.Kementerian Pertanian (Kementan) tidak boleh cuma jadi penonton atas serbuan daging ilegal menjelang Lebaran ini. Banjirnya daging ilegal jelas merugikan pendapatan pemerintah dan menggerus peternak sapi lokal.
Menteri Pertanian Suswono sebenarnya sudah mendengar kaÂbar adanya peredaran daging ileÂgal di pasar lokal. Namun, menÂteri asal PKS ini belum berÂtindak apa-apa dengan alasan belum daÂpat laporan resmi.
“Saya mendengar adanya inÂdikasi beredarnya daging impor ileÂgal di pasaran. Tapi belum ada laÂporannya,†kilah Suswono di Jakarta, kemarin.
Mentan berjanji menindak tegas peÂlaku dan importirnya jika meÂmang terbukti menjual daging imÂpor ilegal. Namun, karena hingÂga kiÂni belum ada laporan resmi, diÂriÂnya belum bisa melakukan apa-apa.
Tahun ini, kata Suswono, peÂmerintah hanya mengizinkan imÂpor daging 20 persen dari total keÂbuÂtuhan dalam negeri sekitar 500 ribu ton. Alasannya, pemeÂrinÂtah ingin meÂngurangi keterÂganÂtungan terhaÂdap daging impor dan meÂlindungi para peternak lokal.
“Kalau harga (daging) sudah jatuh, susah naiknya. Ini juga unÂtuk mengairahkan para peternak kita,†terang Suswono.
Saat ini banyak importir yang meminta dibuka lagi impor daÂging, karena harganya lebih muÂrah dibanding harga daging lokal. Tapi, pemerintah tidak biÂsa meÂngabulkannya.
Dia meminta para imÂporÂtir daÂging bersabar. Jika impor daÂging dibuka selebar-lebaranya, tarÂget swasembada daging nasional pada 2014 sulit tercapai karena peÂterÂnak tidak berseÂmangat unÂtuk meÂningkatkan produksi.
Wakil Ketua Komisi IV DPR Firman Subagyo minta Menteri Pertanian tidak diam mendengar adanya informasi maraknya daÂging ilegal itu. “Jangan hanya diam dan menunggu laporan resmi dong, tapi harus pro aktif menindaklanjuti kabar tersebut,†ujar Firman di Jakarta, kemarin.
Dia meminta Kementan melaÂlui Badan Karantina bekerja saÂma dÂengan aparat penegak huÂkum dan Ditjen Bea Cukai untuk meÂngawasi masuknya impor daging sapi ilegal. Jika terbukti ada teÂmuan, aparat penegak huÂkum haÂrus menindak tegas dan menÂcabut izin impornya.
Impor daging ilegal, kata poÂlitisi Golkar ini, jelas akan meÂngurangi pendapatan negara. DaÂging ilegal juga tak terjamin keÂsehatannya karena tidak melalui pengawasan Badan KaranÂtina Kementan. “Jadi, jaÂngan cuma nonton. Apalagi imÂpor ilegal ini marak setiap keÂgiatan hari besar keagamaan,†sentilnya.
Berdasarkan data Kementan, hingga semester I-2012 pasokan daging sapi di dalam negeri maÂsih surplus. Tercatat, stok daÂging impor sisa semester I berÂdaÂsarÂkan pemantauan di 21 guÂdang imporÂtir sebanyak 694 ton. JumÂlah itu terdiri dari daging 572 ton dan jeroan 121,9 ton.
Pemerintah juga telah membeÂri alokasi tambahan impor daÂging 7.000 ton untuk kebutuhan inÂdustri. Sedangkan sapi bakalan di tempat penggeÂmuÂkan sapi (feedÂlot) terdapat 124.027 ekor dan pasokan sapi loÂkal 25.750 ekor. Dari jumlah itu, maka stok sapi di 11 provinsi senÂtra proÂduksi seÂbanyak 821.123 ekor dengan keÂbutuhan 618.897 ekor.
Direktur Asosiasi Pengimpor DaÂging Indonesia (Aspidi) ThoÂmas Sembiring tidak heran deÂngan adanya praktik impor daÂging ileÂgal saat ini. Sebab, di paÂsaran terÂjadi pengingkatan keÂbuÂtuhan daÂging nasional sementara peÂmeÂrintah tak buka kran impor.
Kata Thomas, harga daging yang tinggi juga mendorong munÂculnya oknum yang menjual daging hasil selundupan dengan harga lebih murah. “Kalau ada yang jual daging dengan harga lebih murah dibanding harga pasar itu bisa dicurigai impor seÂlundupan,†katanya. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: