Infrastruktur Memble, Pasar Tekstil Lokal Kalah Bersaing

Biaya Logistik di Pelabuhan Meroket

Senin, 16 April 2012, 08:00 WIB
Infrastruktur Memble, Pasar Tekstil Lokal Kalah Bersaing
ilustrasi/ist
RMOL.Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat menyindir pemerintah yang lam­ban membangun infrastruktur. Me­nurut dia, kondisi tersebut me­nyebabkan biaya logistik tinggi.

“Minimnya pembangunan in­fratruktur menyebabkan biaya logistik menjadi tinggi. Ujung-ujungnya kita kalah bersaing dari produk impor,” kata Ade.

Ia mencontohkan masih mi­nimnya infrastruktur pelabuhan. Pelabuhan Tanjung Priok sudah tidak mampu lalu menampung lagi kapal-kapal besar.

“Sekarang kapal tidak bisa langsung masuk karena harus antre. Ini yang membuat lama dan biaya itu bebankan ke pe­ngu­saha,” tegasnya.

Karena itu, Ade berharap prog­ram Masterplan Percepatan Per­luasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) bisa mem­percepat pembangunan infra­struktur. Dia juga meminta ang­kutan logistik tidak hanya di­fokuskan pada angkutan jalan.

Menurut Ade, yang harus dila­kukan adalah mengembangkan infrastruktur kereta api karena le­bih cepat dan bebas macet. “Jika itu bisa dikembangkan biaya lo­gistik bisa ditekan,” cetusnya.

Pemerintah memang menar­getkan biaya logistik turun tiga per­sen menjadi 24 persen dari Pro­duk Domestik Bruto (PDB) di 2015 dari semula 27 persen.

“Kita ingin melakukan efi­siensi biaya logistik sekaligus pe­ngawasannya. Yang kita target me­nurunkan biaya logistik 3 per­sen terhadap PDB pada 2012,”ungkap Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawady.

Edy menjelaskan, negara se­kelas Amerika serikat (AS) me­miliki biaya logisitk hanya sem­bilan persen dari PDB-nya.

Namun begitu, dengan adanya rencana pengurangan biaya lo­gistik tersebut, dia tidak men­jamin akan ada penghematan siginifikan dalam biaya logistik tersebut dikarenakan target p­e­nurunannya hanya 3 persen.

“Biaya logistik dibanding PDB sekarang posisi kita 27 persen, lalu AS 9 persen, kita mau me­ngu­rangi sampai 3 persen tapi kita nggak terlalu mau ambisi, negara pusing,” jelasnya.

Selain itu, yang terpenting adalah memperkuat pereko­no­mian domestik agar pendis­tri­busian ke segala daerah berjalan dengan lancar.

“Yang paling penting kita ingin memperkuat integrasi ekonomi domestik. Desa yang terisolasi kita buka, salah satunya. Tahun ini kita akan bangun pusat dis­tri­busi pasar. Tapi paling tidak pada tahun ini ada 2 pusat distribusi dan pemba­ngunan pasar-pasar baru, revita­li­sasi pasar, pasar desa, pasar tra­di­si­onal, untuk mengurangi dispa­ri­tas biaya transaksi,” tuturnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA