Program Konversi BBM ke Gas Cuma Omdo Tuh ...

Koordinasi Antar Menteri Ekonomi Dinilai Kurang Mantap

Kamis, 26 April 2012, 08:03 WIB
Program Konversi BBM ke Gas Cuma Omdo Tuh ...
ilustrasi/ist
RMOL.Pemerintah diminta segera percepat progres konversi bahan bakar minyak (BBM) ke gas. Hal itu untuk menekan ketergantungan masyarakat akan BBM.

Wakil Direktur Reforminer Institute Komaidi Notonegoro me­nyatakan, cadangan minyak Indo­nesia akan habis 12 tahun lagi. Jika tetap tergantung pada BBM, impor akan semakin tinggi.

“Karenanya program konversi harus digalakkan. Pemerintah jangan omong doang (omdo). Mes­­ki program itu memakan wak­tu, pemerintah harus merea­lisasikannya,” katanya.

Dia juga mengusulkan peme­rintah untuk mensubsidi harga gas guna menarik investor. Se­bab, selama selisih harga gas dan premium kecil maka konversi akan sulit dilakukan.

Sementara ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Anggito Abimanyu juga mengatakan hal sama. Menurutnya, untuk menekan kuota BBM dan men­jaga APBN, pemerintah harus mempercepat program konversi ke gas. “Konversi ke gas harus dilakukan bertahap agar keter­gan­tungan kepada BBM me­nurun,” jelas­nya.

Lebih lanjut, Komaidi menang­gapi pembatalan pembatasan BBM subsidi 1 Mei mendatang. Menurutnya, dengan diundur­kan­nya kembali rencana pembatasan BBM semakin memperlihatkan koor­dinasi menteri-menteri bi­dang ekonomi tidak kompak dan berjalan sendiri.

Ia juga menyindir alasan peme­rin­tah menunda pembatasan BBM subsidi karena belum siap. Jika memang serius, pemerintah ting­gal mematangkan konsep yang sudah dipersiapkan sejak lama itu. Apalagi, sebelumnya peme­rintah juga berencana mela­ku­kan pembatasan pada 2011 tapi ter­tunda dengan alasan yang sa­ma, infrastrukturnya belum siap.

Sementara pihak Pertamina meng­ungkapkan per­mintaan gas domestik diper­kirakan terus me­ningkat pe­sat terkait dengan se­makin ba­nyak­nya infrastruktur penerima LNG dan pipa transportasi gas.

Direktur Gas Pertamina Hari Karyuliarto mengatakan, per­min­taan gas domestik pada 2009 sekitar 3.500 MMSCFD (Million Metric Standard Cubic Feet per Da) pada 2009 menjadi 4.700 MMSCFD pada 2015.

Menurut dia, peningkatan per­mintaan itu dipicu oleh program pe­merintah untuk merevitalisasi pabrik pupuk guna meningkatkan ke­tahanan pangan, optimalisasi pe­manfaatan gas bumi untuk pem­­bangkit listrik, permintaan bahan baku industri, serta pro­gram konversi BBM ke bahan bakar gas untuk transportasi dan rumah tangga.

“Pertamina siap menjadi back­bone bagi upaya pemenuhan ke­bu­tuhan gas tersebut dengan mem­­percepat pembangunan infra­struk­tur gas bumi nasional,” ujar Hari.

Selain itu, meningkatnya per­mintaan juga dipengaruhi dengan terus menurunnya tingkat pro­duksi minyak dan kenaikan harga mi­nyak mentah dunia yang men­dorong peningkatan harga pro­duknya. Dengan harga gas bumi yang relatif lebih murah, banyak konsumen dalam negeri yang beralih ke gas.

Lebih lanjut, kata dia, Perta­mina dalam jangka pendek segera menyelesaikan beberapa proyek in­frastruktur LNG nasional, di antaranya modifikasi kilang LNG Arun menjadi terminal penerima berikut pipa transmisinya dari Aceh ke Sumatera Utara, jaringan Integrated Trans Java Pipeline dan beberapa terminal penerima LNG mini di sembilan titik untuk kebutuhan pembangkit listrik PLN di Kawasan Timur Indonesia.

Menurut Hari, pengiriman perdana LNG dari Bontang untuk pasar domestik merupakan tonggak sejarah penting bagi Pertamina, dan Indonesia dalam upaya pemenuhan kebutuhan gas domestik. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA