Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tembus 6,4 Persen

Terdongkrak Perdagangan, Hotel & Restoran

Selasa, 07 Agustus 2012, 08:00 WIB
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tembus 6,4 Persen
ilustrasi/ist
rmol news logo Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat menjadi 6,4 persen pada triwulan II-2012. Angka ini naik 2,8 persen diban­ding 3 bulan pertama tahun ini.

Kepala BPS Suryamin me­nga­takan, pertumbuhan tersebut diukur berdasarkan naiknya ca­tatan nilai Produk Domestik Bru­to (PDB). Di antaranya, per­tum­buhan Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) sebesar Rp 2.050,1 triliun dan pertumbuhan ekonomi Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) sebesar Rp 650,6 triliun.

“Ada tiga sektor lapangan usa­ha yang berkontribusi besar ter­ha­dap pertumbuhan ini. Yakni sek­tor industri perdagangan, ho­tel, dan restoran sebesar 5,2 per­sen; sek­tor listrik, gas, dan air ber­sih se­besar 4,6 persen; dan sektor kon­­struksi sebesar 4,4 persen,” ka­ta Suryamin di kantornya, Jalan Pa­sar Baru, Jakarta Pusat, kemarin.

Kata Suryamin, pertumbuhan tiga sektor itu disebabkan me­ning­katnya kunjungan wisatawan man­canegara ke Indonesia. Wisa­ta­wan domestik di pada masa libur se­kolah juga ikut memberi sum­ba­ngan yang lumayan besar. “Pe­ningkatan dari sektor pe­ng­ang­kutan barang impor lewat ja­lur udara juga cukup pesat. Be­gitu ju­­ga sektor komunikasi dari peng­gu­naan internet dan selular. To­tal­nya mencapai 10,1 persen,” jelasnya.

Suryamin menambahkan, ber­dasarkan indeks tendensi bisnis (ITB), kondisi bisnis Indonesia pada Triwulan II-2012 meningkat dari 103,89 menjadi 104,22. Pe­ningkatan itu disumbang dari se­mua sektor bisnis, kecuali sektor pertambangan dan penggalian.

“Peningkatan indeks bisnis tertinggi masih di pegang sektor perdanganan, hotel dan retoran sebesar 110,21, diikuti sektor jasa sebesar 106,15,” jelasnya.

Untuk sektor belanja negara, Suryamin menyatakan, sepan­jang triwulan II-2012 terdapat per­cepatan belanja terutama ba­rang-barang modal yang sangat be­sar mendorong peningkatan in­vestasi dalam negeri. “Kom­po­nen pem­bentuk pertumbuhan eko­nomi 6,4 persen ini adalah kon­­sumsi rumah tangga 5 persen, pemerintah 7 per­sen, Pembentu­kan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 12,3 persen, ekspor 1,9 per­sen dan impor 10,9 persen,” tandasnya.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) secara resmi memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dari ki­saran 6,3-6,7 persen men­jadi 6,1-6,5 persen. Menurut BI, me­le­mahnya perekonomian du­nia mu­lai berdampak pada kinerja sisi eksternal perekonomian Indo­nesia sehingga pertumbuhan eko­nomi diprakirakan akan lebih rendah.

Kepala Perwakilan Bank Du­nia untuk Indonesia, Stefan Koe­berie pun mengingatkan ting­gi­nya konsumsi domestik akan mam­pu mempertahankan ketaha­nan eko­nomi Indonesia di angka 6 per­­sen. “Indonesia tidak dapat meng­hindar dampak penurunan eko­nomi global,” kata Stefan.  [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA