Laba PLN Seret, Setoran Dividen BUMN Ngadat

Akhir Desember, Menteri Dahlan Segera Likuidasi PPD

Selasa, 11 Desember 2012, 08:19 WIB
Laba PLN Seret, Setoran Dividen BUMN Ngadat
PLN
Kecil Besar
rmol news logo .Loyonya kinerja PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) membuat target setoran dividen BUMN berdarah-darah. Salah perhitungan valuta asing (valas) di perusahaan pelat merah tersebut mencapai Rp 9 triliun.

Pemerintah mengatakan, pe­nurunan laba PT PLN Persero da­pat menggangu setoran dividen BUMN tahun buku 2013. Hal ini disebabkan, BUMN kelistrikan ini merupakan salah satu pe­nyum­­bang dividen terbesar kedua setelah PT Pertamina Persero.

Kepala Bbiro Perencanaan dan Sum­ber Daya Manusia (SDM) BUMN Imam Apriyanto Putro mengata­kan, pihaknya te­ngah meng­u­sul­kan penurunan setoran divi­den PLN mengingat per­olehan laba pe­­rusahaan setrum negara tersebut anjlok.

Pada pe­riode Januari-Sep­tem­ber 2012, PLN men­catat pe­nu­ru­nan laba sekitar 90,84 per­sen men­jadi Rp 865,1 miliar, di­ban­dingkan pe­riode yang sama ta­hun lalu se­besar Rp 9,45 triliun.

“Untuk itu, kami mau usul­kan ke Kemen­terian Keuang­an agar dividennya disesuaikan karena kinerja PLN lagi drop,” tutur Imam di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, penurunan ki­ner­ja tersebut disebabkan keru­gian kurs yang diderita PLN. Saat ini, kurs rupiah terhadap dolar AS menembus angka 11 ribu, selain itu adanya penerapan Stan­dar Pelaporan Keuangan Interna­sional (International Financial Reporting Standard/IFRS).

“Oleh sebab itu, tahun ini se­perti­nya laba PLN hanya Rp 1 tri­liun. Padahal PLN penyumbang divi­den terbesar,” terangnya.

PLN mengalami kerugian kurs sebesar Rp 9,16 triliun per 30 Sep­­tember 2012. Selain itu, be­ban keuangan PLN kian mem­bengkak tercatat dari Rp 12,6 tri­liun per September 2011 menjadi Rp 17,4 triliun.

Berdasarkan data Kemente­ri­an BUMN, target dividen BUMN ta­hun buku 2013 naik 8,54 per­sen menjadi Rp 33,5 triliun di­banding tahun buku 2012 sebesar Rp 30,86 triliun. Proyeksi terse­but lebih tinggi 2,63 persen dari ren­cana target sebelumnya Rp 32,64 triliun. BUMN pe­nyum­­­bang dividen terbesar salah sa­tunya PLN yang diperkirakan se­besar Rp 4,37 triliun.

Selain mengalami rugi kurs, be­ban keuangan PLN kian mem­bengkak, yakni 38 persen dari Rp 12,613 triliun per 30 September 2011 menjadi Rp 17,413 triliun da­­lam sembilan bulan pertama tahun ini. Penghasilan bunga BUMN kelistrikan tersebut juga tergerus 33,72 persen menjadi Rp 302,279 miliar. PLN juga harus mengalami peningkatan biaya ba­han bakar dan pelumas sekitar 3,75 persen dari Rp 96,816 triliun per 30 September 2011, menjadi Rp 100,450 triliun per 30 Sep­tem­­ber 2012. Pembelian tenaga list­rik turut melonjak 129,1 per­sen menjadi Rp 1,986 triliun.

Dalam sebuah kesempatan, Di­rut PLN Nur Pamudji mengakui adanya kerugian kurs tersebut. Me­nurut dia, kerugian tersebut ter­jadi akibat salah mengkalku­lasi kurs, apalagi PLN juga tidak dibolehkan untuk melakukan hedging (lindung nilai). Fasilitas ini, rencana dia, akan dilakukan terhadap utang-utang PLN yang berbentuk dolar AS.

“Namun kami belum menge­tahui apakah fa­silitas hedging ini diperboleh­kan oleh Kementerian BUMN,” ujar Nur Pamudji.

Kementerian Badan Usaha Mi­lik Negara (BUMN) pesimis­tis target dividen dalam Ranca­ngan Anggaran Pendapatan dan Belan­ja Negara (RAPBN) 2013 sebesar Rp 32,6 triliun dapat ter­capai. Target laba beberapa BUMN be­sar seperti PLN dan Per­tamina diprediksi meleset, sehingga me­nurunkan dividen.

PPD Dilikuidasi

Menteri BUMN Dahlan Iskan mengaku dalam waktu dekat akan meli­kuidasi perusahaan bus plat me­rah, Pe­rum Pengangkutan Pe­num­pang Djakarta (PPD).

Dahlan menya­ta­kan, aset dari perusahaan ini yang berupa bus akan diambil alih oleh Perum Damri dan aset be­rupa tanah akan dilelang. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA