Menteri Suswono Jangan Hanya Nonton Dong...

Dengar Kabar Peredaran Daging Ilegal Marak Jelang Lebaran

Selasa, 07 Agustus 2012, 08:07 WIB
Menteri Suswono Jangan Hanya Nonton Dong...
ilustrasi, Daging
rmol news logo .Kementerian Pertanian (Kementan) tidak boleh cuma jadi penonton atas serbuan daging ilegal menjelang Lebaran ini. Banjirnya daging ilegal jelas merugikan pendapatan pemerintah dan menggerus peternak sapi lokal.

Menteri Pertanian Suswono sebenarnya sudah mendengar ka­bar adanya peredaran daging ile­gal di pasar lokal. Namun, men­teri asal PKS ini belum ber­tindak apa-apa dengan alasan belum da­pat laporan resmi.

“Saya mendengar adanya in­dikasi beredarnya daging impor ile­gal di pasaran. Tapi belum ada la­porannya,” kilah Suswono di Jakarta, kemarin.

Mentan berjanji menindak tegas pe­laku dan importirnya jika me­mang terbukti menjual daging im­por ilegal. Namun, karena hing­ga ki­ni belum ada laporan resmi, di­ri­nya belum bisa melakukan apa-apa.

Tahun ini, kata Suswono, pe­merintah hanya mengizinkan im­por daging 20 persen dari total ke­bu­tuhan dalam negeri sekitar 500 ribu ton. Alasannya, peme­rin­tah ingin me­ngurangi keter­gan­tungan terha­dap daging impor dan me­lindungi para peternak lokal.

“Kalau harga (daging) sudah jatuh, susah naiknya. Ini juga un­tuk mengairahkan para peternak kita,” terang Suswono.

Saat ini banyak importir yang meminta dibuka lagi impor da­ging, karena harganya lebih mu­rah dibanding harga daging lokal. Tapi, pemerintah tidak bi­sa me­ngabulkannya.

Dia meminta para im­por­tir da­ging bersabar. Jika impor da­ging dibuka selebar-lebaranya, tar­get swasembada daging nasional pada 2014 sulit tercapai karena pe­ter­nak tidak berse­mangat un­tuk me­ningkatkan produksi.

Wakil Ketua Komisi IV DPR Firman Subagyo minta Menteri Pertanian tidak diam mendengar adanya informasi maraknya da­ging ilegal itu. “Jangan hanya diam dan menunggu laporan resmi dong, tapi harus pro aktif menindaklanjuti kabar tersebut,” ujar Firman di Jakarta, kemarin.

Dia meminta Kementan mela­lui Badan Karantina bekerja sa­ma d­engan aparat penegak hu­kum dan Ditjen Bea Cukai untuk me­ngawasi masuknya impor daging sapi ilegal. Jika terbukti ada te­muan, aparat penegak hu­kum ha­rus menindak tegas dan men­cabut izin impornya.

Impor daging ilegal, kata po­litisi Golkar ini, jelas akan me­ngurangi pendapatan negara. Da­ging ilegal juga tak terjamin ke­sehatannya karena tidak melalui pengawasan Badan Karan­tina Kementan. “Jadi, ja­ngan cuma nonton. Apalagi im­por ilegal ini marak setiap ke­giatan hari besar keagamaan,” sentilnya.

Berdasarkan data Kementan, hingga semester I-2012 pasokan daging sapi di dalam negeri ma­sih surplus. Tercatat, stok da­ging impor sisa semester I ber­da­sar­kan pemantauan di 21 gu­dang impor­tir sebanyak 694 ton. Jum­lah itu terdiri dari daging 572 ton dan jeroan 121,9 ton.

Pemerintah juga telah membe­ri alokasi tambahan impor da­ging 7.000 ton untuk kebutuhan in­dustri. Sedangkan sapi bakalan di tempat pengge­mu­kan sapi (feed­lot) terdapat 124.027 ekor dan pasokan sapi lo­kal 25.750 ekor. Dari jumlah itu, maka stok sapi di 11 provinsi sen­tra pro­duksi se­banyak 821.123 ekor dengan ke­butuhan 618.897 ekor.

Direktur Asosiasi Pengimpor Da­ging Indonesia (Aspidi) Tho­mas Sembiring tidak heran de­ngan adanya praktik impor da­ging ile­gal saat ini. Sebab, di pa­saran ter­jadi pengingkatan ke­bu­tuhan da­ging nasional sementara pe­me­rintah tak buka kran impor.

Kata Thomas, harga daging yang tinggi juga mendorong mun­culnya oknum yang menjual daging hasil selundupan dengan harga lebih murah. “Kalau ada yang jual daging dengan harga lebih murah dibanding harga pasar itu bisa dicurigai impor se­lundupan,” katanya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA