.Setelah berhasil menggolkan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) 15 persen, pemerintah akan mengkaji pergantian subsidi BBM ke bantuan langsung tunai (BLT). Alasannya, karena penyalurannya banyak yang tidak tepat sasaran.
Menteri Perencanaan PemÂbangunan Nasional/Kepala BaÂdan Perencanaan Pembangunan NaÂsional (PPN/Bappenas) ArmiÂda Alisjahbana mengatakan, tiÂdak teÂpatnya penyaluran BBM subÂsidi kaÂrena pemberiannya dipuÂkul rata.
“Subsidi itu perlu, cuma jaÂngan sampai subsidi yang besar tidak tepat sasaran,†ujar Armida.
Menurutnya, pemberian subsiÂdi energi yang tidak tepat sasaran akan menjadi beban bagi anggaÂran pemerintah. Karena itu, peÂmerintah tengah mengkaji efekÂtivitas dari pemberian subsidi yang saat ini ada agar penyaluran bisa tepat sasaran.
Dia mencontohkan Iran bisa memberikan subsidi berupa transÂfer langsung seperti BLT keÂpada rakyatnya yang berhak meÂnerima subsidi. Dana tunai ini keÂmudian bisa digunakan untuk memÂbeli energi dan segala kebuÂtuhan hidup rakyatnya.
Nantinya, kata Armida, dana yang tak terpakai untuk subsidi dapat dimanfaatkan buat kegiatÂan lain yang lebih bermanfaat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero WaÂcik mengatakan, usulan agar subÂsidi BBM diganti menjadi BLT sulit dilakukan.
â€Tidak seÂgamÂpang itu, mengÂganti subÂsidi BBM menjadi BLT. Bicara muÂdah tapi implemenÂtasinya susah,†kata Wacik.
Menurut dia, terus membengÂkakÂnya kuota BBM disebabkan maraknya kegiatan penyeÂlunÂduÂpan. Bahkan, kegiatan penyeÂlunÂdupan makin marak walaupun sudah banyak yang tertangkap.
“Kita sudah tangkap mereka, tapi yang menyelundup makin banyak lagi, semakin banyak akal-akalan mereka,†kata menÂteri asal Partai Demokrat ini.
Bahkan, berdasarkan data peÂmerintah, 77 persen penyaluran BBM subsidi tidak tepat sasarÂan. Karena itu, dia meminta apaÂrat keamanan dan TNI menangÂkap dan menindak tegas para penyeÂlundup tersebut.
Pengamat ekonomi Indef AhÂmad Erani Yustika pesimis renÂcana pemerintah itu akan berÂjalan. Menurutnya, saat ini peÂrintah banyak mengeluarkan wacana soal pengaturan BBM.
“Yang terjadi sekarang kan peÂmerintah cuma banyak berwaÂcana soal BBM, tapi tidak ada satu pun yang terealisasi. SeÂmuaÂÂnya hanya ungkapan spontan saÂja,†kritik Erani kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Apalagi sekarang sesama peÂmeÂrintahan saja tidak kompak. JiÂka pemerintah serius, mereka haÂrus mengakajinya terlebih daÂhulu dan dikomunikasikan deÂngan DPR, setelah itu baru diÂsamÂpaikan ke publik. “Jangan memÂbuat rakÂÂyat bingung,†ujarnya.
AngÂgota Komisi VII DPR Bambang Wuryanto menimpali, pemerintah memang paling suka membuat kajian. NaÂmun, banyak kajian yang tidak diÂtindaklanjuti, misalnya soal kajian penyesuaian harga BBM, kajian energi alterÂnatif dan pengÂhematan energi.
“Urusan kaji mengÂkaji meÂmang dunianya. Tapi tidak ada yang di-follow up,†cetusnya.
Namun, menurut Bambang, kebijaÂkan subsidi memang keÂwenangan pemerintah, tapi biÂcara anggaran yang menyertaiÂnya menÂÂjadi domain DPR.
Anggota Komisi VII DPR Dito GaÂninduto menyatakan, peraÂliÂhan subsidi BBM menjadi BLT sangat efektif untuk meÂneÂkan penyimpangan penyaluran BBM subsidi. Namun,perlu dikaji bagaimana penyalurannya.
Menurutnya, saat ini subsidi BBM memang banyak tidak tepat sasaran. Subsidi BBM banyak diÂnikmati orang kaya, sedangkan yang ada di daerah terpencil tidak menikmatinya. Apalagi sistem peÂngaturan menggunakan stiker juga tidak berjalan maksimal.
“KeÂkurangan dalam penyaÂlurÂan BLT sebelumnya perlu dibeÂnaÂhi. Supaya dalam pelakÂsanaan nanti bisa maksimal,†katanya.
Untuk diketahui, pemerintah dan DPR sepakat menambah kuoÂta BBM subsidi 4,04 juta kiÂloliter (KL) tahun ini. Dari tamÂbahan 4,04 juta KL tersebut, peÂmerintah meminta tambahan 3,43 juta KL untuk premium, 1,11 juta KL untuk solar dan 0,22 juta Kl untuk elpiji 3 kg.
Dirjen Migas Kementerian Energi Sumber Daya mineral (ESDM) Evita H Legowo meÂngatakan, tambahan kuota ini akan menghabiskan biaya Rp 16 triliun. “Pemerintah masih beÂlum memÂbayar kelebihan peÂnyaluran BBM bersubsidi 1,76 juta KL pada 2011 atau senilai Rp 7,92 triliun,†kata Evita.
Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini mengatakan, perhiÂtungan kuota BBM subsidi 2013 tidak akan meleset lagi. MenuÂrutnya, kuota BBM 2013 ditetapÂkan sebesar 46,01 juta KL dan tidak akan over.
Optimisme kuota tak akan over diÂkarenakan program pengheÂmatan pelarangan kendaraan dinas, pertambangan dan perkeÂbunan memakai BBM bersubsidi bakal berjalan penuh mulai 1 Januari 2013. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
BERITA TERKAIT: