terpuruk memÂbuat peÂmerintah tidak berani menaikkan harga BBM subsidi.
“Saya kira Partai Demokrat teÂtap mencari simpati publik. Di saat yang sama semua partai juga sedang mencari investasi poliÂtik,†ucapnya.
Saat ini masalah kenaikan BBM subsidi menjadi lebih ruÂmit. Tekanan internasional dan tekanan dari APBN berhadapan dengan konsolidasi partai poÂlitik. Sementara di masyarakat kenaiÂkan harga BBM bersubsidi akan berefek pada kenaikan harÂga keÂbutuhan. Akibatnya, akan terjadi pemangkasan daya beli dan hal ini akan mendatangkan protes dari kalangan masyaÂrakat. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: