Berita

Industri manufaktur China sedang menghadapi "mimpi buruk" yang mengkhawatirkan di depan mata, yakni krisis pasokan listrik/Net

Dunia

Krisis Listrik, Mimpi Buruk Industri Manufaktur China

SABTU, 02 OKTOBER 2021 | 16:46 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Industri manufaktur China sedang menghadapi "mimpi buruk" yang mengkhawatirkan di depan mata, yakni krisis pasokan listrik.

Sebuah survei pemerintah yang dirilis pekan ini (Kamis, 30/9), menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu mengalami penurunan menjadi 49,6 pada September. Angka ini turun dari 50,1 pada Agustus.

Merujuk pada survei yang sama, angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi, dan dalam kasus ini, hal tersebut adalah pertama kalinya survei resmi menunjukkan aktivitas manufaktur China menyusut sejak pandemi Covid-19 terjadi.


Apa penyebabnya?

Krisis listrik. Krisis listrik yang berkembang di China mengancam lebih banyak kekacauan rantai pasokan global. Menurut Biro Statistik Nasional China, pada survei yang sama, pabrik-pabrik semakin tertekan oleh melonjaknya biaya energi.

"Gambaran besarnya adalah bahwa industri mulai mendidih bahkan sebelum kekurangan listrik terbaru," kata ekonom senior China di Capital Economics Julian Evans-Pritchard, sebagaimana dimuat CNN.

Memang di satu sisi terjadi ledakan dalam konstruksi dan manufaktur yang mendorong sebagian besar pemulihan ekonomi China tahun ini. Sektor ini pula lah yang memainkan peran penting dalam pertumbuhan di China.

Namun di sisi lain, sektor itu membutuhkan banyak pasokan daya, dan dengan demikian membutuhkan sejumlah besar batu bara.

China mengalami kondisi kekurangan listrik sejak setidaknya bulan Juni lalu. Namun kondisinya terus memburuk sejak saat itu, karena harga batu bara melonjak dan provinsi-provinsi China telah berusaha memenuhi target Beijing untuk mengurangi emisi karbon.

Krisis listrik yang memburuk kemudian memicu pemadaman listrik untuk rumah tangga dan memaksa pabrik untuk memangkas produksi. Kondisi ini menjadi ancaman bagi ekonomi besar negara itu yang dapat menempatkan lebih banyak tekanan pada rantai pasokan global.

Sementara itu, menurut media pemerintah China, perusahaan-perusahaan di jantung industri negara itu telah diberitahu untuk membatasi konsumsi energi mereka demi mengurangi permintaan listrik. Laporan media lokal menunjukkan bahwa pabrik di lebih dari 20 provinsi di China harus mengurangi produksi.

Meski begitu, industri manufaktur China tidak sepenuhnya diliputi kabar buruk. Sebuah survei pribadi dari aktivitas manufaktur menunjukkan bahwa Indeks Manajer Pembelian Caixin naik dari 49,2 menjadi 50 danmenunjukkan tingkat aktivitas yang stabil di bulan September dibandingkan dengan penurunan di bulan Agustus.

Sementara itu, indeks resmi aktivitas bisnis non-manufaktur naik menjadi 53,2 dari 47,5 Agustus. Hal ini menjadi tanda bahwa sektor jasa sudah pulih. Permintaan konsumen yang lesu telah menjadi perhatian di China tahun ini.

Namun, gambaran ekonomi secara keseluruhan meresahkan. Analis di Nomura dan Goldman Sachs memangkas perkiraan mereka untuk pertumbuhan China pada tahun 2021 dalam beberapa hari terakhir karena masalah kekurangan listrik.

Analis Goldman mencatat minggu ini bahwa ada ketidakpastian yang cukup besar menuju kuartal terakhir tahun ini, mengingat ekonomi China sudah menghadapi risiko karena krisis utang di konglomerat Evergrande yang sedang diperangi.

"Masih ada beberapa ruang untuk pemulihan lebih lanjut dalam aktivitas layanan karena gangguan dari pandemi mereda," tulis Evans-Pritchard.

"Tetapi industri tampaknya akan mengalami pelemahan lebih lanjut," tutupnya.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Tanpa Rompi dan Borgol Saat Ditahan, DPP IMM Minta Kejagung Tak Istimewakan Febrie

Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:43

Belum Sebulan IPO, Direktur RANS Tiba-tiba Mundur

Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:30

Revitalisasi Pengurus AMPI Perkuat Konsolidasi Organisasi

Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:26

Pengembangan Kasus Suap Rejang Lebong, KPK Geledah Kediaman Kadis PUPR Bengkulu

Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:09

Zulhas: Swasembada Pangan Bukan Sekadar Ekonomi, tapi Kehormatan Bangsa

Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:07

PDIP Jatim Hadirkan RedTalks, Wadah Masyarakat Sampaikan Aspirasi

Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:54

Sekolah Nasional Terintegrasi: Resep Medis Kuratif Pendidikan dan Kesehatan Anak

Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:39

Tak Pakai Borgol dan Rompi, PB PMII: Febrie Adriansyah Cetak Sejarah

Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:35

TB Hasanuddin: Jangan Akali Putusan MK dengan Bebani Pelanggan

Sabtu, 25 Juli 2026 | 14:59

Lodewijk: Ancaman Indonesia Kini Bukan Hanya Perang, tapi Ekonomi hingga Iklim

Sabtu, 25 Juli 2026 | 14:49

Selengkapnya