Berita

Foto: AFP/Getty Images

Jaya Suprana

Huru Hara Detroit 1967

MINGGU, 06 AGUSTUS 2017 | 08:04 WIB

JIKA warga kota Jakarta ingin namun tidak pernah bisa melupakan apa yang terjadi pada bulan Mei 1998 maka warga kota Detroit tidak bisa meski sebenarnya ingin melupakan apa yang terjadi pada bulan Juli 1967.

Lima puluh tahun kemudian huru hara paling parah dalam sejarah Amerika Serikat diperingati di kota yang pernah dibanggakan sebagai pusat industri mobil Amerika Serikat.

Huru Hara Detroit
Selama lima hari dimulai pada tanggal 23 Juli 1967 telah terjadi penjarahan, pembakaran serta pembinasaan sesama manusia oleh manusia di kota Detroit akibat polisi menutup rantai lokasi perjudian serta pemabukan ilegal.

Selama lima hari dimulai pada tanggal 23 Juli 1967 telah terjadi penjarahan, pembakaran serta pembinasaan sesama manusia oleh manusia di kota Detroit akibat polisi menutup rantai lokasi perjudian serta pemabukan ilegal.

Sejak huru hara Juli 1967, kota Detroit mengalami kemerosotan berkelanjutan sampai akhirnya kebangkrutan resmi pada tahun 2013. 50 tahun huru hara Detroit diperingati dengan slogan “Looking back to move forward” (Melihat mundur ke masa lalu demi melangkah maju ke masa depan ) oleh lebih dari 100 lembaga termasuk Charles H. Wright Museum of African American History dan The Detroit Institute of Art dengan menerbitkan buku, menyelenggarakan pameran, sarasehan serta pergelaran konser.

Bahkan pada tanggal 25 Juli 2017, Hollywood pindah ke Detroit untuk menyelenggarakan pergelaran perdana karpet merah sebuah film berjudul “Detroit”. Film tersebut mendramatisir suatu titik peristiwa huru-hara Juli 1967 yang terjadi di Motel “Algier” di Woodward Avenue, sekelompok anak muda berkulit hitam bersam dua perempuan kulit putih ditangkap kemudian disiksa sampai binasa oleh polisi Detroit yang pada masa 50 tahun yang lalu mayoritas kulit putih.

Penanyangan perdana film  “Detroit” gegap gempita disambut oleh ribuan penonton berbusana tahun 90an abad XX terutama ketika sejarahwan Detroit, Michael Eric Dyson memperkenalkan sang sutradara pemenang dua piala Oscar, Kathryn Bigelow sebagai “a white woman cleaning up the mess made white people made” .

Masa Kini
Huru hara Detroit Juli 1967 menelan 43 korban nyawa , memenjarakan lebih dari 7000 orang serta menghanguskan ribuan gedung tanpa asuransi .

Yang dianggap pemicu huru hara Juli 1967 adalah kepolisian Detroit yang gemar menganiaya bahkan membunuh warga kulit hitam yang hidup dalam kondisi serba kumuh di bawah garis kemiskinan akibat krisis industri otomotif yang menyebabkan pengangguran akibat mobil buatan Amerika Serikat tidak mampu bersaing melawan mobil buatan Jerman dan Jepang yang dikalahkan Amerika Serikat pada Perang Dunia II.  

Pada lingkup waktu tahun 1953 sampai dengan 1960, tidak kurang dari sepuluh pabrik mobil serta nyaris delapan puluh ribu industri pendukung produksi mobil jatuh bangkrut memicu bencana pengangguran luar biasa dahsyat yang membusukkan kota Detroit.

Makin memprihatinkan bahwa kondisi kehidupan warga kulit hitam di Detroit pada masa kini malah lebih buruk ketimbang tahun 1967. Semula 'hanya' 19 persen warga Detroit hidup di bawah garis kemiskinan namun kini malah meningkat menjadi 40 persen.

Pemukiman warga kulit putih masih segregatif terpisah dari pemukiman warga kulit hitam. Detroit kini diberi julukan Zombieland akibat  banyak bangunan bahkan rumah kosong melompong terbengkalai tanpa ada penghuni dengan alasan keamanan dan keselamatan hidup.  

Angka statistik kekerasan serta pengangguran terus meningkat. Namun hubungan kepolisian dengan warga kulit hitam di Detroit kini relatif membaik sebab kini kota Detroit dengan 80 persen warga kulit hitam memiliki angkatan kepolisian dengan 58 persen berkulit hitam.

Kapolda Detroit mewajibkan seluruh anggota kepolisian Detroit untuk menonton film “Detroit” seperti dahulu rezim Orba mewajibkan seluruh warga Indonesia menonton film 'Pengkhianatan G30S PKI'.[***]

Penulis Adalah Pembelajar Sejarah Peradaban Manusia


Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

KPK Sita Rp106,3 Miliar dari OTT BPN, Uang Disimpan di Rumah Tangan Kanan Nusron

Selasa, 15 September 2026 | 20:26

Bapera Hormati Proses Hukum Fahd A Rafiq

Selasa, 15 September 2026 | 20:24

Homecoming Festival IKA Unpad 2026 Jahit Harmoni Lintas Generasi

Selasa, 15 September 2026 | 20:11

BNI-Pajakind Integrasikan Layanan Perbankan-Perpajakan Digital untuk UMKM

Selasa, 15 September 2026 | 20:06

Ini Identitas 19 Orang Terjaring OTT KPK di Kasus Kementerian ATR/BPN

Selasa, 15 September 2026 | 20:06

KPK Tahan 8 Tersangka Kasus Suap ATR/BPN, Tangan Kanan Nusron hingga Bos Summarecon

Selasa, 15 September 2026 | 19:58

UOB: Indonesia Punya Tameng Hadapi Guncangan Global, Apa Itu?

Selasa, 15 September 2026 | 19:37

KUHP-KUHAP Baru Perkuat Peran Advokat Dampingi Klien

Selasa, 15 September 2026 | 19:28

Purbaya Terlempar dari Kabinet Diduga Gegara Whoosh

Selasa, 15 September 2026 | 19:17

Pejabat ATR/BPN Terjaring OTT KPK, Wamen Ossy Minta Publik Tak Berspekulasi

Selasa, 15 September 2026 | 19:01

Selengkapnya