Kondisi Keuangan Bakrie Group Jangan Didiamkan

Jika Kena Default, Kepercayaan Asing Bisa Jatuh

Senin, 07 Mei 2012, 08:54 WIB
Kondisi Keuangan Bakrie Group Jangan Didiamkan
Bakrie Group

RMOL. Kondisi PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dan anak usahanya dikabarkan tengah mengalami masa kritis. Utangnya kepada Cre­dit Suisse dalam bentuk pinja­man sindikasi sebesar 437 juta dolar AS atau sekitar Rp 3,9 tri­liun belum juga terbayarkan.

Hal itu sempat membuat sa­ham-saham Grup Bakrie mero­sot. Kreditor yang digawangi Credit Suisse memberikan anca­man default (gagal bayar) atas pinjaman BNBR sebesar 437 juta dolar AS. Ini memicu prospek saham milik Bakrie dalam be­berapa waktu ke depan. Ada yang meragukan Grup Bakrie bisa kembali seperti semula.

Pengamat pasar modal Reza Priyambada mengatakan, mero­sotnya saham Bakrie Group di tenggarai karena notifikasi de­falut kreditor sebesar 437 juta dolar AS yang membuat mereka kesulitan untuk memenuhi per­mintaan dari kreditor.

Dia me­nilai, langkah BNBR ke depan akan menentukan nasib saham-saham tersebut. Melemah atau menurunnya saham tersebut, ter­gantung bagaimana BNBR mem­biayai sesuai kriteria rasio.

Menurutnya, Bakrie Group harus segera membenahi keada­an internalnya terlebih dahulu agar kembali seperti semula. Kalau tidak, maka para investor dan re­kan bisnis yang bekerja sama de­ngan Bakrie Group bisa mening­galkan kelompok usaha pribumi ini.

“Ini tidak bisa di­diamkan lama-lama karena ada dampak nega­tif­nya,” kata Reza saat dikontak Rakyat Merdeka, Jumat (4/5)

Dikabarkan, lembaga ke­uang­an internasional itu sampai mem­beri­kan tiga opsi pembaya­ran kepada grup perusahaan besar ter­sebut. Ketiga opsi yang di­minta lemb­aga keuangan asing itu, yaitu pemba­yaran sebagian pin­jaman, perce­pa­tan pembaya­ran (prepay­ment) dan penghapu­san penam­bahan jaminan (top up) jika harga saham Bumi Plc rebound.

Belum lagi kasus-kasus sebe­lumnya yang tidak selesai, se­perti belum membayar ganti rugi korban Lumpur Lapindo serta PT Bakrie Toll Road, anak usaha PT Bakrieland Develop­ment Tbk (ELTY), mundur dari pro­yek Tol Batang-Semarang, ka­rena tak mampu memenuhi dana inves­tasi.

Menanggapi hal itu, Direktur PT Andalan Artha Advisindo Se­curities Andri Rukminto me­nga­takan, ancaman default yang dialami BNBR sangat mengan­cam kinerja anak usaha lainnya. Kondisi ini juga meru­gikan para investor sebagai pemegang sa­ham.

Makanya, dia berharap Grup Bakrie bisa mencari jalan keluar melunasi utang yang jatuh tempo agar tidak dinyatakan de­fault. Pa­salnya, bisnis mereka di in­dus­tri pasar modal memiliki ka­pitalisasi pasar yang cukup besar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Kabar default ini langsung memberikan sentimen negatif ter­hadap per­ge­rakan saham dalam negeri lanta­ran kapitalisasi pasar Bakrie yang besar dan memiliki potensi siste­mik yang besar,” jelas Andri.

Kelompok kreditor sempat me­minta keluarga Bakrie membayar dana tambahan (top up) sekitar 100 juta dolar AS menyusul tu­run­nya harga saham Bumi Plc di bursa London. “Kita sedang da­lam pembicaraan aktif dengan para kreditor,” tukas Direktur K­e­uangan PT Bakrie & Brothers Tbk Edy Suparno.  [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA