Berita

Foto: Net

Publika

Kampus Yang Diobok-Obok

KAMIS, 10 OKTOBER 2019 | 07:57 WIB

SEBAGAI alumni kampus Dipati Ukur merasa prihatin dengan keadaan UNPAD dalam proses pemilihan Rektor saat ini. Meski telah ditetapkan (menghindari kata terpilih) Rektor Prof. DR. Rina Indiastuti, SE, M. SIE namun spirit demokrasi di ruang pendidikan telah hilang. Tanpa kompetisi sehat. Walau pasti dibantah,  kondisi ini adalah gambaran dari kuatnya intervensi Pemerintah dan tak berdayanya institusi MWA. Inilah risiko buruk jika Ketua MWA adalah seorang Menteri. Lingkungan akademik menjadi sulit menghindar dari keterpaparan kepentingan politik.

Diawali proses pemilihan yang tak mulus. Tiga kandidat Aldrin Herwani dari FE, Atip Latipul Hayat dari FH, dan Obsatar Sinaga dari Fisip dinyatakan tak satupun terpilih. Isu isu dan ganjal mengganjal bermain intensif membuat MWA gagal memilih. Menristekdikti menyatakan pemilihan diulang. Melalui panitia baru proses dilakukan dan bagai antiklimaks dari proses demokrasi kampus akhirnya Rina Indiastuti "menang" dengan aklamasi. Bukti lobi yang sukses. Pelantikan telah dilaksanakan.

Sementara Atip Latipul Hayat yang merasa sebagai korban dari kesalahan dan kegagalan  MWA, melakukan perlawanan hukum melalui PTUN Bandung. Kini masih berjalan tahapan persidangan. Meskipun proses hukum untuk kasus melawan kekuasaan sentralistik seperti ini skeptis dimenangkan, namun jika kemandirian Hakim masih ada dan gugatan berhasil, maka status Rektor walaupun telah dilantik dapat dimentahkan kembali. Artinya UNPAD gagal dan goyang kembali.


Intervensi kekuasaan Pemerintah ke dalam kampus cukup mengganggu iklim kebebasan akademik. UNPAD adalah satu model saja. Ikut campur eksekutif ke ruang akademik menjadi fenomena kekinian. Benteng kewibawaan kampus jebol dan rapuh. ITB dalam proses pemilihan Rektor diisukan akan menggandeng BIN dan BNPT. IPB dibuat "insiden" hingga dipredikatkan menjadi kampus radikal. UI lebih dulu lumpuh. UGM urusan agenda kuliah umum UAS saja dibatalkan dan dipolitisasi. Penelitian direkayasa agar sampai kesimpulan kampus banyak yang terpapar radikalisme. Dengan alasan ini Menristekdikti gesit berkoar dan masuk lebih dalam untuk mengatur dan menentukan.

Jika demokratisasi pendidikan dibusukan bahkan dimatikan, maka kampus tidak lagi menjadi tempat pembentukan kepemimpinan yang berkarakter. Mahasiswa yang diancam ancam akan menuai masa depan generasi yang lemah dan pengecut.  Pimpinan perguruan tinggi yang dijadikan boneka penguasa hanya akan berperan sebagai "tangan birokrasi" yang lembek. Bermental bebek yang mudah digiring giring.

Pendidikan Tinggi bukan untuk menghasilkan orang orang yang pintar saja. Pendidikan karakter jauh lebih penting. Negara dan bangsa butuh pemimpin yang berkarakter kuat, mandiri, dan siap menerobos  hambatan sistem. Kebijakan negara nampaknya kini mengarah pada sentralisasi kekuasaan. Menguasai semua, mengendalikan, dan ingin selalu dipatuhi. Negara yang tak bisa dikritik apalagi dilawan. Negara yang sedang menciptakan pemimpin-pemimpin yang bermental "abdi dalem".

Kita tak ingin bangsa diisi oleh sumber daya manusia antagonistik. Ingin maju tapi konvensional dan  primordial, ingin berteknologi tapi mistik, ingin berbudaya tapi primitif, dan ingin merdeka tapi bermental budak. Stop penjajahan oleh bangsa sendiri. Rektor harus mandiri dan menjadi representasi dari civitas academika bukan representasi kekuasaan otoritarian atau oligarkhis. Tak pantas insan akademis menjadi "abdi dalem". Sangat tidak pantas.

Vivat academia, Vivant Professores..!

M Rizal Fadillah

Pemerhati Politik

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Bursa Asia Ambruk, Saham Teknologi Berguguran

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:30

Nasdaq Tertekan, Investor Wall Street Waspadai Inflasi AS

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:17

Bidik Pasar Modal, Dua BUMD DKI Konsultasikan Rencana IPO ke OJK

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:06

Delta Tunda Penerbangan ke Arab Saudi Usai Serangan Riyadh hingga 2027

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:46

Logam Mulia Tertekan Dolar Jelang Rilis Inflasi Amerika Serikat

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:29

Pasar Eropa Hijau Didorong Saham Perbankan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:13

Drone Seeder Solusi Reklamasi Lahan Pascatambang, SOP Masih Digodok

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:56

Republik Konoha dan Krisis Ketiga

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:23

Olahan Sagu Inovasi TEP IPB University Ramaikan Festival Kali Maro IV Merauke

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:57

Ijazah bagi Kekuasaan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:27

Selengkapnya