Minimnya jumlah stasiun peÂngisian bahan bakar nelayan (SPBN) di Kalimantan Barat, mengakibatkan nelayan kerepoÂtan memperoleh bahan bakar.
Hal itu dikatakan anggota KoÂmite Badan Pengatur Hilir MiÂnyak dan Gas Bumi (BPH Migas) FanÂshurullah Asa saat melakukan peÂngawasan penyeÂdiaan dan pendisÂtribusian BBM yang diÂlakukan oleh Badan UsaÂha (BU) PT AKR Corporindo Tbk.
“Minimnya jumlah SPBN di Singkawang mengakibatkan neÂlayan membeli solar unÂtuk meÂmenuhi kebutuhan melautnya di SPBU,†kata FanÂshurullah di JaÂkarta, kemarin.
Untuk mengatasi minimnya jumlah SPBN di wilayah terseÂbut, dia berharap, ada penamÂbahan jumlah SPBN karena peÂlayanan di SPBN-nya masih diÂbatasi sembilan ton.
Oleh karena itu, pemerintah berÂupaya memperbanyak pemÂbaÂngunan SPBN, guna meÂnyalurÂkan bahan bakar berÂsubsidi secaÂra meÂrata. PaÂsalnya, kuÂrangnya SPBN merupakan faktor terpenÂting bagi para nelaÂyan Indonesia.
“Kami sudah meÂngatakan keÂpada Pertamina agar semakin baÂnyak dibangun staÂsiun-stasiun peÂngisian bahan baÂkar untuk paÂra nelayan kita suÂpaya penetapan 30 juta kiloliter itu beÂnar-benar terÂsalurkan,†jelasnya.
Selama ini, menurut FanÂshuÂrullah, jika para nelayan kekuraÂngan bahan bakar pasti akan mengambil dari SPBU. Namun, apabila mengÂgunaÂkan jerigen mengambil bahan bakar untuk kapal di SPBU, akan dicurigai.
“Jangan-jangan akan melakuÂkan penyalahgunaan terhadap BBM. Padahal, itu nelayan beneÂran, ini tidak adil. Makanya, haÂrus dibangun SPBN untuk para nelayan dan ketika bukan nelaÂyan yang datang ke SPBN para nelaÂyan harus berani mengataÂkan itu bukan nelayan dan temÂpat anda bukan di sini sehingga BBM unÂtuk nelayan jatuh pada orang yang tepat,†paparnya.
Dikatakan FanÂshurullah, nantinya SPBN akan ditempatÂkan di sentra-sentra yang nelaÂyannya banyak. “2-3 meter dari pelabuhan,†katanya. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: