Proyek rusunawa sebaiknya diserahkan pada ahlinya, yakni Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang lebih berpengalaman dalam membangun gedung.
Saran itu dikatakan Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda meÂnyikapi takeover-nya proyek geÂdung rusunawa ke Kemenpera.
“Secara pengalaman, PU. KeÂnapa Kemenpera ngebet mau baÂngun rusunawa di sekitar banÂtaÂran kali tersebut. Ini patut diperÂtanyakan, ada apa?†tanya Ali saat dihubungi Rakyat MerÂdeka di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, pembangunan ruÂsunawa setinggi 30 lantai di banÂtaran kali untuk warga kuÂmuh saÂngat baik dan mulia. NaÂmun ia khawatir, jika proyek itu di-taÂkeover, program peruÂmaÂhan akan terganggu. Seperti rumah murah untuk masyarakat berÂpenghasilan rendah (MBR) yang beÂlum juga terealisasi kaÂrena masih terganjal masalah lahan.
“Ada baiknya Pak Djan fokus pada program perumahan yang ada. Jangan masuk ke ranah yang bukan kewenangannya, karena itu akan menambah angka backÂlog perumahan saja “cetus Ali.
Ali menyarankan, program ruÂsunawa Ciliwung sebaiknya diÂserahkan pada PU bersama DiÂnas Sosial untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar lebih efektif dan efisien.
Wakil Ketua Komisi V DPR bidang perumahan Muhidin MoÂÂhamad Said akan membahas masalah ini karena sumber daya manusia (SDM) di Kemenpera juga terbatas.
“Jangan sampai memÂbuat peÂrencanaan di luar kemamÂpuan. Enam lantai rusun saja sulit diÂbangun, apalagi 30 lantai di kali Ciliwung,†sindir Muhidin.
Wakil Ketua Komisi V DPR Mulyadi menyatakan, harus ada koordinasi antara dua kemenÂterian tersebut. Baginya, KeÂmenÂÂterian PU lebih berpengaÂlaman dalam memÂbangun geÂdung.
Ia khawatir rencana pemÂbaÂngunan gedung rusun 30 lanÂtai terutama dari sisi budaya, kaÂrena orang-orang yang biasa tinggal di gubuk harus naik lift.
“Butuh waktu untuk memÂbeÂrikan edukasi dan sosialisasi ke warga kumuh yang tinggal di banÂtaran kali untuk tinggal di ruÂsunawa. Jangan sampai nanti diÂbangun akhirnya yang meÂnemÂÂpati bukan MBR. Ini bukan perÂsoalan sederhana, perlu peÂrenÂcanaan yang matang suÂpaya pemÂbangunan tersebut beÂtul-betul dirasakan warga kuÂmuh,†tegas Mulyadi.
Deputi Bidang Pembiayaan Kemenpera Sri Hartoyo menyaÂtaÂkan menghormati perÂbedaan penÂdapat dalam proÂyek rusunawa senilai Rp 5,6 triÂliun di bantaran kali Ciliwung terÂsebut.
“Besaran dana masih tahap peÂngajuan atau belum final dan seÂmuanya diserahkan pada DPR. Tapi yang jelas, kami opÂtimis bisa merealisasikannya pada 2014 unÂtuk rusunawa CiliÂwung,†kata Sri saat dihubungi Rakyat MerÂdeka, Selasa (3/7).
Menpera Djan Faridz sebeÂlumÂnya mengaÂtakan, proyek CiÂliÂwung meruÂpakan bagian dari Rencana Kerja Kemenpera berÂdaÂsarkan Rencana Kerja PeÂmeÂrintah (RKP) Tahun 2013 di anÂtara program prioritas.
“Program ini termasuk DiÂrektif Presiden dan penugasan khusus. Selain penanganan WaÂduk Jati Gede, percepatan pemÂbangunan PaÂpua dan Papua Barat, juga ProÂgram Pro Rakyat Klaster IV. Yaitu Program rumah sangat murah dan rumah murah dengan total keÂbuÂÂtuhan 44 tower dengan dana Rp 5,8 triliun,†jelas Djan. [Harian Rakyat Merdeka]
< SEBELUMNYA
BERIKUTNYA >
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: