Berita

Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia (ASI), Ali Rif'an. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Nusantara

Program Magang Nasional Diyakini Mampu Jawab Persoalan Lapangan Kerja

SELASA, 30 JUNI 2026 | 19:16 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Peluncuran Program Magang Nasional Gelombang II mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, karena dianggap sebagai salah satu langkah strategis pemerintah dalam menjawab tantangan ketenagakerjaan, khususnya bagi lulusan perguruan tinggi dan generasi muda yang sedang memasuki dunia kerja.

Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia (ASI), Ali Rif'an menilai, isu lapangan pekerjaan masih menjadi persoalan utama yang dirasakan masyarakat. Karena itu, kehadiran Program Magang Nasional dinilai sebagai kebijakan yang relevan dengan kebutuhan publik saat ini.

"Menurut data survei, lapangan pekerjaan selalu menjadi top 3 dalam persoalan paling pokok yang tengah dihadapi masyarakat saat ini. Dengan diluncurkannya Program Magang Nasional ini bisa menjadi jawaban atas persoalan yang tengah dihadapi masyarakat, terlebih khusus para mahasiswa," ujar Ali Rif'an kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Selasa, 30 Juni 2026.


Menurutnya tantangan terbesar yang dihadapi lulusan baru bukan hanya terbatasnya jumlah lowongan pekerjaan, tetapi juga adanya kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki lulusan dengan kebutuhan dunia industri. 

Program Magang Nasional, menurut Dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, sebagai jembatan yang mempertemukan dunia pendidikan dengan dunia kerja melalui pengalaman kerja langsung, pendampingan oleh mentor profesional, serta pembentukan budaya kerja yang dibutuhkan perusahaan.

Ali menjelaskan, program tersebut tidak hanya berorientasi pada penyerapan tenaga kerja dalam jangka pendek, melainkan juga menjadi investasi jangka panjang dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang lebih kompetitif.

"Program ini merupakan bentuk penguatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Melalui magang, peserta tidak hanya memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga mengembangkan keterampilan teknis, kemampuan beradaptasi, etos kerja, komunikasi, serta kemampuan menyelesaikan persoalan di lingkungan profesional," tuturnya. 

"Kompetensi seperti inilah yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi persaingan pasar kerja yang semakin kompetitif," sambung Magister Politik Universitas Indonesia (UI) ini.

Lebih lanjut, Ali menilai bahwa manfaat Program Magang Nasional dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Selain membuka akses pengalaman kerja bagi lulusan baru, program ini juga meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia melalui peningkatan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. 

"Kehadiran mentor profesional serta lingkungan kerja yang nyata memberikan kesempatan bagi peserta untuk memahami standar kerja sebelum benar-benar memasuki dunia kerja," urainya.

Di sisi lain, program tersebut juga dia perkirakan dapat memberikan dampak ekonomi bagi peserta, baik melalui uang saku dan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan selama masa magang. 

"Kebijakan ini dapat membantu meringankan beban lulusan baru sekaligus memberikan rasa aman dalam menjalani proses pembelajaran di dunia kerja," paparnya.

Ia juga menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha dalam Program Magang Nasional merupakan langkah penting dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih sehat. 

Sinergi tersebut, diharapkan dapat memungkinkan dunia pendidikan menghasilkan lulusan yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri sekaligus mempercepat proses transisi dari bangku kuliah menuju dunia kerja.

"Apabila program ini dijalankan secara konsisten, diperluas jangkauannya, dan terus dievaluasi kualitas pelaksanaannya, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh para peserta, tetapi juga oleh dunia usaha yang memperoleh talenta siap kerja, serta negara yang memiliki sumber daya manusia semakin unggul dan produktif," demikian Ali Rif'an menutup.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Hashim Bantah Janjikan HP Gratis, Ngaku Dipelintir Media

Jumat, 30 Oktober 2026 | 00:13

Hemat Biaya Operasional, Drone Pertanian Frogs Bidik Program Cetak Sawah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:45

28 Jam Pemuda Bicara di Malang Usung Deklarasi ‘Sumpah Promptmuda’

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:24

Kemenkop dan Pertamina Patra Niaga Luncurkan Model Pengumpulan Minyak Jelantah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:59

Asap dan Sengsara

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:52

Sempat Ditahan, 19 Demonstran Sumpah Pemuda Dibebaskan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:38

32,7 Juta Investor Kecewa Nilai Saham Anjlok Imbas MSCI, Hashim: Saya Juga

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:12

PLN Siap Pasok Daya Andal untuk Jaringan Usaha Telkom Group

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:47

Tim Yaqut Hadirkan Saksi Meringankan dalam Sidang Kuota Haji

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:36

Singapura Panggil 10 Perusahaan RI soal Karhutla, Rosan: Investasi Tetap Terbuka

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:21

Selengkapnya