.Masih banyaknya warga yang belum membayar pajak, bikin Dirjen Pajak Fuad Rahmany gemas dan bete. Fuad pun mengancam akan mengusir WNI yang ogah membayar pajak.“Kalau naik motor, itu sudah meÂnikmati pajak melalui subsidi BBM, jadi banyak yang meneriÂma. Sekitar Rp 180 ribu mereka nikÂmati tiap hari,†kata Dirjen Pajak Fuad Rahmany di Jakarta, kemarin.
Sayangnya, lanjut Fuad, baÂnyak yang tidak sadar sudah meÂnikmati tapi tidak membayar paÂjak. “Orang yang kayak gini tiÂdak pantas jadi warga negara, kita usir saja, minimal nggak boÂleh ikut pemilu,†tegasnya.
Menurut Fuad, di luar negeri orang-orang yang tidak memÂbaÂyar pajak ini bisa dipenjarakan.
“Di negara-negara yang sudah maju, mereka ini justru yang diÂborgol. Saking takutnya masuk penjara, ada orang Italia meminÂta penjelasan tentang bayar pajak ke pegawai kami, dia bilang I don’t want to go to jail (saya tiÂdak mau diÂpenjara). Mana ada orang InÂdonesia ngomong gitu, paling biÂlang nggak tahu, nggak pernah diajarin,†keluhnya.
Fuad mengakui, para pegawai pajak memang sangat tidak diÂsukai oleh masyarakat. Namun, ini tantangan bagi Ditjen Pajak untuk mengumpulkan uang bagi kas negara. Selain itu, banyaknya badan usaha ataupun pengusaha yang belum bayar pajak karena yang bersangkutan sudah merasa apatis untuk membayar pajak.
“Sering saya menemukan atau menerima laporan dari penguÂsaha wajib pajak yang enggan itu, meÂreka malas bayar pajak kaÂrena meÂrasa percuma uangnya dikoÂrupsi,†ujar Fuad.
Para pengusaha itu, menurut Fuad, merasa tidak dapat keunÂtungan apa-apa karena dana hasil pajak tidak mengalir ke sektor riil secara utuh.
“Mereka merasa percuma baÂyar pajak, hasil pajak apakah terÂsalur ke infrastruktur atau tidak ini memang perlu dijawab dan diÂawasi oleh legisÂlatif,†ucapnya.
Kendati begitu, Fuad memÂbanÂtah pegawai pajak bermental GaÂyus semua yang bisa disuap oleh pengusaha untuk tidak memÂbayar pajak atau memaÂnipulasi pajak.
“Kalau semua pegawai kita seÂperti Gayus, tidak mungkin ada peÂnerimaan sampai Rp 800 triliun masuk ke negara,†ungkapnya.
Fuad juga mengaku kesulitan mengumpulkan pajak karena renÂdahnya tingkat kesadaran masÂyaÂrakat. Padahal, target peÂÂneÂrimaan pajak yang ditetapÂkan DPR saÂngat besar.
“Tahun lalu, kami mampu meÂngumpulkan Rp 742 triliun. TaÂhun ini kita ditargetkan DPR meÂngumÂÂpulkan Rp 885 triliun, maÂbok kita. DPR memecut kita suÂpaya kerja keras,†ungkap Fuad.
Anggota Komisi XI DPR MaÂruarar Sirait mengatakan, peÂmeÂrintah harus tegas terhadap waÂjib pajak yang sengaja tidak memÂbayar pajak. Namun, pemeÂrinÂtah juga harus realistis dalam meÂnentukan target pajak.
“Jangan menetapkan target paÂjak yang tinggi tapi tidak realistis. Apalagi sampai menarik pajak dari warteg dan rakyat kecil,†kata Maruarar kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut dia, saat ini kondisi perekonomian sedang kurang baik dan terjadi krisis di Eropa yang berdampak pada penurunÂan nilai ekspor. Kondisi itu berÂdamÂpak pada penerimaan pajak. KaÂrena itu, Ditjen Pajak harus meÂlakukan terobosan.
Politisi PDIP ini juga meminta, Ditjen Pajak memakÂsimalkan penerimaan pajak dari sektor miÂnyak dan gas (migas) dan baÂtuÂbara. Apalagi, potensi peneriÂmaÂan pajak kedua sektor itu saÂngat besar namun belum digarap dengan makÂsimal. “Kantor-kantor pajak khuÂsus migas dan batubara itu perÂlu ditingÂkatkan,†ucapnya. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: