RMOL. Rencana pembangunan kilang minyak (revinery) untuk menekan angka impor BBM di dalam negeri belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Pasalnya, hingga kini pemerintah masih berkutat pada masalah studi kelayakan proyek kilang BBM.
Untuk diketahui, ada dua inÂvestor yang akan melakukan pemÂbangunan kilang di Indonesia yaitu Saudi Aramco untuk Proyek KiÂlang Tuban dan Kuwait PeÂtroleum International Company untuk Proyek Kilang Balongan.
“Masih diperlukan waktu sedikit untuk memperbaiki (studi kelaÂyakan) tadi. Yang sedang diÂbuat Pertamina, sedang diÂlengÂkapi dan setelah selesai nanti diÂrapatkan dalam forum utama deÂngan wakil presiden dan menteri-menÂteri terkait,†ujar Menteri PerÂindustrian (Menperin) MS HiÂdayat seusai memberikan pengÂhargaan peniÂlaian kinerja keÂpada unit kerja terÂbaik di kantornya, kemarin.
Hidayat mengatakan, nilai inÂvestasi untuk pembangunan kiÂlang itu masing-masing mengÂhaÂbiskan lebih kurang 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp 90 triliun. Investasi kilang ini komprehensif dengan petrokimia dan turunannya.
Dikatakan Hidayat, selama ini ada tiga negara penghasil minyak menÂtah yakni Iran, Saudi Arabia, dan Kuwait. “Yang Iran juga perÂnah kita coba tapi gagal karena masalah non bisnis,†jelasnya.
Kendati begitu, pemerintah akan mencoba menggolkan pemÂbangunan kilang tersebut dengan kedua investor itu.
Menurut Hidayat, pembanguÂnan kilang tersebut memerlukan inÂsentif. Hasil kilang tersebut akan menambah pasokan BBM PerÂtamina dan yang paling penÂting juga akan ada produk-produk turunannya yakni petrokimia sampai yang paling hilir.
“Ini bisa menjadi peluang produk turunan petrokimia, tentu akan menghasilkan banyak sekali perusahaan investasi baru untuk joint dan menghasilkan tenaga kerja baru,†papar menteri asal Partai Golkar ini.
Dia mengaku, saat ini PertaÂmina sedang melengkapi berÂkasÂnya. Terkait dengan permintaan dari kedua investor yang minta ada tambahan insentif, Hidayat meÂngatakan masih harus dineÂgoÂsiasikan dengan kemampuan peÂmerintah.
Menurut Hidayat, pemerintah hanya akan memberikan tax holiday kepada perusahaan induknya. Sedangkan perusahaan turunannya tidak akan diberikan.
Vice President Corporate Communication Pertamina M Harun mengungkapkan, saat ini pihaknya masih membicarakan kerja sama pembangunan kilang dengan investor tersebut. Namun, rencana pembangunan kilang terÂsebut tergantung dari pemerintah. SeÂbab, para investor meminta diÂberikan insentif fiskal untuk membangun kilang itu.
Harun mengatakan, insentif yang diminta adalah soal peÂngemÂbalian modal investasi. “MeÂmang prosesnya lama, kaÂrena insentif fiskal ada di peÂmeÂrinÂtah. Jika pemerintah mau meÂnuÂruti semua bisa langsung jalan. TaÂpi peÂmerintah masih ingin ada neÂgoÂsiasi lagi soal itu,†kata Harun
Dia menegaskan, pemÂbaÂnguÂnan kilang minyak baru saÂngat penting untuk menekan impor BBM. Saat ini pemerintah masih harus melakukan impor BBM sebesar 550 ribu barel per hari untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Dia mengingatkan, jika pemeÂrintah tidak membangun kilang baru maka kapasitas impor akan menÂjadi lebih besar lagi. DiteÂgaskan dia, ketergantungan terÂhadap impor produk tidak bagus, kaÂrena itu ke depannya pemeÂrintah harus mengamankan pasoÂkan energi dan itu harus disiapkan dari sekarang.
“Jika dua kilang itu bisa berÂoperasi cepat, maka pada 2018, kita tidak perlu impor BBM lagi. Kita hanya perlu mengolah crude di sini dan akan memberikan nilai tambah dengan menyerap banyak tenaga kerja di daerah,†jelas Harun.
Kedua kilang itu, menurutnya, akan menghasilkan BBM 600 ribu barel per hari dan itu bisa menamÂbah suplai BBM Pertamina.
Untuk diketahui, Kuwait PeÂtroleum International ComÂpany (KPC) untuk Proyek Kilang BaÂlongan meminta tambahan inÂsentif selain tax holiday. KPC juga meminta insentif pemÂbeÂbasan bea masuk untuk peralatan, teknologi, katalis, dan bahan-baÂhan kimia untuk proyek peÂngemÂbangan Kilang Balongan. SeÂdangkan, Saudi Aramco sudah tiÂdak lagi mempersoalkan keÂterÂsediaan insentif untuk proyek pemÂbaÂnguÂnan Kilang Tuban. Aramco maÂsalahnya hanya lahan saja. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.