Sistem BEI Ngadat, Transaksi Rp 2 Triliun Ditaksir Amblas

Broker Ngaku Diserbu Cacian ‘Ragunan’ Investor

Selasa, 28 Agustus 2012, 08:20 WIB
Sistem BEI Ngadat, Transaksi Rp 2 Triliun Ditaksir Amblas
ilustrasi/ist
rmol news logo Transaksi investor sekitar Rp 2 triliun diperkirakan menguap akibat ngadatnya sistem elektronik di Bursa Efek Indonesia (BEI).

BEI dikabarkan tengah melaku­kan aktivasi dengan mengguna­kan sistem backup atau sistem DRC dan informasi sistem ter­se­but kemungkinan bisa ber­jalan sekitar 20-30 menit.

BEI melakukan per­baikan terhadap sistem perdaga­ngan di pasar mo­­dal dan menga­kibatkan per­da­ga­ngan saham sedikit mundur aki­bat pengiriman datanya yang ti­dak berjalan normal. Sehingga pasar saham yang seharusnya di­bu­ka pukul 9.30 waktu JATS, kini belum ber­gerak sama sekali.

Data terakhir menunjukkan, penutupan perda­gangan akhir pekan lalu, yaitu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 17,260 poin (0,41 per­sen) ke level 4.145,399. Se­dangkan Indeks LQ45 melemah 4,861 poin (0,68 persen) ke level 713,257. Akibat kejadian ini, transaksi diundur sekitar 30 menit dan hanya ada 84 Anggota Bursa (AB) dari 114 AB yang terko­neksi dengan sis­tem tersebut.

Memasuki akhir sesi perda­gangan pertama, sistem transaksi kembali ngadat. Saat itu, posisi terakhir IHSG berada di level  4.144,125 turun tipis 1,274 poin (0,03 persen). Perdagangan sempat berjalan normal, namun hanya beberapa menit.

Menurut Direktur Utama BEI Ito Warsito, yang justru paling dirugikan dari kejadian tersebut adalah pihak bursa. “Kami di­ru­gi­kan karena jam buka warung kita tertunda,” katanya di acara halal bihalal di Jakarta, kemarin.

Untuk itu, pihaknya ma­sih mencari tahu dimana letak ke­salahannya sehingga tidak se­mua broker tidak tercakup da­lam sis­tem perdagangan.

Direktur Perdaga­ngan BEI Sam­sul Hidayat juga memastikan ada kerugian akibat sistem re­mo­te trading yang meng­alami ken­dala, kemarin. “Ya kerugian ada, tapi kita belum bisa ungkap be­rapa kerugian­nya,” katanya.

Melihat kejadian buruk terse­but, banyak broker yang dikom­plain oleh investor langganannya Mereka mengaku kerap terkena cacian dan makian investor.

“Nggak dapat momentum, su­dah kenyang ini makan ‘Ragunan’ dari investor,” keluh salah satu broker di pasar modal. Ragunan yang dimaksud adalah kebun bi­natang yang terletak di Jakarta.

Ungkapan ‘Ragunan’ tersebut berarti cacian dan makian yang diberikan investor berupa nama binatang kepada para broker. Pa­dahal, yang bermasalah di sini bukanlah sistem dari broker, tapi dari BEI sendiri.

Menurut Kepala Riset Reca­pi­tal Securities Pardomuan Sihom­bing, sistem perdagangan yang berma­salah seperti ini sangat merugikan investor karena tidak bisa ber­tran­saksi sama sekali.

“Sistem perda­gangan yang ti­dak jalan membuat risiko likuidi­tas bagi investor. In­vestor yang ingin membeli atau menjual tidak dapat terpenuhi ordernya,” katanya.

Analis pasar modal dari First Asia Capital David Sutyanto me­ng­atakan, dengan matinya sistem hingga sesi pertama per­daga­ngan, potensi transaksi yang hi­lang bisa mencapai Rp 2 triliun.

Analis pasar modal dari Uni­versal Broker Indonesia Alwi Assegaf mengatakan, ada­nya gangguan sistem perdaga­ngan pasar saham kemarin pagi mem­buat pelaku pasar dirugikan. “Pe­nga­ruhnya cukup banyak dengan ter­hentinya perda­ga­ngan, teru­tama dari nilai tran­saksi yang pastinya berkurang,” ujarnya.

Menurutnya, hal tersebut bisa saja akan mempengaruhi perda­ga­ngan saham, meskipun ada faktor lain yang saat ini menjadi sentimen bagi para pelaku pasar.

“Kalau dilihat sentimennya pe­ngaruhnya masih belum berubah, tapi pengaruhnya pasti ada. Mes­kipun saat ini, pengaruh seperti faktor global dan perlambatan serta isu stimulus The Fed (Fede­ral Reserves, Bank Sentral AS) masih berpengaruh,” ungkapnya.

Alwi memastikan pelaku pasar saat ini hanya bisa wait and see sambil melihat kesempatan yang mungkin ada untuk jual maupun beli. Bahkan ia juga mengatakan, bisa saja pelaku pasar memilih libur karena kondisi yang di­ang­gap tidak jelas seperti itu. Pi­hak­nya berharap kejadian terse­but tidak terulang lagi karena hal se­rupa juga pernah terjadi sebe­lum­nya. “Setidaknya kalau ada hal seperti itu lagi bisa dimini­mali­sa­si, kalau ada trouble ada infor­masi sebelumnya,” tan­dasnya.

Sementara transaksi global seperti di Bursa Wall Street Ame­rika Serikat kembali me­nanjak setelah European Central Bank (ECB) mempertimbangkan untuk meluncurkan program pembelian surat utang yang baru demi me­ngurangi beban utang negara-negaranya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA