.Kalangan industri dalam negeri meminta adanya kepastian pasokan gas untuk meningkatkan daya saing industri. Dikhawatirkan, krisis pasokan gas akan mengganggu pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan sebesar 6,8 persen pada 2013.
Wakil Ketua Kadin Indonesia (Kadin) Bidang PerdaÂgangan Distribusi dan Logistik Natsir Mansyur menyatakan, krisis pasokan gas menjadi salah satu penyebab pertumbuhan industri manufaktur stagnan pada kuartal ketiga tahun ini. Sebab, pasokan gas selama ini diduga dimonoÂpoli oleh PT Perusahaan Gas NeÂÂgara Tbk (PGN) sehingga inÂdusÂtri sulit mendapatkan gas.
“Pemerintah harus segera mengÂÂÂÂhapus monopoli pengguÂnaan saÂluran pipa gas oleh PGN agar inÂdustri nasional bisa berÂgerak meÂngikuti pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan mencapai 6,8 persen pada 2013,†kata Natsir.
Menurut Natsir, PGN harus seÂgera membuka akses gas ini keÂpada semua pihak untuk meÂmasok gas karena pipa yang diÂbangun mengÂgunakan uang negara.
“Selama ini akses gas hanya diÂpegang PGN. Sedangkan inÂdusÂÂtri sulit mendapatkan gas. MonoÂpoli gas harus dibenahi segera karena itu akan mengÂganggu pertumÂbuÂhan ekonomi,†tegas Natsir.
Kadin juga akan meminta BaÂdan Pemeriksa Keuangan (BPK) meÂlakukan audit terkait monopoli gas di PGN. Pasalnya, pipa yang dibangun untuk penyaluran gas menggunakan uang negara.
“Audit itu untuk mengetahui mana uang negara, mana uang pribadi yang digunakan PGN seÂlama ini,†ujarnya.
Ketua Kordinator Gas IndusÂtri Kadin Achmad Widjaja meÂÂnamÂbahkan, monopoli PGN pada pengÂÂgunaan infrastruktur pipa gas telah menyulitkan inÂdustri naÂsioÂnal mendapatkan pasokan gas.
“Monopoli pipa gas membuat kami bergantung sepenuhnya paÂda PGN. Padahal, pasokan dari perusahaan tidak mencukupi keÂbutuhan industri nasional,†proÂtes Achmad.
Sekretaris Perusahaan PGN Heri Yusup membantah adanya monopoli gas oleh PGN yang membuat inÂdusÂtri kesulitan menÂdapatkan gas. “PGN menyalurÂkan gas seÂsuai gas yang dikirim dari hulu dan tiÂdak ada monoÂpoli di sini,†kilah Heri saat diÂkontak Rakyat MerÂdeka.
Menurut Heri, PGN juga tidak keberatan jika BPK melakukan audit terhadap perusahaannya terkait dugaan monopoli gas.
Dirjen Basis Industri ManuÂfaktur Kementerian Perindustrian Panggah SuÂsanto berharap, keÂbutuhan gas bisa segera terÂpenuhi. Menurut Panggah, gas untuk industri harus diprioÂriÂtaskan. Pasalnya, sebesar 50 perÂsen inÂdustri menggunakan gas bumi untuk bahan baku.
SeÂdangkan 14 persen industri lainÂnya memanÂfaatkan gas unÂtuk proses proÂduksi dan 36 perÂsen lainnya mengguÂnakan gas bumi untuk utilitas.
Pada 2013, lanjutnya, dibutuhÂkan pasokan gas sebesar 1.108 million metric standard cubic feet per day (MMSCFD) untuk bahan baku industri pupuk dan petroÂkimia, 1.073 MMSCFD untuk inÂdustri keramik, logam, kaca, glassware, dan semen, dan 764,17 MMSCFD untuk utilitas industri. Sehingga, total keÂbuÂtuhan gas industri untuk tahun depan, adaÂlah 2.181,64 MMSCFD.
“Saya minta kebutuhan ini diÂpenuhi. Karena dari segi efisiensi dan industri modern, pemanÂfaaÂtan gas adalah lebih diutamaÂkan industri,†tandas Panggah. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: