Kenaikan TDL Tahun Depan Beratkan Pengusaha Mamin

Kamis, 20 September 2012, 08:00 WIB
Kenaikan TDL Tahun Depan Beratkan Pengusaha Mamin
ilustrasi/ist
Kecil Besar
rmol news logo Dirjen Industri Agro Kemen­terian Perindustrian (Kemen­perin) Benny Wahyudi menga­takan, pihaknya belum mau me­revisi pertumbuhan industri ma­kanan dan minuman (mamin) tahun depan karena kenaikan TDL.

“Kita masih target pertum­bu­han awal dan belum ada peru­ba­han,” ujar Benny kepada Rakyat Merdeka di DPR, kemarin.

Untuk diketahui, pemerintah menaikkan TDL 15 persen per Januari 2013. Kenaikan ini ber­laku untuk golongan 900 Volt Ampere (VA) ke atas.

Namun, saat ini pihaknya juga sedang menghitung dampak ke­naikan itu. Tapi hingga kini be­lum ada rencana perubahan tar­get. Kemenperin menargetkan per­tumbuhan industri makanan dan minuman tahun depan di atas 10 persen.

Gabungan Pengusaha Maka­nan dan Minuman Indonesia (Ga­pmmi) menargetkan industri makanan dan minuman hingga akhir tahun tumbuh 8-10 persen pada tahun 2012.

“Angka ini le­bih besar diban­ding pertum­buhan tahun 2011 yang mencapai 7-8 persen,” kata Ketua Umum Gap­mmi Adhi Lukman di Jakarta, kemarin.

Adhi menyatakan, kenaikan TDL 15 persen tahun depan akan memberatkan pengusaha maka­nan dan minuman. Kondisi ini ber­potensi menaikkan harga ba­han pokok untuk industri 2 per­sen. Karena itu, dia meminta pe­merintah mengkajinya lagi.

Sekjen Gappmi Franky Siba­rani mengatakan, tahun depan akan terjadi lonjakan produksi se­iring membaiknya iklim usa­ha tahun ini. Dia optimis target in­vestasi baru Rp 38 triliun ta­hun ini bisa dicapai, dipicu oleh peningkatan in­vestasi asing.

“Kami yakin investasi pada 2012 akan terus tumbuh hingga 8 persen dibanding periode tahun sebelumnya,” katanya.

Berdasarkan riset Kantar World Panel Indonesia dise­but­kan, sepanjang tahun 2011 pro­duk makanan dan minuman men­jadi barang konsumsi ha­rian yang paling banyak dibeli oleh konsumen, yaitu 81 persen di­susul produk Personal Care se­banyak 10,6 persen dan pro­duk Home Care sebanyak 8,4 persen.

Sektor makanan dan minuman ini meliputi antara lain beras 25,4 persen, mie instan 8,2 persen, minyak goreng 7,5 persen dan gula 6,3 persen.

Survei ini dilakukan terhadap 7.000 rumah tangga di kota-kota besar dan pedesaan di wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi dengan rincian 5.540 rumah tangga di perkotaan dan 1.460 rumah tangga di desa.

Temuan di lapangan menun­jukkan 20 kategori teratas pilih­an konsumen tahun lalu, 13 pro­duk yang menjadi pilihan kon­sumen didominasi konsumsi pro­duk makanan dan minuman. Bahkan 4 produk di antaranya menguasai setengah dari alokasi dana mereka.

 Direktur LinkQ Project Asia Jenny Hall mengatakan, antu­siasme masyarakat untuk produk sehat pada kategori makanan di Indonesia masih sangat rendah. Ini merupakan kesempatan bagi produsen untuk membuat produk yang lebih sehat. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA