Lahan perumahan untuk wartawan semakin tidak jelas saja. Semula proyek perumahan wartawan direncanakan di Citayam, Depok, tapi katanya mau dipindah lagi ke daerah Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat. Informasi itu masih simpang siur.
Sebab, kini MenÂteri Perumahan RakÂyat (MenÂpera) Djan Faridz malah menÂjanjikan perumahan warÂtawan di wilayah Bojong Gede, Bogor, siap untuk diÂbaÂngun. Menurutnya, masalah laÂhan dan perÂizinannya, tak kunÂjung rampung di Citayam. ProÂyek peruÂmaÂhan wartawan pun bakal molor.
“Tanah di Citayam masih berÂmasalah, dipindahkan ke Bojong Gede, Bogor. Lahannya memang sudah ada yang menawarkan, tapi masih dilakukan peninjauan,†kata Djan di Jakarta, kemarin.
Djan menambahkan, program ini nantinya tidak akan mengÂguÂnakan jasa pengembang, kaÂrena alasan margin yang terlalu tinggi hingga sulit untuk menÂdapat harÂga yang lebih murah untuk satu unit rumah wartawan.
“Kita akan menunjuk konÂtraktor yang cuma mengambil untung dari kegiatan konsÂtrukÂsinya. Soal lahan, kita akan menunjuk satu orang lagi yang akan mengurus tanahnya. TarÂgetnya 3.000 unit dan harganya Rp 50 juta untuk tipe 36 dan tanahnya 72 meter persegi. Kalau bisa, tarÂget tahun ini selesai,†ungkapnya.
Deputi Bidang Perumahan ForÂmal Kemenpera Pangihutan MarÂpaung mengatakan, baik di wiÂlayah Parung Panjang maupun Bojong Gede hanya jadi alterÂnaÂtif, untuk membangun proyek perumahan wartawan tersebut.
“Ya kan kalau alternatif berarti pilihannya bisa saja lebih dari saÂtu. Nggak ada masalah sebeÂnarÂnya, mengingat jumlah rumah yang akan dibangun sekitar 3.000 unit. Tapi, kalau tanah di Parung Panjang, saat ini harganya masih dihitung oleh Perumnas,†kata Paul, sapaan Pangihutan MarÂpaung saat dihubungi Rakyat Merdeka, kemarin.
Paul mengaku, Kemenpera peÂkan ini masih akan memÂbicarakan lagi soal perumahan wartawan yang akan berlokasi di Citayam, Parung Panjang atau di Bojong Gede. “Perkembangan signifikan belum ada. Kalau ada, akan seÂgera diinformasikan,†janjinya.
Anggota Komisi V DPR RisÂwan Tony justru menilai, progÂram Kemenpera kebanyakan hanya seÂbatas angan-angan saja. Seperti proyek perumahan warÂtawan yang semula direncanakan dibaÂngun di lokasi Citayam. Setelah itu, daerah Parung PanÂjang jadi pilihan. Kini, malah mau diÂpinÂdah lagi ke Bojong Gede, Bogor.
“Jujur aja ya, sebenarnya progÂram perumahan wartawan, samÂpai detik ini saja belum pernah dibicarakan di Komisi V DPR. Berbeda dengan proyek rusunaÂwa (rumah susun sewa) CiliÂwung, yang memang merupakan progÂram pemerintah dan statusÂnya bakal disewakan,†kata PoÂlitisi Partai Golkar ini.
Apalagi, dia melihat, Menteri Djan Faridz seperti bekerja senÂdiri dan tidak mau mengguÂnakan jasa pengembang, seperti AsoÂsiasi Pengembang PerumaÂhan dan Pemukiman Seluruh IndoÂnesia (APERSI). Padahal, hal itu dilakukan oleh menteri seÂbeÂlumÂnya untuk memperÂmudah proyek perumahan.
“Menteri di zaman Orde Baru juga mengÂgunakan mekanisme itu agar target perumahannya berjaÂlan, tapi kenapa dia nggak mau,†katanya.
Riswan Tony mencontohkan, seperti program rusunawa CiÂliÂwung yang dikhawatirkan tidak akan rampung hingga tahun 2014. Menurut dia, program KeÂmenpera layaknya program KoÂmisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menutup satu kasus dengan kasus lain hingga bias dan mengiming-imingi program lain. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: