Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution meÂnuÂturkan, inflasi sepanjang 2012 bisa mencapai di bawah 6,8 perÂsen kalau Tarif Dasar Listrik (TDL) batal dinaikkan.
“Kalau tariff TDL tidak diÂnaikÂkan, inflasi bisa di bawah 6,8 persen. Pengaruhnya 0,25 persen kira-kira,†ungkap Darmin di acara pengumuman nama-nama kanÂdidat yang lolos menjadi DeÂwan Komisioner Otoritas Jasa KeÂuangan (DK-OJK) di Jakarta.
Menurut perhitungan Bank Sentral, kenaikan TDL akan meÂnyumbang inflasi sebesar 0,25 persen. Makanya, dengan batalÂnya rencana kenaikan TDL terÂsebut, BI memperkirakan bahwa inflasi bisa di bawah 6,8 persen.
Sedangkan pengamat ekonoÂmi dari UniÂversitas Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko yang memÂperkiÂrakan, inflasi di kisarÂan 7-8 perÂsen. Itu artinya, inflasi lebih besar dari pertumbuhan ekoÂnomi tahun ini yang ditarÂgetkan 6,5 persen.
“Dalam kondisi seperti ini, daya beli masyarakat menurun dan itu berimbas pada meÂnuÂrunnya tingÂkat keseÂjahÂteraan masyarakat, terutama masyaraÂkat kelas meÂnengah ke bawah,†ujar Agustina saat diÂhubungi Rakyat Merdeka, KaÂmis, (22/3).
Ia juga menyebutkan tambahan inflasi yang dipicu kenaikan benÂsin bisa mencapai 3,5 persen seÂhingga inflasi menjadi 9,1 perÂsen. Padahal, kata dia, daya beli masÂyarakat selama ini menÂjadi penoÂpang pertumbuhan ekoÂnomi. ProÂduk Domestik Bruto (PDB) lebih dari 50 persen disumÂÂbang oleh konsumsi domestik.
“Untuk itu, butuh mekanisme fiskal untuk mempertahankan daya beli masyarakat,†jelasnya.
Ekonom Bank Danamon Anton Gunawan berpendapat, tingkat inflasi tahun ini akan naik tinggi. Menurutnya, besaran keÂnaikan inflasi pasca kenaikan bensin seÂcara langsung akan mempeÂngaÂruhi pergerakan rupiah. SejumÂlah analis menilai, untuk jangka penÂdek, tingkat inflasi yang tinggi akan memukul rupiah.
“Di perkirakan akhir tahun inflasi akan berada di luar range BI, yakni hampir 7,9 persen,†jelas Anton.
Selain itu, kata Anton, kenaikÂan harga bensin akan membuat pertumbuhan ekonomi negatif karena target di 2012 sekitar 6,5 persen sulit diwujudkan.
Pengamat pasar modal Yanuar Rizky mengingatkan pemerintah untuk mencermati fakta bahwa kelompok masyarakat mampu lebih tahan dengan dampak inÂflasi dibandingkan total penÂduduk 240 juta jiwa.
“Yang jelas, dampak dari keÂnaikan harga bensin ini bakal menyebar ke mana-mana,†jelas Yanuar.
Kepala Biro Humas Bank InÂdoÂnesia Difi A Johansyah meÂnambahkan, BI akan mengambil langkah kebijakan untuk mengÂantisipasi dampak inflasi jangka pendek tersebut melalui peÂnguÂatan operasi moneter untuk meÂngendalikan ekses likuiditas jangka pendek, dengan tetap menÂjaga konsistensi kebijakan suku bunga dengan perkiraan makro ekonomi ke depan. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: