Berita

Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim. (Foto: tim Nadiem)

Hukum

JPU: Vonis Nadiem Makarim Murni Penegakan Hukum, Bukan Kriminalisasi

RABU, 01 JULI 2026 | 14:32 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Kejaksaan Agung melalui Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) menegaskan bahwa vonis 10 tahun penjara yang dijatuhkan Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta kepada mantan Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim murni sebagai penegakan hukum.

JPU membantah keras adanya tudingan kriminalisasi terhadap kebijakan digitalisasi pendidikan dalam kasus rasuah proyek pengadaan Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) di Kemendikbudristek tahun anggaran 2019-2022 tersebut.

Anggota Tim JPU, Corneles Geeb Paulus H menyatakan, putusan yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim pada Selasa kemarin sudah sangat sejalan dan inheren dengan surat dakwaan serta alat bukti yang dihadirkan di persidangan.


"Terutama fakta-fakta persidangan yang telah kami sampaikan melalui keterangan saksi, ahli, dokumen, dan bukti-bukti elektronik lainnya. Dan ini sudah sangat sejalan dan inheren dengan putusan pengadilan," tegas Corneles dalam keterangannya, Rabu, 1 Juli 2026.

Corneles juga menggarisbawahi langkah progresif Majelis Hakim yang membuka pintu lebar untuk menjerat Nadiem dengan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Meskipun hakim menyampingkan tuntutan uang pengganti awal sebesar Rp4,7 triliun, pengadilan justru memerintahkan penyidik untuk mengusut potensi kerugian negara fantastis tersebut lewat jalur TPPU. Terlebih, hakim secara tegas menyebut Nadiem sebagai pelaku utama.

"Artinya hakim memerintahkan penyidik untuk melakukan penyidikan TPPU dengan potensi kerugian negara Rp4,7 triliun. Bahkan dalam putusan hakim menyebut NM (Nadiem Makarim) sebagai pelaku utama," jelasnya.

Ia meyakinkan publik, seluruh proses hukum mulai dari penyelidikan, penyidikan, penetapan tersangka, hingga penuntutan didasarkan atas analisis hukum yang sangat kuat dan objektif.

"Perlu kami tegaskan di sini bahwa Majelis Hakim telah membuktikan bahwa kita tidak pernah melakukan kriminalisasi atas kebijakan. Yang kita lakukan adalah murni penegakan hukum," imbuhnya.

Bagi kejaksaan, putusan ini bukanlah panggung kemenangan atau kekalahan politik bagi pihak tertentu, melainkan momentum tegaknya keadilan bagi masyarakat luas, khususnya dunia pendidikan tanah air.

"Putusan ini bukan terkait siapa yang kalah atau menang. Tidak ada sama sekali. Tapi hari ini hukum dan keadilan telah ditegakkan," ketusnya.

Ia menambahkan, vonis ini menjadi jawaban keadilan bagi anak-anak sekolah di berbagai pelosok daerah yang hak digitalisasi pendidikannya telah dirampas, serta mereka yang data pribadinya diambil demi kepentingan lembaga tertentu secara ilegal.

"Kami penuntut umum melupakan segala hinaan, cacian, makian, cemooh, hingga ancaman yang disampaikan di dalam maupun di luar persidangan. Inilah keadilan yang sebenarnya," kata Corneles.

Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta, Purwanto S Abdullah menjatuhkan vonis 10 tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsider 190 hari kurungan kepada Nadiem Makarim.

Nadiem juga diwajibkan membayar uang pengganti senilai Rp809 miliar, dengan ketentuan jika tidak dibayar maka harta bendanya disita, atau diganti pidana 5 tahun kurungan.

Hakim menyatakan, Nadiem terbukti bersalah melanggar Pasal 604 juncto Pasal 18 UU Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 20 huruf c UU No 1/2023 tentang KUHP, sebagaimana dakwaan subsider JPU.

Dalam pertimbangannya, hakim menilai perbuatan Nadiem bertentangan dengan komitmen pemberantasan korupsi dan dilakukan secara terencana, terstruktur, serta sistematis. Keadaan ekonomi Nadiem yang berkecukupan juga dinilai menghilangkan alasan adanya dorongan ekonomi dalam melakukan korupsi.

Sementara hal yang meringankan, Nadiem bersikap sopan, kooperatif, belum pernah dihukum, dan pernah berkontribusi dalam inovasi teknologi pendidikan.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Mensos: Tiga Korban Penganiayaan di Sekolah Rakyat Jember Kembali Belajar

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:30

Agrinas Palma Bareng CPP Peringati Sumpah Pemuda Lewat Giat Sosial

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KNMP Disiapkan untuk Dongkrak Pendapatan Nelayan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:11

KoMPAS Minta Polri Bersihkan Oknum Bermasalah dari Jabatan Strategis

Jumat, 30 Oktober 2026 | 20:03

Kapolri Mutasi Lagi, Kapusdokkes dan Kapuskeu Diganti

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:55

Dugaan Pencemaran Nama Baik di Medsos, Wanita Asal Sumut Dipolisikan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:44

Investasi Era Prabowo Tembus Rp3.923 Triliun Serap 5,4 Juta Tenaga Kerja

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:43

BRI Fellowship Journalism 2026 Ajak Jurnalis Terlibat dalam Urban Farming di Bandung

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:33

Kasus ISPA di 7 Provinsi Turun Drastis Usai Diguyur Hujan

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:17

Prabowo Gratiskan Biaya Sekolah dan Perluas Kampus SMA Taruna Nusantara

Jumat, 30 Oktober 2026 | 18:58

Selengkapnya