Berita

Pengusaha AS berdarah Indonesia, Pantas Sutardja. (Foto: Istimewa)

Publika

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

KAMIS, 10 SEPTEMBER 2026 | 05:04 WIB

INDONESIA ini sebenarnya banyak melahirkan orang hebat, tapi negara lain memanen hasilnya.

Satu di antaranya Pantas Sutardja. Pria 63 tahun berdarah Indonesia ini kini menjadi warga negara Amerika Serikat dan tinggal di Saratoga, California. Namanya masuk daftar America’s Richest Immigrants 2026 di peringkat ke-91.

Kekayaannya? Tahan napas. Jangan sambil minum es teh. 1,7 miliar dolar AS. Kalau dikurskan Rp17.555 per dolar, sekitar Rp29,84 triliun. Ya, triliun. Jumlah uang kalau ditumpuk dalam bentuk pecahan seratus ribu, mungkin bukan lagi perlu dompet. Perlu gudang, forklift, mandor, dan rapat koordinasi lintas kementerian.


Forbes menempatkan Pantas di peringkat ke-2.390 orang terkaya dunia. Kekayaan itu bukan jatuh dari langit bersama hujan meteor. Bukan pula hasil tiba-tiba menemukan koper di bawah kasur.

Pantas membangunnya dari teknologi. Dari cip. Dari semikonduktor. Dari benda kecil ukurannya kadang lebih kecil dari korek api karhutla. Tetapi, nilainya bisa membuat negara-negara besar mendadak bertingkah seperti mamah muda ngidam papeda.

Pada 1995, Pantas mendirikan Marvell Technology bersama mendiang kakaknya, Sehat Sutardja, dan sang ipar, Weili Dai. Awalnya? Dirintis dari rumah di California. Nah, ini bagian membuat kita terdiam.

Di Indonesia, kalau ada anak muda bilang mau bikin perusahaan cip dari rumah, kemungkinan besar tetangganya bertanya, “Cip apa? Keripik singkong?” Pantas menjawab dengan cara berbeda. Bukan keripik, bude. Semikonduktor. 

Marvell kemudian tumbuh dari startup rumahan menjadi raksasa teknologi. Perusahaan publik bergerak di bidang semikonduktor serta penyimpanan, dengan kampus utama di Santa Clara.

Selama berkiprah di sana, Pantas menghasilkan lebih dari 300 paten. Tiga ratus paten, Wak! Bukan paten kali ala orang Medan ya. Paten yang membuktikan karya sendiri, bukan jiplak. Sementara di republik +62, ada orang satu-satunya inovasi selama lima tahun menjabat adalah mengganti desain spanduk acara. 

Pantas pernah menjadi CTO Marvell sebelum mengundurkan diri pada 2014. Dua tahun kemudian, Sehat dan Weili dipaksa mundur di tengah penyelidikan akuntansi, meskipun tidak pernah menghadapi tuntutan hukum. Setelah keluar dari Marvell, ia tidak pensiun untuk menikmati hidup sambil memandangi kolam ikan.

Lulusan Ph.D. Ilmu Komputer dan Teknik Elektro UC Berkeley ini ikut mendanai Seri A Credo Technology pada 2015. Ia duduk di jajaran direksi dan kini memegang sekitar 3 persen saham perusahaan yang melantai di Nasdaq pada 2022.

Belum cukup. Ia mendirikan LatticeWork pada 2013, perusahaan bergerak dalam platform keamanan global dan solusi edge AI.

Di sinilah sindiran politiknya mulai terasa seperti cabe rawit masuk hidung. Kita sering sibuk mencari siapa yang pantas menduduki jabatan. Sementara Pantas Sutardja sibuk membuat dirinya pantas masuk daftar orang terkaya dunia.

Kita sibuk rapat soal hilirisasi. Ia sudah lebih dulu masuk ke jantung teknologi dunia. Kita sibuk memproduksi jargon. Ia memproduksi paten. Kita sibuk memperdebatkan masa depan. 
Ia membangun masa depan, lalu menjual sahamnya di Nasdaq.

Cerita Pantas seharusnya membuat kita bangga sekaligus sedikit malu. Indonesia ternyata tidak kekurangan manusia dengan otak kelas dunia. Yang sering kurang mungkin cuma ekosistem membuat otak itu betah tinggal, bereksperimen, gagal, bangkit, lalu membangun kerajaan teknologi.

Akhirnya, darahnya tetap Indonesia. Tetapi benderanya Amerika. Teknologinya mendunia. Dompetnya Rp29,84 triliun. Lalu, kita? Masih sibuk bertanya, “Cip semikonduktor itu enak dimakan pakai sambal apa?” 

“Bang, kalau lihat wajahnya bukan koruptor. Kekayaannya dari jerih payah sendiri, bukan nilep APBN.”

Rosadi Jamani
Mantan wartawan

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya