Kritikan tersebut disamÂpaiÂkan bekas Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menanggapi peÂmeÂrintah yang kembali meÂwaÂcaÂnakan akan melakukan pemÂbaÂtasan penggunaan BBM subsidi untuk mobil dengan kapasitas mesin di atas 1300 CC.
“Apapun itu nanti bentuknya, laksanakan saja. Capek deÂngarÂnya. Pemerintah kan gitu, kalau ada kritis, mudur lagi. Nggak boÂleh itu,†ujar JK di Jakarta, kemarin.
JK yang juga Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) mengatakan, pemerintah sudah hampir satu tahun merencanakan penghematan. Mulai dari pemÂbatasan sampai menaikkan harga, tapi hingga kini belum ada satu pun kebijakan yang terealisasi.
“Dalam negara itu yang penÂting dilaksanakan. Pemerintah kita terlalu, terlalu banyak waÂcana,†sindir bekas Ketua Umum Partai Golkar itu.
JK juga mempertanyakan renÂcana pemerintah yang akan meÂlakukan pembatasan BBM berÂsubsidi untuk mobil kapasitas mesin di atas 1.300 CC ke atas. Menurutnya, mobil kelas ini juga banyak dimiliki orang-orang kaya sebagai mobil kedua atau bahkan ketiga. Artinya, pemÂbatasan BBM berdasarkan 1.300 CC belum tentu tepat sasaran untuk mengurangi konsumsi BBM subsidi oleh orang kaya.
Hal senada disampaikan Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri Purnomohadi. Dia menilai, saat ini terlalu baÂnyak wacana yang dikeluarkan peÂmerintah untuk menekan konÂsumÂsi BBM. Menurutnya, keÂtiÂdakÂpastian itu membuat para peÂngusaha pom bensin menjadi bingung.
“Sebelumnya kan pemerintah merencanakan untuk melakukan pemÂbatasan, tapi kemudian dibaÂtalkan dan lebih memilih opsi kenaikan. Sekarang mereka mau lakukan lagi pembatasan. Ini kan buat kami bingung,†katanya kepada Rakyat Merdeka, di JaÂkarta, kemarin.
Ia menilai, pemerintah tidak pernah percaya diri mengambil kebijakan BBM. Karena itu, tidak aneh jika kebijakan soal BBM ini terus berubah-ubah. Akibat tidak adanya kepastian dalam kebiÂjakan penghematan itu membuat banyak pengusaha pom bensin yang rugi.
Eri menjelaskan, saat rencana pertama pemerintah melakukan pembatasan BBM, banyak peÂngusaha pom bensin yang sudah melakukan investasi dengan meÂnambah dispenser pertamax. Tapi kenyataan pemerintah tidak jadi melaksanakannya. “Itu memÂbuat peÂngusaha sekarang kesuÂlitan dana, apalagi jualan perÂtamax tiÂdak laku karena mahal,†jelasnya.
Ia juga menilai, kebijakan peÂmerintah yang akan melakukan pelarangan penggunaan BBM subsidi untuk mobil kapasitas mesin di atas 1300 CC tidak akan berjalan mulus, karena pengaÂwasannya sulit. Apalagi, Xenia atau Avanza yang bermesin 1300 CC dan 1500 CC mirip benÂtukÂnya.
Karena itu, pemerintah perlu membuat petunjuk teknis soal itu, jangan hanya mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) pembatasannya saja. “Kami para pengusaha sih mengusulkan kenaikan harga saja sebesar Rp 500 per liter. Itu simple dan tidak perlu pengawasan,†jelasnya.
Ia juga melihat, kebijakan pelarangan mobil kapasitas mesin 1300 CC ke atas tidak akan berjalan maksimal, karena keÂbijakan ini akan mudah dipoÂlitisasi. “Intinya, kebijakan itu kan melarang mobil bermesin 1300 CC ke atas beli premium dan memaksa mereka mengÂguÂnakan pertamax yang harganya sudah diserahkan ke pasar. Ini pasti menimbulkan banyak peÂnolakan,†katanya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero WaÂcik mengatakan, pemerintah masih memfinalisasi aturan pelaÂrangan mobil dengan kapasitas mesin tertentu untuk membeli bensin premium. “Masih disusun, ada beberapa usulan, ada 2.000 CC ke atas, 1.500 CC ke atas, 1.300 CC ke atas yang tidak boleh membeli BBM bersubdi,†kata Wacik, di Jakarta, kemarin.
Dia mengatakan, kebijakan tersebut bertujuan untuk meneÂrapkan azas keadilan. Sebab, selama ini BBM subsidi banyak diÂnikmati oleh kalangan meneÂngah ke atas. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: