Bos Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Chatib Basri menjamin kalangan investor belum terganggu dengan tuntutan demo buruh. AsalÂkan tidak diikuti aksi sweeping di pabrik.
Chatib Basri mengaku, sudah menemui beberapa perwakilan investor asing guna untuk memÂbicarakan masalah ancaman deÂmo buruh.
“Saya sudah berÂtemu dengan mereka (investor), saya jelaskan semuanya. Ternyata itu bukanlah menjadi masalah utama bagi meÂreka dalam inÂvesÂtasi. Untuk peÂrusahaan multinaÂsional, mereka mengaku sudah memberikan upah di atas UMR,†kata Chatib usai seminar di Jakarta, kemarin.
Dari pengakuan mereka, meÂnurut Chatib, tidak terlalu memÂpermasalahkan soal tuntutan deÂmo buruh. Yang mereka keluhÂkan justru soal jaminan keamaÂnan. Seperti aksi sweeping buruh di beberapa pusat industri seÂperti di Kawasan Industri JabaÂbeka, Jawa Barat.
“Meskipun demiÂkian, investor asing yang ada di sini belum ada yang akan meÂmindahkan inÂvesÂtasi usahanya ke negara lain. Sampai saat ini, mereka masih betah untuk berinvestasi di InÂdonesia,†jelas ekonom jebolan Universitas IndoÂnesia (UI) ini.
Di tempat yang sama, Wakil Presiden Boediono meyakinkan, dalam kondisi kisruh buruh saat ini kinerja ekonomi nasional masih positif. Indikasi ini terlihat dari kredit perbankan dan perÂtumbuhan ekonomi yang terus menunjukkan peningkatan. InÂdoÂnesia mampu menjaga perÂtumÂÂbuhan ekonominya lebih dari 6 persen. Selain itu juga mampu menurunkan tingkat pengangguÂran dan kemiskinan.
“Sepanjang masa-masa sulit, stabilitas perbankan dan ekonoÂmi berhasil dipertahankan dan terus mengalami trend penurunan utang. Kami telah belajar deÂngan keras dari pengalaman kaÂmi sendiri bagaimana manajeÂmen makro ekonomi untuk berÂhati-hati meÂngÂÂambil keputusan yang tidak bisa tergantikan,†ungkap Boediono.
Bekas Gubernur Bank IndoÂnesia (BI) ini mengakui, IndoneÂsia bukanlah negara tanpa masaÂlah. Menurutnya, kendala utama investasi saat ini ada di kurangÂnya infrastruktur. Untuk itu, seÂjumlah inisiatif diambil pemeÂrinÂtah.Yakni meningkatkan kaÂpaÂsitas pelabuhan, bandara, jaÂlan, kereta api, pembangkit lisÂtrik dan sebagainya.
Sementara, pelaku usaha beÂlum melaporkan kepada peÂmeÂrintah mengenai rencana reloÂkasi pabrik ke negara lain akibat aksi sweeping serikat pekerja di kaÂwasan industri yang menuntut penghapusan outsourcing atau sistem kerja alih daya.
“Secara resmi pelaku usaha beÂlum ada yang menyatakan ingin mereÂlokasi pabriknya. Namun, aksi sweeping serikat kerja sangat mengganggu keÂlangsungan inÂdusÂtri dalam neÂgeri,†kata DirekÂtur Jenderal Basis InÂdusÂtri ManuÂfaktur KemenÂteÂrian PeÂrinÂdustrian (Kemenperin) PangÂgah Susanto, kemarin.
Aksi sweeping serikat kerja yang menuntut penghapusan sistem outsourcing, menurut Panggah, harus segera diatasi oleh pemerintah. Sejauh ini, KeÂmenperin terus berkoordinasi deÂngan Asosiasi Pengusaha IndoÂnesia (Apindo) dan pihak kepoÂlisian untuk menyelesaikan aksi sweeping serikat kerja. “Jika konÂdisi tersebut terus berlangÂsung, maka investasi di dalam negeri akan terhambat,†paparnya.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Persepatuan Indonesia (ApreÂsindo) Binsar MarÂpaung mengaÂÂÂÂtakan, akibat aksi sweeping yang dilakukan serikat peÂkerja di kawasan indusÂtri, bebeÂrapa perusahaan telah menghenÂtikan produksinya.
“Aksi sweeping serikat kerja di kawasan industri membuat 10 perusahaan, termasuk Bata, meÂnyetop produksinya. SedangÂkan jumlah karyawannya menÂcapai 600 ribu tenaga kerja,†ujar BinÂsar. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: