Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Tidak Level

KAMIS, 23 MEI 2019 | 03:30 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

KALI ini tumben. Setiap kali ada Pilpres koran-koran besar Amerika bersikap: mendukung Capres yang mana.  Kecuali harian nasional USA Today.

Selasa kemarin koran itu berbuat 'tumben'. Kali ini menunjukkan sikap: tidak merekomendasikan Donald Trump menjadi calon presiden yang pantas dipilih. Di Pilpres tahun depan.

Biasanya koran-koran independen di Amerika 'mendukung siapa'. Bukan 'tidak mendukung siapa'.


Baru USA Today yang melakukan itu.

Alasannya diuraikan panjang lebar. Di rubrik editorialnya. Misalnya: Trump itu orangnya aneh. Tidak menentu. Tidak bisa dipegang. "Erratic," tulis USA Today.

Trump juga dinilai "tidak cukup punya kemampuan untuk menjadi panglima besar".

Ada lagi: Trump punya pribadi yang kasar dan kebohongannya berseri-seri. Serial.

Ini juga: Trump itu penuh dengan prasangka. "Trump itu tidak level dibanding watak orang Amerika," tulis USA Today.

Karena itu, menurut koran itu, rapat dewan redaksi sepakat bulat. Untuk tumben. Tidak merekomendasilan Trump sebagai calon presiden.

Selama dua tahun kepresidenannya ini Trump dinilai hanya memperdangkal dialog nasional. Wacana nasional berubah menjadi dialog yang kasar.

Semua itu didasari dari latar belakang karir panjang Trump di bisnis yang zig-zag. Yang loncat-loncat.
Sikap USA Today ini mengejutkan karena begitu dininya dilontarkan. Proses pencapresan sendiri masih sangat awal. Tingkat partai pun belum. Hanya saja, memang. Incumbent biasanya otomatis dicapreskan oleh partainya. Republik.

Tentu Trump langsung naik pitam. Koran itu dia ramal akan ditinggalkan pembacanya. Dan akan mati sebelum ia menyelesaikan masa jabatan kedua nanti.

Selama ini musuh utama Trump adalah koran-koran daerah. Yang mutunya internasional. Seperti New York Times. Atau Washington Post. Kini bertambah dengan koran nasional seperti USA Today.

Dalam sejarahnya memang pernah sekali USA Today bersikap. Tapi hanya untuk pemilihan gubernur. Di negara bagian Louisiana. Tahun 1999. Ketika ada calon gubernur yang pro KKK, Ku Klux Klan. Namanya David Duke.

USA Today berbuat seperti yang dilakukan terhadap Trump sekarang ini.

Dan Duke memang kalah di pilgub itu.

Duke memang selalu kalah. Di pemilihan apa saja. Ikut Capres lewat Demokrat kalah sebelum maju. Ikut Capres partai Republik juga kalah di babak sangat awal. Ikut Pileg untuk Dapil di Louisiana juga kalah. Ikut pileg DPD di Louisiana juga kalah.

Satu-satunya yang pernah menang hanya saat pemilihan anggota DPRD di Louisiana. Itu pun untuk pemilu sela. Menggantikan anggota DPRD yang berhenti. Itu pun harus dua putaran. Itu pun hanya dapat 8.469 suara.

Sejak mahasiswa Duke sudah ekstrim. Mendirikan banyak organisasi mahasiswa radikal. Kata-katanya, pidatonya, tindakannya memberikan kesan seperti Trump sekarang. Sejak mahasiswa Duke sudah anti kulit hitam, anti Yahudi, memuja keunggulan kulit putih. Duke juga menganggap holocaust itu hanya mitos. Tidak benar-benar ada.

Di universitasnya di Tusla Duke sering mengenakan pakaian kebesaran Hitler. Juga biasa mengadakan perayaan di tanggal kelahiran Hitler.

Tentu Duke mendukung Trump di Pilpres yang lalu. Hampir semua pemikiran dan tindakan Duke sama dengan Trump. Kecuali bahwa Trump sangat pro Israel.

Tentu ada perbedaan yang lain: Duke tinggi, ramping, dengan wajah yang ganteng, hidung yang sempurna, rambut yang pirang gelap.

Pokoknya Duke itu seperti bintang film. Sedang Trump seperti itu.

Sisa kegantengannya Duke itu masih terlihat di umurnya yang 68 tahun sekarang. Dengan status duda dua anak.

Membaca USA Today kemarin saya ingat ramalan Jucelino. Peramal terkemuka Brazil. Yang pernah meramalkan serangan 9/11, tsunami Aceh dan kematian Michael Jackson.

Dalam ramalannya yang saya baca kemarin, Professor Jucelino Nobrega da Luz, menulis Trump tidak akan terpilih lagi.

Orang Tiongkok mungkin senang dengan ramalan itu. Tapi orang Hongkong sejak minggu lalu gemes padanya.

Kenapa? Jucelino meramalkan Hongkong akan diguncang gempa 7 skala richter Kamis hari ini.

Padahal Hongkong seumur hidup tidak pernah terkena gempa besar. Hari ini orang Hongkong ada yang gamang: jangan-jangan ramalan Julecino lima tahun lalu itu benar.

Saya sendiri hanya bisa meramalkan: nanti sore buka puasa untuk Jakarta tetap jam 16.57 WIB.

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

KPK Sita Rp106,3 Miliar dari OTT BPN, Uang Disimpan di Rumah Tangan Kanan Nusron

Selasa, 15 September 2026 | 20:26

Bapera Hormati Proses Hukum Fahd A Rafiq

Selasa, 15 September 2026 | 20:24

Homecoming Festival IKA Unpad 2026 Jahit Harmoni Lintas Generasi

Selasa, 15 September 2026 | 20:11

BNI-Pajakind Integrasikan Layanan Perbankan-Perpajakan Digital untuk UMKM

Selasa, 15 September 2026 | 20:06

Ini Identitas 19 Orang Terjaring OTT KPK di Kasus Kementerian ATR/BPN

Selasa, 15 September 2026 | 20:06

KPK Tahan 8 Tersangka Kasus Suap ATR/BPN, Tangan Kanan Nusron hingga Bos Summarecon

Selasa, 15 September 2026 | 19:58

UOB: Indonesia Punya Tameng Hadapi Guncangan Global, Apa Itu?

Selasa, 15 September 2026 | 19:37

KUHP-KUHAP Baru Perkuat Peran Advokat Dampingi Klien

Selasa, 15 September 2026 | 19:28

Purbaya Terlempar dari Kabinet Diduga Gegara Whoosh

Selasa, 15 September 2026 | 19:17

Pejabat ATR/BPN Terjaring OTT KPK, Wamen Ossy Minta Publik Tak Berspekulasi

Selasa, 15 September 2026 | 19:01

Selengkapnya