Pertumbuhan Ekonomi 6,4% Dinilai Sulit Dicapai

Terganjal Krisis Global & Lambatnya Pembangunan Infrastruktur

Sabtu, 03 November 2012, 08:20 WIB
Pertumbuhan Ekonomi 6,4% Dinilai Sulit Dicapai
ilustrasi/ist
Kecil Besar
rmol news logo Target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4 persen pada kuartal tiga 2012 masih diragukan. Krisis ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih serta lambatnya pembangunan infrastruktur, membuat target tersebut dinilai sulit dicapai.

Keraguan itu disampaikan Di­rektur Institute for Develop­ment of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati di Jakar­ta, kemarin.

“Situasi krisis global masih mempengaruhi target partumbu­han ekonomi nasional. Ditambah lambatnya pembangunan infra­struktur serta  terjadinya krisis pa­so­kan gas yang mengganggu in­dustri,” ujar Enny.

Selain itu, adanya high cost economy dalam birokrasi juga menjadi pemicu penghambat per­tumbuhan ekonomi Indonesia.

“High cost economy bisa ber­asal dari biaya-biaya siluman, ti­dak adanya penyederhanaan bi­rokrasi dan perizinan, termasuk model perpajakan,” ungkapnya.

Indef mengharapkan, pemerin­tah bisa lebih serius membenahi birokrasi tersebut serta mem­per­cepat program infrastruktur de­ngan memberikan pasokan gas kepada kalangan industri.

“Jika itu dibenahi, maka target eko­nomi di atas enam persen bisa di­tembus,” ujar Enny.

Menteri Perencanaan Pem­ba­ngu­nan Nasional (PPN)/Ke­pala Bappenas Armida Alisjah­bana menyatakan optimis pertumbuh­an ekonomi nasional pada kuar­tal III-2012 masih tetap tinggi dan bisa mencapai angka di atas 6 persen.

“Kalau dilihat, trend inflasi year to date menunjukkan penurunan dari yang kemarin 3,79 persen (Januari-September 2012) men­jadi 3,66 persen (Januari-Okto­ber 2012),” kata Armida.

Menurut Armida, pertumbuh­an kre­dit masih kuat, investasi juga ba­gus. Ini akan mendukung pen­capaian pertumbuhan eko­nomi nasional yang tinggi dan bisa di atas 6 persen.

Die menyatakan, angka-angka inflasi yang diumumkan oleh Ba­dan Pusat Statistik (BPS) cukup bagus dan masih dalam kisaran angka yang cukup terkendali un­tuk mengantarkan pertumbu­han ekonomi di atas 6 persen.

“Grafik atas angka-angka in­flasi di daerah juga trendnya me­nurun dan baik. Jadi saya opti­mis pertumbuhan kuartal III-2012 bisa di atas enam persen,” katanya.

BPS mencatat bahwa pada Oktober 2012 terjadi inflasi se­besar 0,16 persen dengan Indeks Harga Kon­sumen (IHK) sebesar 134,67. Dari 66 kota IHK, pada bulan ini 37 kota di antaranya mengalami in­flasi dan 29 kota mengalami de­flasi. Inflasi ter­tinggi terjadi di Manokwari 0,97 persen dengan IHK 148,74 dan terendah terjadi di Kediri 0,01 persen dengan IHK 134,05.

Sedangkan deflasi tertinggi ter­jadi di Ambon 2,44 persen de­ngan indeks 138,56 dan terendah terjadi di Madiun 0,01 persen dengan IHK 137,48. Inflasi ter­jadi karena adanya kenaikan har­ga yang ditunjukkan oleh ke­naik­an indeks beberapa kelom­pok pengeluaran, yakni kelom­pok ma­kanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,38 persen.

Selanjutnya kelompok peru­ma­han, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,42 persen, kelompok san­dang 0,94 persen, kelompok ke­sehatan 0,25 persen, dan ke­lom­pok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,21 persen.

Sedangkan kelompok penge­lua­ran yang mengalami deflasi atau penurunan indeks, yakni ke­lompok bahan makanan 0,43 per­sen dan kelompok transpor, ko­mu­nikasi, dan jasa keuangan 0,02 persen. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA