Menjelang ramadhan harga kebutuhan bahan pokok selalu mengalami kenaikan berkisar 5 -20 persen. Pemerintah terkesan tidak mampu menekan harga suÂpaya stabil. Berdasarkan panÂtauan di tingkat eceran dan pasar tradisional, beberapa komoditas sembako seperti gula pasir, miÂnyak goreng, daging ayam, dan telur ayam, naik dengan persenÂtase bervariasi.
Pengamat ekonomi Yanuar Rizky memprediksikan, angka inflasi pada Juli akan meningkat. Tapi, dampak inflasinya akan lebih terasa dilevel masyarakat. MeÂnurutnya, survey yang dilakuÂkan oleh Badan Pusat Statistk (BPS) hanya melihat harga-harga di level pasar-pasar induk, bukan ditingkat harga akhir.
“Biasanya kalau di pasar induk inflasinya berkisar antara 2-5 persen. Nah kalau dengan angka segitu, harga di masyarakat akan naik sekitar Rp 5-Rp 15 ribu. HarÂga segitu sudah menyusahkan masyarakat. Termasuk kita-kita juga,†cetusÂnya kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.
Yanuar melihat, permasalahan pokoknya berada pada distribusi komoditas yang amburadul. DeÂngan mata rantai distibusi yang panjang dan memakan waktu, maka juga akan ikut mempeÂngaruhi harga dipasaran. “PenyaÂluran kebutuhan bahan pokok harus dipermudah. Jangan ada lagi pungutan liar yang menyeÂbabkan pelaku usaha menaikkan harga barangnya. Selain itu juga stok kebutuhan selama hari raya juga harus dijaga,†sarannya.
Sementara itu, Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti memÂperkirakan inflasi saat Ramadan naik hingga dua persen. MenurutÂnya, kenaikan harga barang selalu terjadi setiap tahun. Peningkatan daya beli masyarakat meningkat di bulan Ramadhan. Ia memperÂkirakan, inflasi year on year pada 2012 terjadi pada Juli hingga Agustus mencapai dua persen.
Biasanya inflasi itu dipicu keÂnaiÂkan harga bahan pangan, seÂperti cabai, daging, dan telur. PerÂgeraÂkan harga emas pun menjadi faktor pendukung. Untuk itu, dia memeinta pemerntah harus menÂcari solusinya. “Pemerintah harus segera melakukan operasi pasar agar dapat mengontol kenaikan harga pangan sekaligus menceÂgah peningkatan inflasi,†tegasnya.
Pakar ekonomi mikro Indef Ahmad Erani Yustika mengataÂkan problem tersebut merupakan permasalahan klasik yang tidak pernah bisa diselesaikan oleh peÂmerintah. Permasalahan ini harus segera ditangani oleh pemerintah.
Dikatakan Erani, hampir seÂmua komoditas penting pangan Indonesia bergantung pada imÂpor. Seperti jagung, kedelai, daÂging, dan beras. “Karena impor maka kita sangat bergantung kepada harga di Internasional. TerÂlebih jika permintaan pasar domestik naik, maka harga di pasar akan ikutan naik,†jelasnya.
Ketika ditanyakan mengenai ulah spekulan yang menaikkan harga sembarangan, dia menyaÂrankan supaya pemerintah memÂbuat kebijakan yang bisa memÂbuat jera para oknum yang tidak bertanggung jawab.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi Juni 2012 mencapai 0,62 persen, diÂpicu oleh kenaikan harga bahan pangan yang melonjak. Adapun, inflasi pada enam bulan pertama tahun ini masih sebesar 1,79 perÂsen dengan tingkat inflasi secara year on year mencapai 4,53 persen.
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menuturkan, agar harÂga menjadi normal, maka pasoÂkan harus tetap diamankan. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: