Dia pun berpesan, agar MenÂteri Dahlan memperhatikan BUMN karya yang jumlahnya lebih dari 10.
“BUMN karya itu harus dibuat holding, kalau tidak di-merger kan saja. Buat apa banyak-banyak BUMN di sektor yang sama. Itu yang harus dikerjakan oleh Dahlan agar bisa menyelesaikan permasalahan yang ada di BUÂMN,†cetusnya saat dikontak Rakyat Merdeka, kemarin.
Sementara Ketua Komisi VI DPR AirÂlangga Hartanto menghimbau, perampingan BUMN ini harus dengan perencanaan dan blueÂprint yang jelas. Tanpa blueÂprint yang jelas, rightsizing itu akan sulit dan kemungkinan nantinya tidak akan berhasil.
“Korporasi ini kan milik neÂgara, maka harus ada transparansi dan keterbukaan informasi keÂpada negara. Misalkan pergantian direksi dan restrukturasi harus melalui melalui mekanisme dan sistem yang sesuai,â€pintanya keÂpada Rakyat Merdeka.
Menurut dia, urusan korpoÂrasi dan masalah pemegang saÂham harus dikelola dengan straÂtegi yang tepat. Tujuannya, agar peruÂsahaan yang tergabung dalam holding punya daya saing dan mampu bekerja seÂcara makÂsimal.
Pendapat berbeda terlontar dari anggota Komisi VI DPR Emil Abeng. Dia menilai rightÂsizing BUMN berjalan lamban. “ProÂgram itu sudah dibuat oleh menÂteri BUMN pertama. SehaÂrusÂnya sudah terlihat sejak JaÂnuari 2012. Kalau sekarang baru diÂmatangÂkan, itu telat, dan harus dikebut,†tegas anak bekas Menteri BUMN Tanri Abeng. Dia juga menyarankan agar BUMN memÂpercepat holÂding BUMN. Selain itu dia mengÂhaÂrapkan ada sediÂkitnya lima holÂding BUMN.
“Tidak perlu baÂnyak yang penÂting bisa masuk top perusahaan dunia. Mekanisme holÂding ini saya kira sangat mungÂkin dan mudah kalau diÂjalankan secara profesioinal,†tandasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: