Percepat Pembangunan Rusun Pengusaha Hong Kong Digaet

Kamis, 05 April 2012, 08:11 WIB
Percepat Pembangunan Rusun Pengusaha Hong Kong Digaet
ilustrasi, rusun
RMOL.Guna mempercepat pembangunan proyek rumah susun (rusun), Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) mengajak para pengusaha Hong Kong yang tergabung dalam Hong Kong Infrastructure Development And Real Estate untuk ikut menanamkan investasi dalam pembangunan rusun di Indonesia.

Pemerintah berharap ke­ikutsertaan pengusaha asing bisa memberikan masukan tentang desain pembangunan kota baru di Indonesia.

“Para pengusaha bi­dang in­frastruktur dan real estate di Hong Kong punya pengalaman da­lam penataan hunian secara vertikal. Saya mengajak mereka untuk ikut berinvestasi,” ujar Menpera Djan Faridz di Jakarta.

Djan menyatakan, pembangu­nan rumah susun di perkotaan merupakan salah satu program yang perlu ditingkatkan. Jika mas­yarakat tinggal di hunian ver­tikal tersebut, secara tidak lang­sung akan mengurangi mo­bilitas masyarakat sehingga bisa me­ngu­rangi kemacetan.

Chief Executive Hong Kong Infrastructure Development And Real Estate Ho On Sing Thomas mengatakan, pihak­nya sangat tertarik atas tawaran investasi da­ri Menpera untuk pem­bangu­nan rusun di Indonesia.

Sebab, pangsa pasar hunian vertikal di Indonesia memang cu­kup besar serta dapat mening­katkan hubungan antar kedua negara. “Kami sangat tertarik dengan paparan dari Men­pera tentang kondisi serta kebutuhan masyarakat akan peru­mahan di Indonesia,” katanya.

Tawaran untuk membangun rusun, desain konsep pem­ba­ngu­nan wilayah dan kota baru sa­ngat baik. “Kami telah memiliki pe­nga­laman untuk membangun kota besar seperti Hong Kong saat ini,” tuturnya.

Thomas yang juga President Hong Kong Cons­truc­tion Asso­ciation mengungkapkan, salah satu hal penting yang perlu di­perhatikan dalam pemba­ngu­nan rusun antara lain harus de­kat de­ngan sarana transpor­tasi serta tempat kerja. Jika hal itu dapat diwujudkan, tentu masalah ke­macetan akan dapat teratasi de­ngan baik.

“Kami siap membantu Ke­men­pera dalam mendesain pem­ba­ngunan perumahan bagi ma­sya­rakat,” tandasnya.

Pengembangan Kota Baru

Menyinsung soal pengemba­ngan kota-kota baru seperti Kota Maja, imbuh Djan Faridz, akan terus dilakukan supaya kegiatan per­eko­nomian serta kawasan per­mu­kiman di sana tidak hanya ter­fokus di Ibukota Jakarta.

Setidaknya, kata Djan, Indo­nesia juga telah mendapatkan bantuan pinjaman lunak dari Jepang un­tuk pembuatan desain kota dan in­frastruktur di Kota Maja.

“Ibukota Jakarta, Medan, Sura­baya dan Bandung sudah terlalu padat untuk perumahan ma­sya­rakat. Kami tengah berupaya agar tanah di Kemayoran yang luas­nya sekitar 300 hektar bisa di­manfaatkan untuk pembangunan rusun bagi masyarakat ber­peng­ha­silan rendah,” tegasnya.

Jika rusun dapat terwujud baik, diperkirakan hunian verti­kal ter­sebut dapat menampung se­kitar 500 ribu orang lebih ma­sya­rakat yang belum memiliki ru­mah layak huni.

Kemenpera juga tengah meng­upayakan penataan kawasan ku­muh di sepanjang Kali Cili­wung agar mereka juga bisa di­pindah­kan ke rusun yang akan di­ba­ngun tidak jauh dari Stasiun Mang­garai.

“Upaya ini memang tidak mu­dah karena budayanya me­mang berbeda dengan negara asing lainnya. Namun, kami tidak akan menyerah dan akan terus meng­gandeng masyarakat dan peme­rintah daerah untuk men­dorong pembangunan rusun di daerah,” harap menteri dari PPP itu.

Dikatakan, keikutsertaan para pengusaha asing diharapkan da­pat me­ning­katkan investasi di sektor pem­ba­ngunan perumahan dan kawasan permukiman.

Ditanya Rakyat Merdeka apa­kah harga rusun tetap akan naik, meskipun harga BBM batal naik, Djan mengaku belum berani memastikan.

“Kita masih menghitung. Be­rapa besarannya, masih dalam pembahasan. Yang pasti harga rumah tetap akan ada kenaikan,” ujarnya.

Namun, ia belum berani mem­be­rikan estimasi seberapa besar dampak pem­batalan kenaikan harga BBM terhadap sektor pe­rumahan. Sebab, masih dalam proses peng­hitungan.

“Tetap ada kenaikan (harga rumah) sedikitlah. Bukan soal BBM jadi naik atau nggak, tapi dikarenakan kenaikan harga bahan-bahan banggunan akibat inflasi dan upah para pe­kerja bangunan,” kilahnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US