.Kebijakan pemerintah IndoÂnesia mengÂhentikan ekspor baÂhan mentah mineral diprotes penguÂsaha JeÂpang.
“Tim ekonomi Indonesia keÂmarin ke Jepang dan menÂdaÂpatÂkan komplain dari penguÂsaha JeÂpang. Mereka memprotes kebiÂjakan terkait tidak boleh ekspor bahan mentah,†kata Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik dalam samÂbutannya di The 12th Gas InÂformation Exchange In The Western Pacific Area (Gasex 2012), Nusa Dua, Bali, kemarin.
Menurut Wacik, seiring perÂkemÂbangan ekonomi Indonesia, sudah saatnya ekspor bahan menÂÂtah dihentikan. Sebab, Indonesia mampu mengolah sendiri bahan mentah menjadi bahan yang lebih bernilai tambah.
“Apalagi kita sudah 50 tahun lebih ekspor bahan mentah terÂmasuk ke Jepang. Menko PerÂekoÂnomian Hatta Rajasa juga suÂdah menjelaskan secara teÂpat. PeÂngolahan hasil tambah haÂrus seÂsuai kaidah hidup, tidak boleh lagi ekspor bahan menÂtah,†jelasnya.
Menurut dia, hal yang sama juga terjadi pada gas, sebagian besar produksi lifting gas IndoÂnesia diekspor ke luar negeri. Tercatat 4 Oktober, produksi gas mencapai 7.224 Million Metric Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD). Sebab itu, seiring meningkatnya kebutuhan gas dalam negeri, maka ekspor gas akan dikurangi.
“Gas yang dihasilkan paling utama untuk kepentingan InÂdoÂÂnesia. Kami juga tidak akan meÂÂlanggar kontrak yang ada beÂgitu saja, tapi semua bisa diÂneÂÂgoÂsiaÂsikan. Kalau kurang tenÂÂtu eksÂpor dikurangi,†ucapnya.
Wacik mencontohkan, proÂdukÂÂsi gas di Tangguh Papua oleh BP di Train 1 dan 2, awalnya 100 perÂsen buat ekspor, sebagian untuk dikirim ke Fujian China dan Jepang.
“Namun dengan pembicaraan dan jalin kerja sama yang baik, BP mau mengalokasikan 230 juta kaki kubik fit per hari. SeÂkarang disiapkan Train III deÂngan koÂmitmen dalam kontrak 40 persen dari total produksi akan diberikan ke domestik,†katanya.
Bahkan, kata Wacik, pemeÂrintah seÂdang menggenjot enerÂgi baru dan terbaharukan seperÂti proÂyek 10.000 megaÂwatt. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: