RMOL. Kondisi PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dan anak usahanya dikabarkan tengah mengalami masa kritis. Utangnya kepada CreÂdit Suisse dalam bentuk pinjaÂman sindikasi sebesar 437 juta dolar AS atau sekitar Rp 3,9 triÂliun belum juga terbayarkan.
Hal itu sempat membuat saÂham-saham Grup Bakrie meroÂsot. Kreditor yang digawangi Credit Suisse memberikan ancaÂman default (gagal bayar) atas pinjaman BNBR sebesar 437 juta dolar AS. Ini memicu prospek saham milik Bakrie dalam beÂberapa waktu ke depan. Ada yang meragukan Grup Bakrie bisa kembali seperti semula.
Pengamat pasar modal Reza Priyambada mengatakan, meroÂsotnya saham Bakrie Group di tenggarai karena notifikasi deÂfalut kreditor sebesar 437 juta dolar AS yang membuat mereka kesulitan untuk memenuhi perÂmintaan dari kreditor.
Dia meÂnilai, langkah BNBR ke depan akan menentukan nasib saham-saham tersebut. Melemah atau menurunnya saham tersebut, terÂgantung bagaimana BNBR memÂbiayai sesuai kriteria rasio.
Menurutnya, Bakrie Group harus segera membenahi keadaÂan internalnya terlebih dahulu agar kembali seperti semula. Kalau tidak, maka para investor dan reÂkan bisnis yang bekerja sama deÂngan Bakrie Group bisa meningÂgalkan kelompok usaha pribumi ini.
“Ini tidak bisa diÂdiamkan lama-lama karena ada dampak negaÂtifÂnya,†kata Reza saat dikontak Rakyat Merdeka, Jumat (4/5)
Dikabarkan, lembaga keÂuangÂan internasional itu sampai memÂberiÂkan tiga opsi pembayaÂran kepada grup perusahaan besar terÂsebut. Ketiga opsi yang diÂminta lembÂaga keuangan asing itu, yaitu pembaÂyaran sebagian pinÂjaman, perceÂpaÂtan pembayaÂran (prepayÂment) dan penghapuÂsan penamÂbahan jaminan (top up) jika harga saham Bumi Plc rebound.
Belum lagi kasus-kasus sebeÂlumnya yang tidak selesai, seÂperti belum membayar ganti rugi korban Lumpur Lapindo serta PT Bakrie Toll Road, anak usaha PT Bakrieland DevelopÂment Tbk (ELTY), mundur dari proÂyek Tol Batang-Semarang, kaÂrena tak mampu memenuhi dana invesÂtasi.
Menanggapi hal itu, Direktur PT Andalan Artha Advisindo SeÂcurities Andri Rukminto meÂngaÂtakan, ancaman default yang dialami BNBR sangat menganÂcam kinerja anak usaha lainnya. Kondisi ini juga meruÂgikan para investor sebagai pemegang saÂham.
Makanya, dia berharap Grup Bakrie bisa mencari jalan keluar melunasi utang yang jatuh tempo agar tidak dinyatakan deÂfault. PaÂsalnya, bisnis mereka di inÂdusÂtri pasar modal memiliki kaÂpitalisasi pasar yang cukup besar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Kabar default ini langsung memberikan sentimen negatif terÂhadap perÂgeÂrakan saham dalam negeri lantaÂran kapitalisasi pasar Bakrie yang besar dan memiliki potensi sisteÂmik yang besar,†jelas Andri.
Kelompok kreditor sempat meÂminta keluarga Bakrie membayar dana tambahan (top up) sekitar 100 juta dolar AS menyusul tuÂrunÂnya harga saham Bumi Plc di bursa London. “Kita sedang daÂlam pembicaraan aktif dengan para kreditor,†tukas Direktur KÂeÂuangan PT Bakrie & Brothers Tbk Edy Suparno. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: