Berita

Cover Buku Nusantaria, Sejarah Maritim Asia Tenggara. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Resensi

Encomiendas dan Operasi Tangkap Tangan

Oleh: Ryo Disastro*
SENIN, 25 AGUSTUS 2025 | 10:10 WIB

RESENSI Buku Nusantaria karya Philip Bowring.
Judul Asli Buku: Nusantaria, Sejarah Maritim Asia Tenggara.
Penulis: Philip Bowring
Penerjemah: Febri Ady Prasetyo.
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Jakarta.
Tahun Terbit: 2022.

Tahun Terbit: 2022.
Tebal: 400 halaman + i-xxx.
ISBN: 978-602-481-801-2.
Harga: 199.000,-

Encomiendas. Satu kata unik dari bahasa Spanyol. Sekilas terdengar asing di telinga Melayu seperti saya. Namun, di balik kata itu tersimpan sejarah kelam penjajahan Spanyol di luar Eropa. Ini sekelumit kisahnya.

Pasca jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani, Eropa kehilangan akses terhadap rempah-rempah. Jalur Sutra dikuasai Sultan Mehmed II, membuat bangsa-bangsa Eropa terdesak mencari jalur baru menuju sumber rempah melalui lautan. Inilah awal era penjelajahan samudra. Spanyol, yang kalah set dengan Portugal dalam Perjanjian Tordesillas (1494), terpaksa berlayar jauh ke arah barat--melintasi Atlantik, menaklukkan benua Amerika, lalu menyeberangi Pasifik demi mencapai kepulauan rempah di Asia Tenggara.

Kawasan ini dikenal dengan istilah Nusantaria: gugusan kepulauan yang mencakup Malaya, seluruh kepulauan Indonesia, Laut Natuna Utara, Filipina, hingga Papua Nugini. Nusantaria bukanlah lahan kosong. Ketika Ferdinand Magellan mendarat di Pulau Homonhon, Filipina, ia menemukan penduduk dan peradaban yang telah mapan. Kawasan ini bahkan sudah lama menjadi simpul perdagangan global, dikunjungi pedagang dari Tiongkok, Arab, dan India, serta pelaut dari Jawa, Bali, Palembang, hingga Bugis yang terbiasa berlayar antar pulau. Namun, keindahan itu berubah setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, disusul kedatangan Spanyol ke Filipina satu dekade kemudian. Hubungan perdagangan yang sebelumnya berjalan atas dasar kesetaraan, berganti dengan dominasi dan eksploitasi.

Orang Spanyol memang tak datang dalam jumlah besar. Mereka hadir bergelombang, lalu memperkuat posisi hingga benar-benar menguasai Filipina. Untuk mereka yang dianggap berjasa, Raja Philip II memberikan hak atas tanah–dikenal sebagai encomiendas. Pemegangnya, atau encomiendero, ditunjuk sebagai penguasa lokal. Namun karena orang Spanyol di Asia relatif sedikit dan perjalanan administrasi sangat panjang (dari Spanyol ke Amerika, lalu ke Filipina, dan kembali lagi), jabatan ini akhirnya banyak jatuh ke tangan para petualang yang miskin pengalaman administratif, tetapi haus keuntungan cepat.

Akibatnya, penduduk asli yang sebelumnya mengelola tanah secara tradisional dipaksa bekerja dan membayar upeti. Para encomiendero menjelma penguasa kaya dan berkuasa, sedangkan rakyat pribumi terjerembab di posisi paling bawah. Seorang uskup Filipina pernah mencatat getirnya: mereka yang dulunya orang kecil, setelah menjadi pemegang encomiendas, berubah laksana dewa dan raja--bertindak sewenang-wenang, menarik upeti dengan todongan senjata. Padahal Raja Spanyol sendiri melarang tindakan semacam itu.

Sekilas, pola ini tidak asing. Bahkan, mirip dengan kisah di negeri kita hari ini: seorang mantan tukang ojek yang gigih membantu seorang calon pejabat berkampanye, kemudian sukses dan diangkat menjadi pejabat negara. Sayangnya, karena miskin kapasitas dan hanya ingin cepat untung, akhirnya ia tergelincir pada tindakan tercela, hingga berakhir di tangan operasi tangkap tangan. Bisa jadi dia terinspirasi oleh kisah sukses para encomienderos di Filipina itu.

Inilah sekelumit kisah Nusantaria yang diurai Philip Bowring. Melalui buku Nusantaria, ia menghadirkan mosaik sejarah panjang kepulauan Asia Tenggara–mulai dari terbentuknya kawasan, keberagaman penduduk dan bahasa, hingga krisis eksistensial akibat penetrasi kolonial Eropa. Dengan latar belakangnya sebagai jurnalis kawakan, Bowring menyusun buku ini laksana kumpulan artikel sejarah yang dirangkai berdasarkan alur waktu panjang, dari 7000 SM hingga masa modern.

Bagi pecinta sejarah, khususnya sejarah maritim dan peradaban kepulauan Asia Tenggara, buku ini layak dibaca. Ia bukan sekadar menuturkan fakta, melainkan mengajak kita merenungi luka-luka lama yang masih berjejak dalam dinamika sosial-politik hari ini.

*Penulis adalah Peneliti Nusantara Centre

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

Komisi XIII DPR Soroti Perlindungan Hukum Pelaku Usaha yang Tabrak Aturan

Senin, 29 Juni 2026 | 12:22

Ketika Jalanan Pindah ke Dalam Genggaman

Senin, 29 Juni 2026 | 12:07

Gaya Komunikasi Presiden Prabowo Berisiko Menenggelamkan Kinerja Pemerintah

Senin, 29 Juni 2026 | 12:01

KPK Periksa Saksi Swasta dalam Kasus Gratifikasi Produksi Batu Bara di Kukar

Senin, 29 Juni 2026 | 11:54

Harga Bapok Kompak Anjlok, Telur Ayam Turun Jadi Rp28.850/Kg

Senin, 29 Juni 2026 | 11:32

Kasus YTR Jadi Alarm, Garnita NasDem Minta Negara Perkuat Perlindungan Perempuan

Senin, 29 Juni 2026 | 11:15

Safari Politik Jokowi Dibungkus Ritual Adat untuk Dongkrak Publisitas PSI

Senin, 29 Juni 2026 | 11:13

Petugas Haji Masih Bersiaga hingga Kepulangan Kloter Terakhir

Senin, 29 Juni 2026 | 11:07

Kenaikan Beruntun CPO Malaysia Didorong Sentimen Minyak Global

Senin, 29 Juni 2026 | 10:57

Prabowo Ingatkan Ancaman AI, Akademisi Diminta Antisipasi Dampaknya

Senin, 29 Juni 2026 | 10:52

Selengkapnya