BI Pede Inflasi Bisa di Bawah 6,8 Persen

Perkuat Operasi Moneter

Sabtu, 24 Maret 2012, 08:18 WIB
BI Pede Inflasi Bisa di Bawah 6,8 Persen
Bank Indonesia (BI)
RMOL.Laju inflasi akan merangkak naik di kisaran 7-8 persen akibat dampak kenaikan harga bensin per 1 April nanti. Namun, BI tetap menyakini inflasi di 2012 di bawah angka 6,8 persen.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution me­nu­turkan, inflasi sepanjang 2012 bisa mencapai di bawah 6,8 per­sen kalau Tarif Dasar Listrik (TDL) batal dinaikkan.

“Kalau tariff TDL tidak di­naik­kan, inflasi bisa di bawah 6,8 persen. Pengaruhnya 0,25 persen kira-kira,” ungkap Darmin di acara pengumuman nama-nama kan­didat yang lolos menjadi De­wan Komisioner Otoritas Jasa Ke­uangan (DK-OJK) di Jakarta.

Menurut perhitungan Bank Sentral, kenaikan TDL akan me­nyumbang inflasi sebesar 0,25 persen. Makanya, dengan batal­nya rencana kenaikan TDL ter­sebut, BI memperkirakan bahwa inflasi bisa di bawah 6,8 persen.

Sedangkan pengamat ekono­mi dari Uni­versitas Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko yang mem­perki­rakan, inflasi di kisar­an 7-8 per­sen. Itu artinya, inflasi lebih besar dari pertumbuhan eko­nomi tahun ini yang ditar­getkan 6,5 persen.

“Dalam kondisi seperti ini, daya beli masyarakat menurun dan itu berimbas pada me­nu­runnya ting­kat kese­jah­teraan masyarakat, terutama masyara­kat kelas me­nengah ke bawah,” ujar Agustina saat di­hubungi Rakyat Merdeka, Ka­mis, (22/3).

Ia juga menyebutkan tambahan inflasi yang dipicu kenaikan ben­sin bisa mencapai 3,5 persen se­hingga inflasi menjadi 9,1 per­sen. Padahal, kata dia, daya beli mas­yarakat selama ini men­jadi peno­pang pertumbuhan eko­nomi. Pro­duk Domestik Bruto (PDB) lebih dari 50 persen disum­­bang oleh konsumsi domestik.

“Untuk itu, butuh mekanisme fiskal untuk mempertahankan daya beli masyarakat,” jelasnya.

Ekonom Bank Danamon  Anton Gunawan berpendapat, tingkat inflasi tahun ini akan naik tinggi. Menurutnya, besaran ke­naikan inflasi pasca kenaikan bensin se­cara langsung akan mempe­nga­ruhi pergerakan rupiah. Sejum­lah analis menilai, untuk jangka pen­dek, tingkat inflasi yang tinggi akan memukul rupiah.

“Di perkirakan akhir tahun inflasi akan berada di luar range BI, yakni hampir 7,9 persen,” jelas Anton.

Selain itu, kata Anton, kenaik­an harga bensin akan membuat pertumbuhan ekonomi negatif karena target di 2012 sekitar 6,5 persen sulit diwujudkan.

Pengamat pasar modal Yanuar Rizky mengingatkan pemerintah untuk mencermati fakta bahwa kelompok masyarakat mampu lebih tahan dengan dampak in­flasi dibandingkan total pen­duduk 240 juta jiwa.

“Yang jelas, dampak dari ke­naikan harga bensin ini bakal menyebar ke mana-mana,” jelas Yanuar.

Kepala Biro Humas Bank In­do­nesia Difi A Johansyah me­nambahkan, BI akan mengambil langkah kebijakan untuk meng­antisipasi dampak inflasi jangka pendek tersebut melalui pe­ngu­atan operasi moneter untuk me­ngendalikan ekses likuiditas jangka pendek, dengan tetap men­jaga konsistensi kebijakan suku bunga dengan perkiraan makro ekonomi ke depan. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA