.Dalam seminggu kemarin, masyarakat dibuat puyeng dengan kenaikan harga sembako. Ironisnya, para menteri hanya berani mengancam dan melakukan sidak.
Kesal dengan harga komoditas sembilan bahan pokok (SemÂbako), Menteri Perdagangan Gita Wirjawan terus melakukan InsÂpeksi Mendadak (sidak). Sejak pagi hari, dia sudah blusukan keÂluar masuk pasar. Mulai dari Pasar Kramat Jati Jakarta Timur hingga Pasar Tanah Tinggi, Tangerang.
Sayangnya, sidak Gita tersebut belum efektif menekan harga. Yang terjadi justru harga seperti daging tetap melonjak.
“Pasokan kebutuhan bahan pokok akan cukup hingga hari Raya Idul Fitri,†katanya setelah melakuÂkan sidak di Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang, Kamis (19/7) malam. Harga daging sapi pada Juli sudah naik sebanyak tiga kali dan kini menembus Rp 78 ribu per kilonya.
“Harga daging sekarang Rp 78 ribu dan bulan ini sudah naik tiga kali, pas ketiganya mengalami kenaikan yang tinggi, sebelumÂnya harga daging naik Rp. 2 ribu aja,†ujar pedagang Pasar KraÂmat Jati, Sanusi, Jakarta Timur.
Menurut Sanusi, kenaikan harÂga ini lantaran pembatasan daÂging sapi impor, sehingga daÂging sapi lokal menjadi naik. KeÂnaikÂan harga daging sapi menjeÂlang puasa juga dibenarkan MenÂdag seÂlama melakukan sidak ke paÂsar-pasar. Meski saat itu, Gita meÂngaku sudah mendapatkan jaÂminan stok daging dari KeÂmenÂterian Pertanian (Kementan).
Sementara Menteri Pertanian Suswono berdalih, kenaikan harga daging sapi dipicu akibat konsumsi komoditi itu di Jakarta sangat tinggi ketimbang di daerah lainnya.â€Kenaikan ini membuat konsumen daging di Jakarta hanya dari masyarakat meneÂngah-atas,†tambahnya.
Di daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak hanya daging sapi, daging ayam pun ikut naik. Jika sebelumnya harga daging ayam potong Rp 20 ribu per kilogram, kini harganya mencapai Rp 25 ribu. “Dari tempat pemotongan naik,†kata penjual daging di Pasar Mandilika, Bima, Sahrah.
Ia mengaku kenaikan harga ini sudah berlangsung sejak pekan lalu. Ia tidak tahu pasti penyebab keÂnaikan harga daging. Yang pasti, kata dia, kenaikan harga daging sudah berlangsung dari tempat pemotongannya. “Kita ikut harga di tempat pemotongan. Kalau naik di sana (rumah potong hewan, Red), praktis harga yang kita pasang ikut naik juga,’’ jelasnya.
Rupanya, para pedagang ini tidak mau disalahkan. Mereka mengaku, kenaikan harga daging ini disebabkan minimnya stok. Karena, daging yang dijual itu kebanyakan berasal dari luar daeÂrah.
Hal senada diungkapkan pedaÂgang lainnya, Amrin. Ia mengaÂku, kenaikan harga ini bukan permainan pasar. Namun, harga daging sudah naik di tempat peÂmotongan. “Kalau dibilang kaÂrena banyak permintaan, tidak juga. Masih biasa-biasa saja kok,’’ akunya.
Diakui oleh ekonom Indef Sri Hartati, koordinasi antar menteri dalam menangani gejolak harga sangat minim. Jika dilihat sepinÂtas, maka hanya Mendag yang rajin melakukan sidak. SemenÂtara menteri lain hanya terima laporan. Kondisi tersebut, lanjut dia, makin diperparah dengan tidak adanya kebijakan yang jitu dari pemerintah.
“Tata niaga sudah dikuasai oleh para tengkulak. Mereka lah yang kini mempermainkan harga, sementara pedagang hanya ikutan saja. Kalau dari tengkulak naik, maka di pedagang juga akan naik,†ulasnya. Untuk itu, dia meÂnyarankan agar pemerintah puÂnya instruÂmen baru guna meÂreÂdam gejolak harga. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: