“Terus terang ini (pembatasan) di lapangan sudah kami uji coba dengan Permen (Peraturan MenÂteri), tapi itu akan sulit,†kata MenÂÂteri Energi Sumber Daya MiÂneral (ESDM) Jero Wacik, kemarin.
Menurut dia, jika aturan itu diÂberÂlakukan secara saporadis tak akan berjalan maksimal kaÂrena di beberapa daerah masih ada yang tidak menjual pertamax. KaÂreÂnanya, untuk sementara ini peÂÂmeÂrintah menunda rencana pemÂÂbaÂtasan mobil pribadi sampai daÂpat formula yang terbaik.
“Jadi jaÂÂÂngan tanya-tanya itu lagi, seÂmenÂÂtara tidak akan diadakÂan pemÂÂbaÂtasan yang mengguÂnakan kaÂÂpasitas (CC) apalagi berdasarÂkan tahun,†tegas Wacik.
Menurut menteri dari Partai DeÂmokrat itu, banyak sekali atuÂran yang sulit dikendalikan di laÂpangan. Khusus pembatasan deÂngan kapasitas atau dengan taÂhun, sementara ditunda sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.
Meski begitu, pemerintah akan melakukan pembatasan kenÂdaÂraan dinas pemerintahan, BUMN dan BUMD “minum†premium. KenÂdaraan untuk pertambangan dan perkebunan juga dilarang mengÂgunakan BBM subsidi.
Sebelumnya, pemerintah akan melakukan pembatasan BBM subsidi untuk kendaraan pribadi yang mempunyai kapasitas 1.300 CC ke atas. Tapi belakangan kaÂpasitas mesin dinaikkan menjadi 1.500 CC ke atas. Waktu pelaksaÂnaan yang awalnya akan dilakuÂkan 1 Mei pun terus mundur.
Maju mundurnya pembatasan BBM itu menimbulkan kabar tiÂdak sedap. Kabarnya, rencana pemÂbatasan BBM dibaÂtalkan karena tekanan dari paÂra Agen Tunggal PeÂmegang TungÂgal MeÂrek (ATPM). Apalagi sejak diÂumumkan rencana pemÂbatasan mobil berdasarkan kaÂpasitas meÂsin, para pengusaha moÂbil itu langsung melakukan kunÂjungan ke sejumlah menteri biÂdang ekoÂnomi, termasuk menteri ESDM.
Menanggapi itu, Wacik memÂbantah ada tekanan dari para ATPM terkait penunÂdaan pelakÂsanaan pembatasan BBM dengan kapaÂsitas mesin di atas 1500 CC.
“Tidak ada tekanan ke saya dari ATPM. Mereka tidak bisa meÂnekan saya. Yang bisa tekan saya cuma rakyat,†tegasnya.
Ketua I Gabungan Industri KenÂdaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D Sugiarto juga memÂbantah adanya tekanan kepada pemerintah untuk memÂbatalkan pembatasan BBM subÂsidi buat mobil dengan Âkapasitas mesin 1.500 CC ke atas.
“Tidak ada tekanan kepada peÂmerintah untuk pembatalan,†ujar Jongkie di Jakarta, kemarin.
Namun, kata JongÂkie, konseÂkuensi dari pembatasan itu akan berdampak pada meÂningÂkatnya subsidi. Karena itu, dia meÂngÂusulÂkan pemerintah memÂperÂcepat program konversi BBM ke gas.
Dikatakan, pihaknya juga sudah mengusulkan kepada prinsipal untuk memproduksi kendaraan dilengkapi dengan converter kit.
Direktur Indonesia Monitoring Center (IMC) Supriansa berpenÂdapat, pembatalan ini memÂperÂlihatkan tidak adanya keseÂriusan dari pemerintah untuk melakukan pembatasan BBM subsidi. MenuÂrut dia, dengan terus diÂtunda-tunÂdanya pembatasan, menyebabÂkan bengkaknya angÂgaran. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: