Mustahil, Produksi Minyak Menembus 1 Juta Barel Per Hari

Izin Investasi Di BP Migas Berbelit-belit

Rabu, 07 November 2012, 08:15 WIB
Mustahil, Produksi Minyak Menembus 1 Juta Barel Per Hari
ilustrasi/ist
Kecil Besar
rmol news logo Sejak tahun 2004, produksi minyak nasional selalu di bawah target yang ditentukan. Termasuk tahun ini. Badan Pelaksana Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) mengaku tak sanggup memenuhi target produksi mi­nyak yang dipatok sebesar 930 ribu barel per hari (bph).

Pengamat perminyakan Kur­tubi mengatakan, penurunan pro­duksi minyak nasional meru­pa­kan bukti yang jelas bahwa tata kelola migas nasional dengan menggunakan Undang-Undang (UU) Migas Nomor 22 Tahun 2001 te­lah merugikan negara.

Akibat UU Migas itu, kata Kur­tubi, pro­duksi mi­nyak terus anjlok karena tidak ada penemu­an cadangan mi­nyak baru dalam 10 tahun ter­akhir ini. Produksi minyak hanya ber­san­dar pada su­mur-sumur minyak tua.

“Sangat disayangan pemerin­tah tidak mau mencabut Undang-Undang Migas yang sudah jelas-jelas merugikan negara. Terakhir tahun 1997-1998 ditemukan Blok Cepu, itu sebelum ada Undang-Undang Migas,” tegas Kurtubi ke­­pada Rakyat Merdeka me­nang­gapi pernyataan BP Migas yang tidak sanggup mencapai target produksi satu juta barel per hari di Jakarta, kemarin.

Kurtubi menjelaskan, hadirnya BP Migas melalui UU Migas ter­sebut, telah mem­buat proses in­vestasi migas men­jadi biro­kratis dan berbelit-belit. Apalagi, di du­nia hampir tidak ada yang meng­gunakan model peng­elolaan mi­gas seperti di Indonesia.

“Dulu BP migas ti­dak ada. Negara seharusnya menyerah­kan pengelolaan migas­nya kepa­da perusahaan migas nasional­nya. Di Indonesia ya Pertamina. Sejak dikelola BP Migas, tata kelola mi­gas nasional menjadi berbelit-belit,” kritiknya.

Selain itu, kata Kurtubi, UU Mi­gas pasal 31 juga menyebut­kan investor migas diwajibkan mem­bayar pajak meskipun be­lum me­nemukan cadangan mi­nyak baru.

Sebelumnya, Deputi Peren­ca­naan BP Migas Widyawan Pra­wi­raatmadja pesimis produksi mi­­nyak bisa digenjot hingga satu ju­ta barel per hari. Pengem­ba­ngan sejumlah proyek baru, se­perti South Mahakam, juga be­lum mampu menambah pro­duksi dengan signifikan.

“Untuk 2013 misalnya, target peningkatan produksi yang di­patok 900 ribu barel per hari saja ma­sih cukup sulit. Supaya 900 ribu barel tercapai, Desember itu harus 880 ribu barel per hari. Tapi sekarang ma­sih 850 ribu barel per hari,” katanya.

Karena itu, Widyawan mena­war­kan penggunaan teknik En­hance Oil Re­covery (EOR) di se­jumlah lokasi pengeboran mi­nyak. Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Evita H Legowo menga­takan, EOR cara yang paling stra­tegis untuk meng­gen­jot pro­duksi minyak. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA