Gara-gara telat menggandeng investor, pemegang konsesi ruas tol Batang-Semarang diultimatum oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT).
BPJT memberikan batas wakÂtu maksimal dua pekan ke deÂpan pada pemegang konsesi ruas tol Batang-Semarang untuk menÂdaÂpatkan mitra investor.
Artinya, paling tidak akhir buÂlan ini peÂmilik ruas tol sepanÂjang 75 kiÂlometer itu, sudah haÂrus mengÂgandeng investor baru unÂtuk menÂÂdanai proyek yang memÂbuÂtuhkan investasi Rp 7,22 triliun itu.
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Achmad Gani Gazaly mengaÂtakan, jika dalam dua pekan meÂreka belum mendapatkan partner, maka BPJT dan KemenÂterian PeÂkerjaan Umum (PU) akan memÂberikan ultiÂmatum mengenai keÂlanjutannya.
“Nanti mereka akan mengaÂjukan proÂposal calon partner inÂvestorÂnya. Kemudian kita evaluasi apakah secara finansial mereka siap. KaÂlau oke, kita setujui,†ujarnya di Jakarta, Jumat (20/7).
Gani menjelaskan, jika dari haÂsil keputusan evaluasi ditetapÂkan layak, maka prosesnya diÂlanÂjutÂkan dengan penandaÂtaÂnganan perjanjian pengusahaan jalan tol. Pasalnya, dari 24 ruas tol yang dibangun, hanya ruas ini yang beÂlum meneken amandemen PPJT.
Meski mengancam akan memÂberikan ultimatum, tetapi Gani menyatakan, pemerintah tidak akan memutus kontrak proyek itu. Namun, mereka akan menÂdesak pemegang konsesi untuk memenuhi pendanaan yang diÂbutuhkan sesuai hasil evaluasi tol pada akhir 2010 lalu.
Dia menekankan, masuknya inÂvestor baru diperlukan meÂnyuÂsul kelayakan finansial proÂyek belum terpenuhi, berdasarÂkan evaluasi yang dilakukan pada 2010 pada PT Marga SetiapuriÂtama.
Dalam Perjanjian PenguÂsahaan Jalan Tol (PPJT) pada 2006, ruas tol Batang-Semarang butuh investasi Rp3,6 triliun teÂtapi membengkak jadi Rp 7,22 triliun.
“Setelah Bakrie Toll Road munÂdur, kemampuan finansialÂnya tidak memenuhi, Karena itu harus ada mitra baru supaya laÂyak,†ujarnya.
PT Jasa Marga Tbk menyaÂtakan, belum menentuÂkan kepuÂtusan untuk masuk daÂlam proyek pembangunan ruas tol Batang-Semarang, setelah PT Bakrie Toll Road mundur dari proyek itu.
Direktur Utama PT Jasa MarÂga Tbk Adityawarman mengaÂtakan, sampai saat ini piÂhaknya masih mengkaji kemungÂkinan masuk dalam proyek seÂnilai Rp 7,22 triÂliun tersebut.
Menurutnya, kajian dilakukan berÂdasarkan potensi investasi proyek, sekaligus mempertimÂbangÂkan kemampuan perusaÂhaan. Apalagi, saat ini mereka tengah fokus dalam rencana pemÂbangunan delapan ruas baru seÂcara nasional. “Kita belum meÂmastikan masuk atau tidak. MaÂsih lihat-lihat dulu. Kalau meÂmungkinkan kita akan masuk ke sana,†ujar Adityawarman.
Sebelumnya, Jasa Marga meÂnyatakan tertarik masuk dalam proyek itu. Karena diniliai feaÂsible dan terkoneksi dengan ruas Semarang-Solo yang dikelola perusahaan pelat merah itu.
Ketua Asosiasi Tol Indonesia (ATI) Fatchtur Rachman mengaÂtaÂkan, proyek tol Batang-SemaÂrang merupakan satu-satunya proyek tol lama yang belum dapat mengÂgandeng investor baru.
“Karena waktu penyelesaian yang lama sehingga terjadi peÂrubahan-peÂrubahan, terÂmasuk anggaran. Karena itu perlu mengÂgandeng investor baru,†ujarnya kepada Rakyat Merdeka.
Fathctur menjelaskan, total biaya proyek Rp 7,22 triliun seÂbesar 70 persen dibiayai perÂbankan, sementara sisanya diÂpenuhi lewat investor. “30 persen dari total biaya itulah yang harus dipenuhi oleh para investor,†jelas Fatchur. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: