Kurang Konsumsi ASI, Bayi Rawan Kena Alergi

Minggu, 15 April 2012, 08:12 WIB
Kurang Konsumsi ASI, Bayi Rawan Kena Alergi
ilustrasi/ist
RMOL.Air susu ibu (ASI) sangat diperlukan pada awal pertumbuhan bayi. Namun, apa jadinya kalau bayi kurang minum ASI? Bayi bisa mengalami alergi karena mengkonsumsi susu sapi sebelum berusia enam bulan.

Orangtua seharusnya me­was­padai jika bayinya menga­lami alergi dan tetap memberikan ASI. Protein pada susu sapi ternyata tidak dapat diterima baik oleh beberapa anak sehingga memicu timbulnya alergi.

Namun, karena terbatasnya produksi ASI, seorang ibu ter­paksa memberikan  susu formula ke bayinya. Padahal, sebagian besar bahan susu formula tersebut berasal dari protein susu sapi.

Dokter Spesialis Anak dan Kon­sultan Alergi Imunologi dari RSCM Dr. dr. Zakiudin Munasir, SpA(K) mengatakan, faktor pe­nyebab alergi sebenarnya bukan hanya disebabkan susu sapi.

“Faktor genetika atau keturun­an, masalah imunitas dan faktor lingkungan juga turut mem­pe­ngaru­hinya,” ucap dr Zakiudin da­lam diskusi media di Jakarta, bebe­rapa waktu lalu.

Dia mengungkapkan, bayi yang berusia kurang dari 12 bulan le­bih rentan menderita alergi susu. Hal ini disebabkan sistem salur­an pencernaan bayi masih belum sem­purna. Faktor ketu­ru­nan dari orang­tua yang menga­lami alergi bisa mencapai 50 persen, Namun dia mengin­gat­kan, jenis alergi yang dialami anak belum tentu sama dengan orangtuanya.

Misalnya, seorang ayah men­derita arlegi debu, bisa jadi anak justru alergi terhadap sea­food atau makanan laut. Se­ka­li­pun be­gitu, risiko alergi pada bayi se­be­narnya bisa ditekan. Salah satu­nya dengan memberikan ASI eks­klusif dan ibu berpantang ma­ka­nan tertentu.

Selain itu, imunisasi yang dibe­rikan bayi juga dapat mengurangi risiko infeksi pada bayi. Jika bayi mendapat imunisasi, keke­balan tubuhnya  terhadap kuman se­makin tinggi.

Gejala alergi ini memunculkan berbagai reaksi. Seperti kulit gatal kemudian meme­rah. Selain itu juga reaksi di saluran cerna, mulai dari muntah dan diare. Gejala aler­gi pun tidak langsung terlihat, bu­tuh waktu setengah hingga dua jam setelah anak meminum susu sapi.

Sementara gejala yang sering di­abaikan para orangtua adalah se­ring menyepelekan batuk dan pi­lek, karena diangap hal yang biasa, justru harus waspada jika bayi mengalami batuk dan pilek yang berkepanjangan. Gejala batuk pilek bisa jadi salah satu tanda bayi mengalami alergi susu sapi.

“Dari beberapa kasus yang terjadi, batuk pilek merupakan gejala yang sering diabaikan. Se­bab, kebanyakan orang meng­ang­gap batuk dan pilek adalah hal biasa, bukan gejala alergi,” jelas dr Zakiudin.

Pada alergi berat atau akut, bayi bisa mengalami nyeri perut yang disertai kejang-kejang pe­rut, biasanya terjadi satu hing­ga tiga jam setelah meminum susu. Gejala berikutnya adalah bayi me­ngeluarkan tinja yang ber­cam­pur darah.

Dikatakan, alergi susu sapi ini biasanya akan menghilang se­be­lum anak ber­usia tiga tahun, meski ada juga yang menetap sampai anak ber­anjak remaja. Anak yang men­de­rita alergi susu sapi, baik itu yang derajat ringan atau sedang, sebai­k­nya menghindari produk makanan yang berbahan susu agar alerginya tidak menjadi berat. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA