Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat menjadi 6,4 persen pada triwulan II-2012. Angka ini naik 2,8 persen dibanÂding 3 bulan pertama tahun ini.
Kepala BPS Suryamin meÂngaÂtakan, pertumbuhan tersebut diukur berdasarkan naiknya caÂtatan nilai Produk Domestik BruÂto (PDB). Di antaranya, perÂtumÂbuhan Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) sebesar Rp 2.050,1 triliun dan pertumbuhan ekonomi Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) sebesar Rp 650,6 triliun.
“Ada tiga sektor lapangan usaÂha yang berkontribusi besar terÂhaÂdap pertumbuhan ini. Yakni sekÂtor industri perdagangan, hoÂtel, dan restoran sebesar 5,2 perÂsen; sekÂtor listrik, gas, dan air berÂsih seÂbesar 4,6 persen; dan sektor konÂÂstruksi sebesar 4,4 persen,†kaÂta Suryamin di kantornya, Jalan PaÂsar Baru, Jakarta Pusat, kemarin.
Kata Suryamin, pertumbuhan tiga sektor itu disebabkan meÂningÂkatnya kunjungan wisatawan manÂcanegara ke Indonesia. WisaÂtaÂwan domestik di pada masa libur seÂkolah juga ikut memberi sumÂbaÂngan yang lumayan besar. “PeÂningkatan dari sektor peÂngÂangÂkutan barang impor lewat jaÂlur udara juga cukup pesat. BeÂgitu juÂÂga sektor komunikasi dari pengÂguÂnaan internet dan selular. ToÂtalÂnya mencapai 10,1 persen,†jelasnya.
Suryamin menambahkan, berÂdasarkan indeks tendensi bisnis (ITB), kondisi bisnis Indonesia pada Triwulan II-2012 meningkat dari 103,89 menjadi 104,22. PeÂningkatan itu disumbang dari seÂmua sektor bisnis, kecuali sektor pertambangan dan penggalian.
“Peningkatan indeks bisnis tertinggi masih di pegang sektor perdanganan, hotel dan retoran sebesar 110,21, diikuti sektor jasa sebesar 106,15,†jelasnya.
Untuk sektor belanja negara, Suryamin menyatakan, sepanÂjang triwulan II-2012 terdapat perÂcepatan belanja terutama baÂrang-barang modal yang sangat beÂsar mendorong peningkatan inÂvestasi dalam negeri. “KomÂpoÂnen pemÂbentuk pertumbuhan ekoÂnomi 6,4 persen ini adalah konÂÂsumsi rumah tangga 5 persen, pemerintah 7 perÂsen, PembentuÂkan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 12,3 persen, ekspor 1,9 perÂsen dan impor 10,9 persen,†tandasnya.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) secara resmi memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dari kiÂsaran 6,3-6,7 persen menÂjadi 6,1-6,5 persen. Menurut BI, meÂleÂmahnya perekonomian duÂnia muÂlai berdampak pada kinerja sisi eksternal perekonomian IndoÂnesia sehingga pertumbuhan ekoÂnomi diprakirakan akan lebih rendah.
Kepala Perwakilan Bank DuÂnia untuk Indonesia, Stefan KoeÂberie pun mengingatkan tingÂgiÂnya konsumsi domestik akan mamÂpu mempertahankan ketahaÂnan ekoÂnomi Indonesia di angka 6 perÂÂsen. “Indonesia tidak dapat mengÂhindar dampak penurunan ekoÂnomi global,†kata Stefan. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: