Demikian disampaikan Koordinator The Indonesia Marketing Day Forum, Harlan Sumarsono kepada
Rakyat Merdeka Online, Rabu (12/12).
"Gerakan ini adalah yaitu sebuah gerakan
subconscious mind atau membangun alam bawah sadar kepercayaan diri bangsa Indonesia yang mampu dan unggul dalam bersaing dengan bangsa lain. Gerakan ini mendorong pelaku bisnis di berbagai sektor seperti manufaktur, perbankan, perkebunan, logistic, transportasi dan UMKM untuk berani keluar kandang dengan bekal kepercayaan diri," tegas Harlan.
Harlan mengatakan, marketing pada prinsipnya adalah alat untuk mendorong agar keuntungan bisa diraih. Orang Indonesia, ungkap Harlan, kerap menyamakan marketing sebagai pemasaran. Orang lupa, marketing adalah suatu proses yang mempertimbangkan
quality product, jalur distribusi, aspek sosial budaya, politik dan juga harga, dimana salah satu
output-nya adalah
sales revenue.
Harlan kemudian menyoroti peran penting Negara dalam proses marketing. Negara, tambahnya, harus berperan agar proses marketing yang dilakukan perusahaan-perusahaan, baik milik pemerintah atau swasta, menjaga etika bisnis termasuk komitmen anti korupsi.
"Selain itu Negara harus mendorong agar proses marketing mempromosikan nilai-nilai Indonesia," tegasnya lagi.
Riset yang dilakukan DR Ahmad Fuad Afdhal dari
AFA.Com, di antara negara ASEAN, daya saing global Indonesia terus merosot. Pada tahun 1999, posisi Indonesia berada pada peringkat 37. Kemudian tahun 2007 merosot di peringkat 54. Jauh tertinggal dari Singapura, Malaysia, bahkan Thailand.
Kemiskinan berada pada angka 16, 58 persen, pengangguran sebesar 10,3 persen dari total angkatan kerja dan kelangkaan kesempatan kerja dan pertumbuhan sektor riil yang masih stagnan.
Indonesia Marketing Day Forum diharapkan dapat mendorong penguasaha barang dan jasa buatan dan dari Indonesia meningkatkan kualitas. Ini harus dilakukan agar pelaku bisnis siap menghadapi berbagai tantangan baru.
[arp]
BERITA TERKAIT: