Berita

Penyuluh Pajak Ahli Madya DJP, Eddy Triono. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

Defisit APBN jadi Alasan DJP Belum Mampu Hapus Pajak Pencairan JHT

SELASA, 30 JUNI 2026 | 19:53 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mengakui pemerintah belum memiliki kemampuan fiskal untuk menghapus pajak atas pencairan dana Jaminan Hari Tua (JHT). 

Penyuluh Pajak Ahli Madya DJP, Eddy Triono mengungkapkan pemerintah masih bergantung pada utang untuk menutupi kebutuhan belanja karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih mengalami defisit.

"Ini mau jawaban jujur atau jawaban formal? Jujur ya, kayaknya belum mampu," kata Eddy dalam media briefing di kantor DJP, Jakarta pada Selasa, 30 Juni 2026.


Eddy menggambarkan beratnya kondisi fiskal pemerintah dengan menyinggung beban pengelolaan APBN yang harus ditanggung Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

"Jadi gini kenapa anda lihat Pak purbaya itu Makin lama makin kurus. Lihat matanya yang tadinya seger jadi mata panda. Saya pernah jadi bendahara kelas Itu sering nombok Entah uang ini kemana, Ini negara nih Kalau gitu levelnya insane, level yang susahnya. Jadi harus ngukur belanja negara, ngukur penerimaan negara Ini kalau masih kurang masih ada hutang loh," jelasnya.

Ia menjelaskan, belanja negara saat ini mencapai sekitar Rp3.800 triliun, sementara penerimaan negara hanya sekitar Rp3.200 triliun. Kekurangan tersebut, kata Eddy masih harus ditutup melalui penarikan utang.

"Kita APBN pengeluaran Rp3.800 triliun, penerimaan kita Rp3.200-an. Kita masih utang Rp600 triliun untuk menutupnya," jelas Eddy.

Menurutnya, dalam kondisi keuangan seperti itu pemerintah harus berhitung secara rasional sebelum memberikan tambahan fasilitas perpajakan.

"Kalau masih ada cicilan, masih ada utang, beban lebih gede dibanding yang memasukkan. Apakah kita masih berani ngasih banyak fasilitas lagi? Itu jujur nih," tuturnya.

Meski demikian, Eddy mengatakan pemerintah tetap membuka ruang untuk mengevaluasi kebijakan tersebut apabila terdapat masukan dari masyarakat dan jika kondisi fiskal memungkinkan.

"Kalau sopannya ya kita lihat, kita tampung masukan dari masyarakat. Kalau memang ini diperlukan, angkanya juga enggak signifikan, kita kabulkan," katanya.

Secara pribadi, Eddy menilai kebijakan perpajakan harus mempertimbangkan kemampuan keuangan negara.

"Kalau negara mampu, masa sih negara enggak ngasih yang terbaik buat warganya. Bayangin kalau kita negara kaya raya, kita sudah mandiri dari pajaknya. Orang-orang kaya normal bayar dengan semestinya, sudah kita kasih yang lapisan bawah benar-benar free. Anda PHK, Anda pensiun, gaji Anda sekian, UMR misalnya atau di atas UMR, kita kasih free semuanya. Yakin," pungkasnya.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

UPDATE

Perpres Pelindungan Ojol Jangan Berhenti di Atas Kertas

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:29

Awasi Ketat Penggunaan Anggaran Operasi Modifikasi Cuaca

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:16

Sakelar Cahaya di Dalam Otak

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:04

Kartu Nikah Digital Bisa Diakses melalui Simkah, Ini Caranya!

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:44

Nusron Wahid Bikin KPK Tidak Berkutik

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:24

Dulu di Depok Banyak Maling dan Begal, Sekarang Aman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:08

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Puluhan Korban Investasi Emas Polisikan Direksi PT DGJ

Minggu, 11 Oktober 2026 | 03:33

Tragedi Affan dan Bambang Jangan Terulang

Minggu, 11 Oktober 2026 | 03:14

Selengkapnya