Berita

Oprah Winfrey/Net

Dunia

Pidato Oprah Winfrey Di Golden Globes 2018 Layaknya Kandidat Presiden AS

SELASA, 09 JANUARI 2018 | 07:28 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Selama pembukaan program Golden Globe Awards 2018 akhir pekan kemarin, pembawa acara Seth Meyers bermain-main dengan gagasan tentang kemungkinan Oprah Winfrey maju sebagai kandidat presiden.

Dalam kesempatan yang sama, ketika Oprah naik ke atas panggung, dia memberikan pidato yang menarik perhatian. Pasalnya, sang ratu talk show Amerika Serikat itu menyampaikan pidato serius bak kandidat presiden di panggung kampanye.

Oprah membuka pidatonya pada hari Minggu malam (7/1) dengan mengingat seperti apa rasanya ketika dia masih kecil, menyaksikan orang kulit hitam pertama memenangkan Academy Award yang bergengsi.


"Pada tahun 1964, saya adalah seorang gadis kecil yang sedang duduk di lantai dasar rumah ibu saya di Milwaukee, menyaksikan Anne Bancroft mempresentasikan Oscar untuk aktor terbaik di Academy Awards ke-36. Dia membuka amplop itu dan mengatakan lima kata yang benar-benar menghasilkan sejarah, yakni: 'Pemenangnya adalah Sidney Poitier'," kata Oprah.

Oprah melanjutkan pidatonya dengan menceritakan kisah Recy Taylor, yang diculik dan diperkosa oleh enam orang kulit putih pada tahun 1944.

"Recy Taylor meninggal 10 hari yang lalu, dan hanya merasa malu dengan ulang tahunnya yang ke-98. Dia hidup, seperti yang kita semua telah hidup bertahun-tahun dalam budaya yang dipecah oleh orang-orang yang sangat brutal. Dan terlalu lama, wanita belum pernah didengar atau dipercaya jika mereka berani mengatakan kebenaran mereka kepada kekuatan orang-orang itu, tapi waktu mereka sudah habis," kata Oprah.

"Saya ingin semua gadis menonton di sini dan sekarang tahu bahwa hari baru ada di cakrawala. Dan ketika hari baru itu akhirnya fajar, akan terjadi karena banyak wanita yang luar biasa, banyak di antaranya berada di sini di ruangan ini malam ini, dan beberapa orang cantik fenomenal, berjuang keras untuk memastikan bahwa mereka menjadi pemimpin yang membawa kita ke masa di mana tidak ada orang yang mengatakan, 'Aku juga' lagi," sambungnya.

Wartawan BBC Amerika Utara, Anthony Zurcher menganalisa sejumlah elemen dalam pidato Oprah yang dinilainya tak ubahnya pidato kandidat presiden Amerika Serikat.

Pertama
adalah adanya sentuhan pribadi. Hal itu tampak ketika Oprah membuka pidatonya dengan mengingat masa kecilnya ketika dia menyaksikan orang kulit hitam pertama meraih penghargaan bergengsi.

Anthony Zurcher menulis bahwa keaslian isi pidato serta narasi yang berakar pada hal "sederhana" merupakan pokok dari banyak politisi ulung Amerika Serikat. Hal itu adalah cara untuk mendasarkan kandidat (presiden) dengan warga Amerika Serikat lainnya dan mampu membuat mereka yang mendengarnya merasa bahwa mereka memiliki masa kecil yang sama sederhananya.

Kedua
, setiap pernyataannya memiliki makna dan tujuan. Dalam pidatonya, Oprah juga menyinggung mengenai kebebasan pers dan memperluas pesannya dengan memasukkan wanita dari semua lapisan masyarakat, baik pekerja rumah tangga, buruh tani, pekerja pabrik, dokter dan tentara yang telah mengalami pelecehan selama bertahun-tahun. Oprah dinilai memposisikan dirinya sebagai suara gerakan.

Oprah dinilai berbicara mengenai fakta dan masalah yang terjadi. Dia berbicara dengan kebenaran. Menurut Anthony Zurcher, kebenaran terhadap kekuasaan bukanlah tema baru dalam politik Amerika Serikat, namun hal itu sangat efektif.

Ketiga
, menggunakan anekdot menarik. Hal itu tampak ketika Oprah sempar fokus menyinggung soal kisah Recy Taylor. Teknik berpidato semacam itu, masih menurut Anthony Zurcher, juga dilakukan oleh Ronald Reagan, selama pidato kenegaraannya pada tahun 1980an. Pada saat itu, Reagan berinovasi dengan penggunaan pahlawan pribadi untuk menggambarkan poinnya.

Keempat
, adanya seruan untuk bertindak. Hal ini terlihat dari cara Oprah mengatakan bahwa dia ingin semua gadis menonton tahu bahwa hari baru ada di cakrawala. Dan ketika hari baru itu akhirnya fajar, akan terjadi karena banyak wanita yang luar biasa.

Dan perlu ditekankan, setiap kampanye selalu membutuhkan slogan yang bisa menjadi ciri khas dan diingat masyarakat. Oprah, dalam pidato tersebut dinilai telah memenuhi hal itu dengan kalimat bak slogan, "hari baru di cakrawala". [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya